Monday, June 4, 2012

LANGIT MENCATAT


Langit dunia mungkin tak pernah bicara, namun awan-awan putih hitam kelabu silih berganti merah, jingga atau biru, pelangi dan burung-burung terbang menyatu tak ubahnya barisan kalimat panjang, rapi bersusun memenuhi halaman tak bertepi, berlembar-lembar tak terhitung jumlahnya. Kitab alam azali, tertulis semua dalam lembaran yang terjaga, lauh mahfuzh.

Tujuh lapis pelangi, tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh keajaiban dunia, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh rongga utama tubuh manusia, misteri alam semesta tak pernah tersingkap akal manusia. Hitungan-hitungan terus berlangsung, langitpun terus menghitung dan menuliskan apa saja peristiwa yang ada di muka bumi. Langitpun mencatat sambil bertanya, apa yang telah diperbuat manusia ?

Sepotong surga yang jatuh ke bumi, tanah nusantara, zamrud khatulistiwa, ibu pertiwi nan suci dan murni, kini tengah bermuram durja. Ada apa dengan anak-anak negeri putra-putri bangsa? Neraca keseimbangan menghilang, mizan keadilan oleng kiri kanan, amanat dari atas langit terkoyak, compang- camping. Kefakiran di luar perhitungan. Sepertinya ada yang tak terhitung di sini, maka langitpun mencatat, sebab manusia telah mengabaikan catatan dan hitungan. Enggan bermuhasabah, larut dalam kemelut hidup, dunia memang melalaikan. Cermin kehidupan tak terpasang dengan benar, maka biaslah pandangan. 

Bumipun terheran dan bertanya, ada apa denganmu wahai manusia Indonesia? Engkau cium wajahku dalam sujudmu siang malam penuh cinta dan kemesraan. Engkau basahi aku dengan air mata do’a dan kerinduan. Namun siang malam pula kau injak-injak wajahku dengan hentakan kaki kesombongan. Engkau rusak tubuhku dengan beringas, nafas-nafasmu mendengus buas. Engkau basahi pakaianku dengan darah-darah tak berdosa. Engkau jejali aku dengan mayat-mayat tanpa kepala. Ada apa denganmu wahai manusia ? 

Peringatan demi peringatan tak dihiraukan. Muntahan lahar gunung berapi, air bah setiap musim hujan, gelombang tsunami, getaran gempa, puting beliung, gemeretak pepohonan hutan terbakar, banjir lumpur dan lahar dingin, kepulan asap dan jerit tangis orang-orang tertimpa bencana, semua membubung ke langit menuliskan berita. Perhitungan sementara, tapi tidak dengan manusia.

Apa yang dibaca? Huruf-huruf dalam mushaf, lantunan suara merdu dari surau, nyanyian berirama dari gereja, gumam sendu di sudut-sudut pura dan wihara, mantera-mantera berbaur asap dupa, rintihan pilu di kuil-kuil, candi-candi dan tempat-tempat suci lainnya. Apa yang dibaca? Adakah memang telah dibaca ? Kata-kata indah bagai syair, tertegun mata menunduk khusyu’. para penyeru bersuara tak henti- henti menyeru, penyiram ruhani lalu lalang sana-sini, mengucurkan air kesejukan dan kehidupan. 

Tujuh langit, tujuh bumi, tujuh puluh ribu malaikat penjaga, biarlah jadi misteri angka-angka, tak mesti dipertanyakan alasan dan mekanisme kerjanya. Tuhan memang suka bercengkerama tentang angka-angka. Pasti di sana ada hikmah dan perhitungan. Pasti segalanya ada perhitungan. Mungkin itulah cara Dia mengajar agar manusia gemar belajar, berhitung, menimbang, mengukur dan menakar. Menghitung diri, muhasabah.

Tujuh keajaiban alam silih berganti dituliskan, tujuh rongga dalam tubuh manusia mengirim berbaris-baris pesan, bahwa telah dititipkan tujuh isyarat kehidupan. Penyingkapan misterinya mungkin akan mengantarkan jiwa hina menembus tujuh langit, datang kepada Sang Kausa Prima, sebab dari segala sebab alam semesta, Tuhan di atas ‘arasy mulia.

Tujuh rongga, telinga, mulut, hidung, farji dan dubur, amanat besar yang terlanjur dipikul, tangga jalan menghitung diri. Pendengaran, penciuman, pengecapan, pelaminan, pembuangan kotoran, bisa membawa kepada kehinaan serendah-rendahnya, atau kemuliaan setingi-tingginya. Semua tergantung bisakah jiwa merawat, menjaga dan tepat mengarahkannya, atau merusak tujuan keberadaannya, mengabaikan, lalai dan keliru mengarahkannya.


Lidah dan kemaluan, dua rongga utama yang menyelamatkan manusia menuju surga, sekaligus pula membinasakan dalam siksa neraka. Keduanya tergantung kesungguhan menghitung, menimbang, dan meletakkan selurus-lurusnya di atas neraca keadilan. Pemenuhan hak keduanya untuk diperlakukan dengan lebih baik dan lebih dekat kepada  benar. Tujuh rongga adalah tujuh keajaiban dunia, bukan di mana-mana, tapi di sini, di tubuh ini.

Derajat sejati, martabat hakiki manusia diukur tak hanya seputar kepala saja, namun sempat tidaknya khazanah pengetahuan mampir ke dalam dada walau beberapa saat, lalu biarkan mengendap di dalam hati walau beberapa saat, sekedar memberi waktu diri untuk menimbang, menghitung, muhasabah, menghidupkan ruhnya di dalam jiwa. 


Teguran gunung, hujan dan laut, angin dan hutan, serta kemarahan alam semoga jadi ilham. Sudah waktunya bagi setiap jiwa melakukan perhitungan sebelum catatan langit dibacakan, ketika barisan malaikat siap menggelar sidang akbar. Di hari itu semua manusia gulung tikar, bangkrut, kecuali mereka yang telah terbiasa menghitung diri, muhasabah dalam hidupnya semasa di dunia, setidaknya di tanah ranah ibu pertiwi bumi Indonesia…***

Salam...
El Jeffry





No comments:

Post a Comment