Wednesday, June 13, 2012

Waspada, G 3-0: PKI Masih Ada


      Bisakah kita bayangkan apa yang akan kita lakukan jika berada dalam 3 keadaan: kosong perut (lapar), kosong kantong (bokek) plus kosong iman (lupa ajaran agama)? Mencuri? Menjambret? Merampok? Bolehkah bila dikatakan bahwa gejala 3 kekosongan, perut, kantong dan iman adalah sumber utama pemicu tindak kejahatan? Itulah G 3-0: PKI (baca: Gejala kosong: Perut-Kantong-Iman), bukan G 30 S/PKI (Gerakan 30 September/ Partai Komunis Indonesia), meski keduanya ada keterkaitan yang signifikan.


     Gejala kosong perut (lapar) adalah indikasi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar (desakan ekonomi), kosong kantong adalah indikasi kemiskinan, rendahnya daya beli (ketidak berdayaan ekonomi), sedang kosong iman adalah hilangnya pegangan pada nilai-nilai dan norma-norma agama. Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sumber pemicu utama dari persoalan melanda negeri ini tak lepas dari gejala trio kekosongan ini. Bahkan alur cerita G 30 S/PKI bila diurai akan nampak memiliki benang merah yang sama dengan G 3-0: PKI.

     Pasca merdeka bangsa kita (baca: rakyat) memang berkutat dengan rasa lapar (desakan pemenuhan kebutuhan dasar-khususnya pangan) dan kemiskinan/paceklik ekonomi (kondisi pada saat itu energi lebih tersita untuk konsolidasi nasional dan pengakuan kedaulatan, ‘berperang’ melawan musuh-musuh internal dan eksternal). Perang dingin dua ideologi dunia kapitalis ala Amerika Serikat versus komunis ala Uni Soviet (sekarang Rusia) lebih dominan dalam ‘menggambar’ motif sejarah perjalanan republik ini di masa-masa belia kelahirannya.

     Kesuksesan paham komunis dengan tampilnya PKI sebagai 4 besar pada Pemilu 1955 bersama PNI, Mayumi dan NU, lebih sebagai faktor kebetulan ketimbang faktor ideologis dikarenakan ketepatan momentum. Dengan mengusung slogan “sama-rata sama-rasa” sebagai manifestasi ekonomi kerakyatan-keadilan sosial plus keberpihakan pada kaum lemah (buruh-petani-nelayan) membawa partai ‘palu-arit’ itu tiba sebagai ulam yang dicinta pucuk

     Agama (Islam) telah memberi warning; “Kefakiran dekat kepada kekufuran,” menjadi jawaban logis bagaimana ideologi marxisme yang nota bene atheis bisa masuk dengan leluasa kejantung hati rakyat-umat lemah-dlu’afa. Bisa juga ‘fenomena’ itu menjadi suatu indikasi bahwa keberagamaan (keislaman) umat-masyarakat Indonesia masih eksklusif (hanya milik kaum santri) dan belum mendarah daging (kaffah) di kalangan masyarakat umum (awwam), meski dalam sejarah, Islam telah dikenal nusantara sejak adab ke-12 (sebagian mengatakan abad ke-7).

     Jika G 30 S/PKI sebagai sebuah gerakan politik bisa dikatakan telah ‘mati’, maka G 3-0: PKI sampai detik ini tetap menjadi bahaya laten yang berpotensi menimbulkan kerusakan sistemik dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari perspektif filosofis-psikologis, faktor P pada kekosongan perut menjadi simbol dari nafsu-syahwat mendasar manusia yang tidak terbatas pada perihal pangan (materi) semata.

     Meski angka kemiskinan di negeri ini di lansir masih berada pada tingkat yang memprihatinkan, namun secara umum jika hanya untuk kebutuhan dasar pangan sudah jauh lebih baik dari era pra ’65, hasil perjuangan orde baru masa pak Harto (masih terlepas dari pro-kontra sepak terjang politik Sang Jendral Bintang Lima), namun kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa pada masanya Indonesia pernah mencapai swasembada pangan, suatu prestasi luar biasa yang belum pernah bisa dicapai pemimpin pengganti beliau bahkan di era reformasi sekalipun. Hingga kadang kita bisa sedikit mafhum jika masih terasa sepoi-sepoi berhembus angin kerinduan rakyat kecil pada Soehartoisme, khususnya ketika membandingkan stabilitas keamanan, ketahanan pangan dan daya beli masyarakat ‘hari ini’ dengan ‘hari itu’.

     Mengacu pada berbagai kasus kejahatan yang makin ‘menggila’ akhir-akhir ini, Faktor P dari G 3-0: PKI, akan lebih pas dibaca sebagai nafsu-syahwat manusia yang selalu ‘merasa’ kelaparan, sehingga lahir monster-monster koruptor yang buas nggragas tak kenal puas. Efek domino dari faktor P melahirkan faktor K, kosong kantong (kemiskinan psikologis), seseorang  tak pernah merasa (cukup) kaya seberapapun pundi-pundi uang dan harta berhasil diraupnya. Kembali soal momentum ‘kebetulan,’ kapitalisme yang abad ini mencapai puncak ke’digdaya’annya melahirkan budaya hedonisme, pola hidup konsumerisme-hiper konsumtif, tradisi gemar pesta ala borjuis-bangsawan-raja dan ‘hip-hip hura-hura,’ konvoi-pawai-parade di jalan-jalan raya dengan konsekuensi biaya tinggi. “Nafsu besar tenaga kurang, gemar berhutang, marak budaya kemplang-mengemplang Tuhan urusan belakangan” memang sudah zaman edan, yang ndak ikut ngedan ndak keduman. Faktor I menjadi pelengkap, kosongnya iman dari dalam hati.

     Kalau sudah begini, mana pemicu mana efek sudah tak jelas lagi. Yang pasti jika salah satu faktornya dibiarkan ‘kosong’, maka akan berpotensi ‘mengosongkan’ kedua faktor lainnya. Seperti pepatah klasik, “Telur dan ayam, mana duluan?”, kalaulah boleh dijawab, telur ‘lahir’ dari ayam. Bisa faktor P (kosongPerut-nafsu syahwat) melahirkan faktor K (kosong Kantong-selalu merasa kekurangan) dan faktor I (kosongIman-kekufuran-kemunafikan). Atau lebih tepat dilihat dari perspektif agama, faktor I sebagai melahirkan faktor P dan K. Bila iman sudah tiada, maka manusia tak pernah bisa mengendalikan nafsu-syahwatlaparnya dan otomatis juga akan selalu merasa kekurangan harta. 

     Faktanya, koruptor kelas kakap yang bikin KPK kalang kabut dan menggasak prosentase terbesar uang negara (baca: uang rakyat) bukanlah mereka yang kurang makan dan dan kurang kaya. Korupsi yang merupakan salah satu dari 3 kejahatan besar di negeri ini disamping terorisme dan narkoba, justru dilakukan oleh orang-orang kuat, berharta dan berkuasa, dan yang pasti, 'berilmu tinggi' (intelek). Sedang untuk meng-intelek-kan diri saja butuh biaya yang jelas tidak mungkin terjangkau oleh orang miskin. Salahkah bila dikatakan bahwa kejahatan besar lebih disebabkan oleh G3-0: PKI, secara filosofis-psikologis?

     Tanpa mengurangi pentingnya pemerintah membangun perekonomian bangsa dengan pengisian kekosongan faktor P lewat program pemenuhan kebutuhan dasar pangan-sandang-papan rakyat, pengisian kekosongan faktor K lewat program peningkatan daya beli dengan penyediaan lapangan kerja, peciptaan iklim usaha kondusif dan pengendalian harga kebutuhan pokok, namun pengisian kekosongan faktor I tetap harus dijadikan pijakan strategis keduanya, sebagai ‘ruh-spirit’ pencapaian sebuah tujuan. Tanpa melibatkan faktor iman (agama), proses ‘pengisian perut’ dan ‘penebalan kantong’ tidak akan pernah efektif mencapai sasaran.

     Sekiranya tidak berkesan terlalu menyederhanakan masalah, ada formula three in one untuk menghancurkan gejala three in one. Trio kejahatan terbesar negeri ini, korupsi, terorisme dan narkoba hanya bisa dihancurkan dengan trio pesan Nabi yang masyhur tentang 3 ciri orang munafik, dusta berbicara, ingkar janji dan khianati amanat. Mungkin saja akan ada sejuta alasan untuk kita menyanggah bahwa itulah solusi mendasarnya, tapi jika setiap dari kita, manusia Indonesia ber-jihad akbar memeranginafsu-syahwat untuk belajar jujur berbicara, tepati janji dan tunaikan amanat, masih bisakah kejahatan di negeri ini berkembang leluasa dan merajalela...???

Salam...
El Jeffry





No comments:

Post a Comment