Sunday, June 10, 2012

Syahwat Nekolim Vs Jiwa (Bangsa) Merdeka



Bicara tentang kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme yang selama ini dituding sebagai ‘monster’ biang keladi dari keterpurukan negeri ini adalah bicara tentang tiran-penjajahan sebagai kodrat alam, sunnatullah,  keniscayaan zaman yang mustahil terelakkan. Tiran-penjajahan dalam segala bentuk dan istilahnya, termasuk di dalamnya ideologi adalah ‘belenggu-belenggu’ kemerdekaan manusia dan kemanusiaan yang telah, tengah dan akan selalu ada selama masih bercokol makhluk bernama manusia di belahan bumi manapun berada.

Sejarah mengajarkan, tiran-penjajahan adalah siklus abadi yang tak pernah lenyap sepanjang peradaban dari muka bumi. Ketika sebuah kaum-bangsa berhasil meraih kemerdekaan setelah tertindas oleh tiran-penjajahan, maka dalam fase selanjutnya seiring dengan menguatnya posisi, ia akan bertukar posisi menjadi tiran-penjajah dengan ‘membalas dendam’ kepada mantan musuhnya, atau mencari korban baru untuk melampiaskan gejolak syahwat ke’perkasaan’nya. 

Eropa pada abad pertengahan lolos dari dari zaman kegelapan, pencerahan membuka mata selebar-lebarnya, kebebasan didapatkan, ilmu-pengetahuan berkembang, teknologi ditemukan, revolusi industri, ‘kurcaci’ secara revolusioner berubah menjadi ‘raksasa’. Masih beruntung bagi Eropa, sebab ‘syahwat keperkasaan’ tidak dilampiaskan di kampung halaman, melainkan mencari dunia baru dalam era penjelajahan samudera. Asia dan Afrika yang ibarat gadis manis usia belia nan menggoda ‘digerayangi’ habis-habisan bergiliran, masih lebih beruntung dibanding Amerika yang mutlak di’renggut’ dengan menggeser ‘kedaulatan’ bangsa pribumi, atau Australia yang juga ‘berpindah hak milik’ lewat transisi sebagai ‘tempat jin buang anak,’ tanah buangan ‘preman-preman’ bangsa Eropa.

Kedigdayaan membawa bangsa Eropa segera bermutasi menjadi ‘hantu’ peradaban, maka imperialisme dan kolonialisme tiba-tiba menjadi ‘teror’ kegelapan bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Pencerahan di satu sisi, ‘penggelapan’ di sisi lain. Seperti pertarungan cahaya dan kegelapan di dua sisi mata uang logam, keduanya selalu ada dan saling membutuhkan, tapi tak pernah bertemu pada satu bidang. Penjajahan ideologi, kapitalisme, liberalisme, termasuk komunisme-sosialisme mesti dipahami sebagai alur sejarah naluri manusia, bahwa setiap jiwa punya tabiat yang sama, setiap orang cenderung untuk mendominasi orang lain. Manusia adalah makhluk pedagang. Setiap manusia berusaha agar produknya dibeli oleh dunia, termasuk diantaranya adalah gagasan, pemikiran, keyakinan, dan ideologi. Ia harus terjual, secara suka rela atau terpaksa.

Tiran-penjajahan, imperialisme, kolonialisme, kapitalisme atau isme-isme yang lain hanya dapat dihancurkan dengan memperjuangkan kemandirian, berdikari, melepaskan diri dari belenggu-belenggu jiwa, seperti yang selalu digembar-gemborkan pemimpin bangsa ini sampai ‘meniren’ pada masa-masa awal pasca merdeka. Membangun bangsa mandiri, berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Di situlah baru akan diraih hakikat makna dari kemerdekaan sesungguhnya. Bung Karno meninggalkan sesirat pesan,“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah (baca: bangsa asing), tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Ketika tiran-penjajahan telah dipahami sebagai tabiat jiwa manusia, maka dapat dipahami pula bahwa semua manusia punya potensi untuk menjadi tiran-penjajah. Setiap jiwa berpotensi menjadi penjajah, imperialis, kolonialis, dan kapitalis, termasuk menjadi antek-antek nekolim, budak-budak kapitalis, kepanjangan tangan-boneka-wayang dari otak-dalang nekolim-kapitalis sesungguhnya. Pengalaman sejarah hampir tujuh dekade bangsa ini belum juga sanggup menyuguhkan ‘hakikat kemerdekaan’ bagi rakyat, hanya siklus tiran bersambung lingkaran rantai antar generasi, mestinya 'memaksa' semua untuk belajar cerdas membongkar akar benalu penjajah di pohon sejarah  dengan masuk ke wilayah terdalam sumber petaka peradaban manusia dan kemanusiaan, jiwa manusia itu sendiri.

Sebuah bangsa ada dari sekumpulan manusia. Bicara tentang Indonesia adalah bicara tentang lebih dari 240 juta jiwa. Satu bangsa bisa dianalogikan sebagai satu tubuh. Maka ia bekerja dalam mekanisme yang sama sebagai sebuah sistem. Ketika bangsa ini sudah bersepakat untuk memilih ‘manhaj’ sistem demokrasi-republik sebagai ‘ruh absolut negara’ di mana setiap jiwa berperan berdaulat-berkuasa, maka ‘hidup-mati’ bangsa tergantung dari ‘hidup-mati’nya setiap jiwa yang ada, tanpa kecuali. 

Berbeda dengan monarki yang memposisikan satu jiwa seorang ‘raja’ sebagai ‘nyawa’ negara dan rakyat adalah jasadnya, maka demos-cratein res-publica memposisikan seluruh rakyat (baca: jiwa) adalah ‘nyawa’ sekaligus ‘jasad’ negara. Publik adalah rakyat. Rakyat adalah raja. Raja adalah ‘Tuhan’. Tuhan ada dalam jiwacratein-publica. Suara rakyat, suara raja, dan suara Tuhan berada dalam satu garis lurus yang saling berkaitan. Uomo universale, humanisme universal, kemanusiaan manunggal. Satu dalam keragaman. Ragam dalam kesatuan. Bhinneka Tunggal Ika. Tunggal Ika Bhinneka. Nilai-nilai mistis-filosofis universal panca-tunggal Garuda Pancasila.

Seseorang pernah berkata, “Jika ingin merevolusi peradaban sebuah bangsa, maka revolusilah jiwa-jiwa manusianya, maka dengan sendirinya peradaban bangsa akan berubah secara revolusioner. “ Demokrasi-republik telah menempatkan setiap jiwa yang ada sebagai raja sekaligus ‘Tuhan’ bagi dirinya. Sebaris firman yang masyhur, “Sesungguhnya Tuhan tidak merubah nasib sebuah bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri. “ Setiap jiwa punya hak dan tanggung jawab yang sama untuk menentukan nasib dan masa depan bangsa, sebagaimana setiap jiwa berhak dan bertanggung jawab memerdekakan jiwanya dari tiran-penjajahan tabiat-syahwat kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme.

Empat belas abad silam seorang pemimpin revolusioner-visioner terbaik dunia sekaligus nabi besar, Muhammad saw telah berpesan agar manusia senantiasa memohon perlindungan dari 8 belenggu jiwa  yang mengancam kemerdekaan manusia selama hidup di dunia:


“ Ya Allah, sungguh, aku berlindung kepada Engkau dari kegelisahan dan kesedihan, aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada Engkau dari kepengecutan dan dan kekikiran, dan aku berlindung kepada Engkau dari jeratan hutang dan penindasan (tiran–penjajahan) musuh…”
 ***
Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment