Sunday, June 24, 2012

Benarkah Jin Terlibat Korupsi?


Alkisah, suatu saat diadakan kontes adu kedigdayaan ‘menghilangkan benda’ dengan peserta tiga jin terhebat di dunia. Jin pertama dari Timur Tengah beraksi dengan sukses menghilangkan piramida. Jin kedua dari Jepang lebih hebat lagi, mampu menghilangkan benda lebih besar, gunung Fujiyama. Giliran jin ketiga dari Indonesia menampilkan sebuah aksi remeh, hanya menghilangkan setumpuk kertas di atas kardus.

Reaksi penonton masih sepi sampai sang jin Indonesia menjelaskan apa yang dia hilangkan, berkas “kasus korupsi!” Serentak semua penonton berdiri. Tepuk tangan dan sorak sorai gegap gempita. Luar biasa! Luar biasa! Penghargaan yang pantas dari kalangan penonton. Perasaan lega dan ungkapan terima kasih para tersangka, terdakwa dan terpidana kasus korupsi di Indonesia, bercampur dengan penonton lain yang mungkin menemukan pembenaran atas kegagalan mengungkap tabir misteri korupsi, ternyata ada keterlibatan jin dalam menghilangkan berkas-berkas kasus korupsi, pantas saja!

Kisah di atas hanyalah tayangan sebuah iklan di televisi belum lama ini. Soal cocok atau tidaknya dengan kisah nyata, tak perlu dipersoalkan. “Yang penting heppiii...” Ya, yang penting senang. Bisa jadi kalimat itu yang menjadi kunci jawaban dari ‘big puzzle’ korupsi di negeri ini. Untuk ber-korupsi, kadang tak perlu motif banyak-banyak dan neko-neko. Yang penting bisa senang, cari kesenangan, dengan cara menyenangkan tak peduli orang lain terlilit penderitaan. Korupsi dulu, urusan di belakang. Bahkan walau statusnya sudah ditingkatkan sebagai “kejahatan luar biasa,” koruptor tak bergeming. Kesenangan ala surga dengan bertumpuk uang telah membutakan mata. Hukum tinggal hukum. Peraturan tinggal peraturan. Agama tinggal agama. Negara tinggal negara. Kesenangan tidak boleh tertunda.

“Yang penting heppiii...” Sikap yang sama bagi kita yang kelelahan dalam  bergerilya ala sekelompok ‘cumi-cumi kurcaci’ berperang melawan ‘gurita raksasa’ korupsi di bumi Indonesia. Bisa jadi ‘sang gurita’ adalah mutasi dari makhluk jin, atau jin yang berkonspirasi dengan gurita selama 8 abad gurita korupsi dalam sejarah negeri, sehingga dengan cara apapun korupsi di negeri ini masih terselubung misteri. Bagaimana bisa kita mengalahkan musuh bebuyutan ini, sedang yang kita perangi adalah jin digdaya berkarakter gurita raksasa? 

Maka kita butuh tertawa. Siapa tahu dengan tertawa inspirasi akan terbuka. Atau setidaknya menahan kerutan di dahi dan uban yang semakin cepat menyebar di kepala menghadapi problem raksasa yang tiada habisnya. Bahkan bila perlu sesekali kita ber’putus asa’ sejenak dalam jeda, sekedar menghela nafas dan menghemat energi agar tidak mati berdiri karena dehidrasi. Lalu tertawa bersama-sama, kalau perlu terpingkal-pingkal hingga mual. Mungkin dengan rasa mual akibat mentertawai korupsi bisa mengalihkan dan mengalahkan rasa mual akibat terlalu lama mencium aroma (maaf) ‘kentut nasional’ yang semakin hari semakin kental, sementara kita tak sanggup menemukan solusi yang melegakan hati. Drama korupsi agaknya lebih nyaman disikapi sebagai serial dagelan konyol yang tak butuh apresiasi metodis dan analisis akademis. 

“Yang penting heppiii...“ Tertawa sepuasnya sampai seakan-akan gila, lalu coba sesekali berpikir gila. Tak perlu pakai logika, sebab logika dan hukum legal formal belum terbukti cukup menandingi kedigdayaan para koruptor. Jangan-jangan kegagalan kita memerangi korupsi memang karena ada keterlibatan jin dalam jaringan korupsi di negeri ini. Namanya juga makhluk gha’ib, semua tak jelas, buram, samar-samar bahkan kadang gelap pekat. Kasus-kasus besar penggelapan uang negara yang nampak “nyata” di depan mata pun akhirnya menjadi gha’ib, raib begitu saja, sementara aromanya masih tercium kuat di hidung rakyat. Barangkali memang jin itu yang ‘meng-ghaib-kan’ jejak-jejak koruptor dan berkas-berkas korupsi. Kalau bukan jin, manusia mana yang memiliki kedigdayaan setinggi itu?

Kita layak untuk tertawa. Mentertawai kebodohan kita sebagai manusia yang ternyata kalah digdaya dari jin. Padahal kita semua yakin bahwa manusia adalah makhluk paling mulia di alam semesta, sampai-sampai malaikat (termasuk jin) diperintahkan untuk bersujud sebagai bukti penghormatan. Meskipun dalam agama ada penjelasan perihal keterlibatan jin dalam kejahatan manusia (termasuk korupsi), tapi kali ini kita tak perlu membahasnya dari perspektif agama. Terlebih keberagamaan kita juga sudah terkorupsi sedemikian hebatnya, sampai-sampai, di negeri koruptor dan agama KTP, nyaris tak bisa dibedakan lagi orang yang benar-benar beragama dengan yang hanya berlabel agama.

Kadang untuk meraih kesuksesan harus dimulai dengan kegilaan. Ada sebuah nasehat, “Jika ingin menangkap pencuri, engkau harus berpikir sebagai pencuri.” Untuk bisa meringkus penjahat luar biasa dan gila, kita juga perlu berpikir dan beraksi dengan luar biasa dan gila, setidaknya untuk sementara. Jika masih tetap memakai cara biasa dan waras, terlalu sulit diharapkan hasilnya, bisa-bisa malah kita sendiri yang benar-benar gila permanen. Sedikit berpikir gila, anggap saja jin memang terlibat dalam korupsi, buktinya salaman ala siluman sudah membudaya. Setan-setan pun sudah bebas berkeliaran mencari mangsa, memperluas pangsa, menggerogoti kewarasan bangsa. Transaksi hitam kesepakatan setan ada di mana-mana. Jin, siluman, setan, manusia dan kejahatan punya keterkaitan yang tak terpisahkan.

"Yang penting heppiii..." Sekedar mengisi waktu jeda, mengendurkan saraf dengan tertawa sepuasnya semoga menunda kita untuk tidak bersegera menjadi benar-benar gila. Lantas terhanyut dalam ilusi dan kehilangan jati diri sebagai manusia, bertingkah semakin pandir karena sudah buntu berpikir. Berulang-ulang membuat kekonyolan, membersihkan lantai dengan sapu kotor, berkorupsi untuk memerangi koruptor. Seperti kisah keterlibatan jin dalam kisah sekuel iklan sebelumnya, ketika seseorang terjebak dalam lingkaran korupsi birokrasi. Dalam kebingungan dan keputusasaan ia bertemu dengan jin  yang menawari permintaan. Hanya satu yang ia minta, “Korupsi, pelicin, sogokan, hilang dari bumi Indonesia,” lalu jin menjawab dengan kata khas penuh muslihat, “Wani piro...???”

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://angkatankelas11.blogspot.com/2012/05/iklan-djarum-76-versi-kontes-sulap-jin.html

No comments:

Post a Comment