Saturday, June 2, 2012

Garoeda Sekarat, Pantjasila Menggugat...!!!


Boeroeng garoeda, simbol sakral spirit perjuangan bangsa tinggal sisa-sisa Sedjarah Tempo Doeloe. Prasasti suci di dinding balairung istana raja, ruang rapat hulu balang-para punggawa dan ritual ikrar di lapangan upacara. Tujuh belas pasang  helai bulu sayapnya, mbrodholi, rontok dimakan anomali zaman dan evolusi tradisi. Bagaimana ia terbang berkepak menjelajah bumi pertiwi menginspeksi kondisi para penghuni negeri?

Delapan helai bulu ekornya compang-camping tersambar-sambar badai. Hilang keseimbangan, bagaimana ia bisa mengendalikan arah perjalanan menembus atmosfer kompetisi peradaban? Empat puluh lima bulu lehernya luruh satu persatu, periodik dan kontinyu. Semangat patriotik tajam menukik terbentur tembok waktu. “Merdeka Ataoe Mati!” berganti “Berkuasa Atau Mati!” Ruh Garoeda telah redup, sesaat padam sesaat hidup. Bagaimana ‘api revolusi kemerdekaan’ bisa membakar gelora perjuangan?

Garuda kini tak lagi seperkasa dulu. Lemah lunglai tak berdaya di balik jeruji karantina. Yang ada duplikat belaka, sembilan puluh sembilan koma sembila prosen mirip garoeda, terpajang sebagai prasasti suci di altar balairung istana raja, ruang rapat hulu balang-para punggawa dan ritual ikrar di lapangan upacara.  Tapi orisinilitas sang perkasa telah tiada. Ruhnya telah redup, sesaat padam sesaat hidup.

Burung Garoeda sekarat, perisai di dada mulai berkarat, lubang sana-sini, rantai kalung emas nyaris putus. Warna gambar memudar. Bintang, rantai, beringin, banteng, padi dan kapas, teksturnya tak indah lagi, ornamennya juga tak cerah lagi. Hitam-putih-kelabu, wajah muram-letih-lesu, samar-samar tertutup debu. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan tinggal teks dan slogan-slogan.

Pancasila, pancasila, pancasila. Di mana Pantjasila yang asli? Lima dasar kehidupan berbangsa. Lima pilar kekuatan bernegara. Lima falsafah keramat pengayom umat. Sumber dari segala sumber hukum negara Republik Indonesia. Garoeda sekarat. Pantjasila menggugat. Garoeda Pantjasila sekarat dan menggugat...!!! Amanat proklamasi di ambang batas khianat, mengundang malapetaka tanda-tanya mayoritas rakyat.

Perisai. Perisai itu. Perisai itu tak terawat dan terabaikan bertahun-tahun lamanya. Tanpa tameng sakti, bagaimana bangsa ini akan sanggup menghadang benturan dan serangan musuh, setan- dajjal ideologi dan teknologi? Lafazh “Bhinneka Toenggal Ika” semakin sulit dibaca. Huruf-hurufnya terkelupas dari untaian pita. Ragam dalam satu, satu dalam ragam, kalimat perekat hanya melekat pada teks surat, tapi tak pernah tersirat. Wacana kebersamaan hilang nilai dan makna. Perseteruan, pertengkaran, perkelahian, perebutan harta dan kekuasaan demi kepentingan pribadi, etnis, agama dan golongan.

Garoeda sekarat. Pantjasila menggugat. Akhirnya Garoeda Pantjasila sekarat dan menggugat...!!!  Garoedadan Pantjasila, simbol kejayaan dan kekuatan bangsa, hanya sebatas monumen batu hiasan, gambar-gambar terpajang sebagai prasasti suci di dinding balairung istana raja, ruang rapat hulu balang-para punggawa dan ritual ikrar di lapangan upacara.

Garuda dan pancasila kini menyodorkan doea tanda batja sisa-sisa Sedjarah Tempo Doeloe, titik dan koma. Mengapa titik itu tak jelas letaknya. Adakah semua itu pertanda titik kritis, titik nadir, titik kulminasi atau titik akhir? Ataukah pertanda titik balik, titik terang dan titik titik memanjang berkesinambungan tak berujung, rangkaian perjalanan bangsa yang saling terhubung? Bukankah titik akhir itu seharusnya menghantarkan pesan para pahlawan di ujung tujuan, kesejahteraan kerakyatan berkeadilan?

Koma, tanda nyata roda sejarah tak pernah berhenti berputar. Maka jika lelah tak tertahan, beristirahatlah barang sebentar. Tapi jangan sampai tertidur, atau akan lenyap kewaspadaan. Lalu panik berhamburan ketika musuh menggempur secara tiba-tiba dalam ‘serangan fajar.’ Bangsa ini masih koma, rangkaian kata belum tuntas sebagai kalimat sempurna. Perjalanan masih panjang, teramat-amat-amat banyak yang mesti dikerjakan. Perbaikan, pembenahan, penyempurnaan.

Namun koma juga membuka tanda tanya besar, akankah seperti menanti operasi hidup-mati diruang ICU? Pertaruhan nyawa umat-bangsa -negara, lolos dan melanjutkan perjalanan, ataukah  gagal dan berhenti pada titik akhir. Selesai, kehidupan berakhir. Titik dari segala titik. Kiamat kubro bagi wong cilik. Rakyat kecil yang hidupnya terus tercekik, terjebak dalam doea tanda batja klasik, mampukah bertahan hidup, ataukah mati terhimpit.

Titik dan koma melahirkan doea tanda tanja. Mengapa dan bagaimana? Mengapa semua bisa terjadi? Mengapa anak-anak negeri seakan tak lagi peduli? Mengapa tak nampak lagi nilai-nilai simpati dan empati,gotong-rojongrambate rata hayoholopis kuntul baris, “Bersatoe Kita Tegoeh, Bercerai Kita Roentoeh!?” Ruh garoeda telah redup, sesaat padam sesaat hidup. Ruh Pantjasila telah redup, sesaat padam sesaat hidup. Garoeda sekarat. Pantjasila menggugat. Sudah selayaknya Garoeda Pantjasila sekarat dan menggugat...!!!

Garoeda dan Pantjasila, titik dan koma, mengapa dan bagaimana, semestinya cukup sebagai Peladjaran Sedjarah, renungan dan petuah bocah-bocah menjelang pulang sekolah dan kuliah. Jika generasi kini sudah tak sanggup mengemban amanat wasiat, masih ada bocah-bocah itu. Selama jiwa-jiwa polos itu tak mewarisi kegagalan generasi ibu-bapaknya, niscaya mereka bisa mengembalikan ‘ruh’ Garoeda, memenuhi gugatanPantjasila sehingga hiduplah Garoeda Pantjasila sesuai dengan fitrah kelahirannya. ***

Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment