Tuesday, July 24, 2012

Bulan Puasa, Bulan Euforia


    Ada yang aneh dengan umat muslim di negeri ini. Setiap bulan Ramadhan tiba selalu disambut dengan euforia. Sebenarnya sih tak ada yang salah dengan euforia. Ramadhan adalah bulan penuh berkah, maka barangsiapa yang merasa sebagai muslim, sudah selayaknya menyambut gembira kedatangannya. Inilah bulan euforia, bulan kegembiraan, senang dan bahagia jasmani rohani.

   Tapi euforia kebablasan, itu tak baik juga, malah bisa dikatakan berbahaya! Tradisi dan budaya menggusur nilai-nilai agama. Faktanya, efek dan imbas ritual keagamaan, masih sangat kontradiktif dan kontraproduktif dengan esensi ajaran agama sendiri. Inilah salah satu ‘kehebatan’ bangsa ini. Ambivalensi. Standar ganda. Mau dibawa ke mana agama kita? Semua tergantung dari keinginan kita.

    Datang bulan suci, harga-harga sembako membumbung tinggi, berujung inflasi. Bagaimana rumusnya, sedang puasa adalah sarana pelatihan jiwa menahan diri, khususnya syahwat perut dengan berlapar-lapar dahaga. Orang yang hendak berpuasa, seakan hendak melakukan musafir, siapkan bekal makanan sebanyak-banyaknya. Lalau bagaimana esensi tujuan “menahan diri” itu tercapai?

  Datang bulan suci, kompetisi harta makin menjadi. Menyambut lebaran idul fitri, semua berlomba menawarkan dagangan. Sudah menjadi hal yang lumrah, puasa dan lebaran adalah kesempatan untuk mengumpulkan uang, sebab di bulan-bulan ini daya beli meningkat tajam. Bukan hanya bisnis makanan, tapi juga transportasi, pakaian, dan hampir semua sektor pasti mengalami lonjakan. Konsumerisme-konsumtifisme. Pola hidup bermegah-megah dan bermewah-mewah. Kontraproduktif dengan spirit puasa yang seharusnya menjadi sarana pelatihan “hidup sederhana.”

    Dan yang paling ‘misterius,’ bagaimana ceritanya puasa sambil korupsi? PJKA hidup lagi. Puasa Jalan, Korupsi Aman. Sepertinya belum ada data statistik yang menunjukkan penurunan angka korupsi mengalami penurunan selama bulan suci. Mungkin karena wajibnya puasa itu hanya di siang hari, maka kalau mau korupsi harus pintar-pintar lihat jadwal, malam hari. Jadi puasa tetap sah, korupsi juga ‘sah.’ Kalau Tuhan saja sudah ‘diakal-akali,’ bagaimana dengan manusia?

    Bulan puasa memang bulan euforia. Semua bergembira, sebab pintu surga lebar-lebar terbuka, dan setan-setan terbelenggu. Tapi bagaimana bisa bila setan-setan terbelenggu, nyatanya kejahatan masih marak di bulan ramadhan, apalagi menjelang ramadhan? Ternyata manusianya sendiri yang telah bermutasi menjadi setan. Setan berwujud manusia, ini yang paling sulit ditangani. Sumber segala sumber permasalahan.

    Keberagamaan kita memang keberagamaan euforia. Hanya sekadar pesta-fiesta hura-hura. Kesalehan ritual-seremonial sakral tidak selaras dengan kesalehan sosial-komunal. Maka tidak perlu heran, bila orang saleh (ritual) belum jaminan untuk tidak terlibat kejahatan. Bukti hangat, korupsi pengadaan Qur’an di Depag. Malah ada sebagian yang meyakini, sepanjang sejarahnya justru Depag adalah lembaga terkorup di negeri ini. Kontradiktif, kontraindikatif, kontraproduktif. Tamparan terpanas bagi umat beragama!

   Mestinya seluruh fenomena ini dijadikan bahan refleksi bersama, sejauh manakah keberagamaan kita. Kita perlu introspeksi-muhasabah massal-nasional. Kita mesti membuka kesadaran dan pengakuan, bahwa agama (Islam) telah gagal menjawab ragam problem umat-bangsa. Bukan agamanya yang gagal, tapi pemeluk agamanya, manusia di belaknag agama. Sebab agama adalah “agem-ageman utama” (pakaian yang utama). Pakaian terbaik pun tak akan memberi hasil apa-apa jika tidak dikenakan dengan benar, sama saja seperti kita bertelanjang.

     Begitu banyak ‘alim-‘ulama di negeri ini, namun begitu besar kegagalan transformasi nilai-nilai otentik ajaran agama ke tengah umat. Apalagi kini lembaga pendidikan kegamaan juga sudah banyak yang tak steril dari industri kebendaan-materi. ‘Ruh’ agama meredup dan semakin redup, kadang nyala kadang hidup. Membludaknya jama’ah haji ke tanah suci Mekkah, kita adalah negara berkuota haji terbesar di dunia. Namun nilai-nilai dan filosofi ibadah haji sebagai puncak tertinggi dari keiman-islaman seseorang belum mentransformasi untuk mensucikan ‘najis-najis’ negeri.

     Bulan suci sepanjang Ramadhan ini cukup digunakan untuk mengembalikan esensi agama, pakaian utama jiwa kita. Sehingga ada keselarasan antara lahir-batin, fisik-mental, material-spiritual, kesalehan ritual-kesalehan sosial. Jika bulan puasa tidak memperbaiki apa-apa, maka bertahun-tahun selama ini kita berpuasa, hanyalah mendapat lapar dan dahaga. Janganlah terlalu banyak berharap pada surga di akhirat, sedang di dunia bumi Indonesia saja, surga itu sudah nyaris laksana neraka.

Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment