Friday, June 22, 2012

8 Abad Gurita Korupsi Dalam Sejarah Negeri


      Sebagai sebuah ‘makhluk’ raksasa penebar kejahatan luar biasa abad ini, ‘gurita’ korupsi  ‘turun ke bumi’ bukan dengan ujug-ujug sim salabim abra kadabra, melainkan lewat proses evolusi dan mutasi genetik dalam perjalanan sejarah budaya-tradisi. Jika ingin melumpuhkan korupsi, lumpuhkan guritanya. Jika ingin melumpuhkan gurita, galilah filosofi kemunculannya berikut karakteristik spesifik perilakunya, baru kemudian diputuskan langkah ‘luar biasa,’ apakah harus mengamputasinya, meng’aborsi’nya atau bila perlu, mencegah reproduksinya.

     Gurita memiliki 8 lengan dengan alat penghisap pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Ini menjadi simbol dari jangkauan korupsi yang multi dimensi, 8 penjuru arah mata angin, seluruh ruang wilayah negara dari Sabang sampai Merauke, dari pusat kota metropolitan sampai pelosok dusun terpencil di dalam hutan. 

     Jangkauan lengan gurita dalam sejarah nusantara setidaknya telah diawali sejak 8 abad silam, babak pertama ‘embrio gurita’ korupsi dalam Mpu Gandring Gate di masa kerajaan Singasari abad 13. Sebuah tragedi kudeta berdarah bermotif syahwat tahta dan cinta berkonspirasi dengan ketidaksabaran seorang anak manusia, Ken Arok mengawali perebutan kekuasaan atas Adipati Tunggul Ametung sekaligus cinta sang Isteri adipati, Ken Dedes. Serial drama beraroma dendam, pengkhianatan dan kudeta akhirnya memakan korban tujuh nyawa. (boleh baca:  Republik Burnaskopen Dan Sindroma Mpu Gandring).

      Perkembangan gurita korupsi dalam sejarah selanjutnya tercatat setidaknya kudeta (pemberontakan) besar terjadi pada era Majapahit, Demak, dan Banten.  Bahkan, kehancuran kerajaan-kerajaan besar (Sriwijaya, Majapahit dan Mataram) adalah lebih disebabkan karena perilaku korup dari sebagian besar para bangsawannya. Sriwijaya diketahui berakhir karena tidak adanya penerus kerajaan sepeninggal Balaputra Dewa. Majapahit hancur karena adanya perang saudara (Perang Paregreg) sepeninggal Maha Patih Gajah Mada. Sedangkan Mataram lemah karena dipecah belah dan dipreteli giginya oleh Belanda.

      Maka embrio gurita korupsi semakin lama bukan melemah, justru semakin bertumbuh kembang, seiring pertambahan jumlah penduduk. Segala upaya yang dikerahkan pemerintah yang berkuasa, semenjak pasca kemerdekaan selalu mengalami nasib yang sama. Lembaga pemberantasan dan anti korupsi setidaknya telah tercatat berkali-kali di bentuk di setiap rezim.

      Dalam perang panjang untuk ‘melumpuhkan’ gurita korupsi, tercatat pula setidanya 8 lembaga bentukan pemerintah, Paran (Panitia Retooling Aparatur Negara), Operasi Budhi-masa orde lama, TPK (Tim Pemberantasan Korupsi), Opstib (Operasi Tertib)-masa orde baru, KPKPN (Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara) , KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), TGPTPK (Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)-masa orde reformasi. Namun nampaknya ‘operasi amputasi’ untuk memotong lengan gurita semuanya bernasib sama, bangsa ini nampak sehat sesaat, lalu lunglai dan megap-megap lagi dalam belitan gurita korupsi.

      Bahkan seperti proses mutasi yang masih menuju kesempurnaan, gurita yang tumbuh dengan lengan baru akan hadir kembali dengan peningkatan stamina dan cara kerja yang lebih mumpuni dari sebelumnya. Kita lupa, bahwa ada hal menakjubkan dari gurita, beberapa spesies dari mereka ada yang memiliki ‘kesaktian’ dengan mekanisme pemutusan lengan sendiri (ototomi) mirip cicak dan beberapa spesies kadal yang memutuskan ekor sewaktu melarikan diri. ‘Operasi amputasi’ hanya permainan kecil dari gurita. Memang luar biasa!

     Jangan heran jika sampai hari ini aparat penegak hukum (terutama KPK) hanya dipermainkan dengan menangkap potongan lengan gurita koruptor seakan-akan telah sukses menangkap tersangka, padahal itu koruptornya sendiri telah jauh entah di mana. Mekanisme yang sama seperti gurita yang tinggal menunggu tumbuh lengan baru dan menjadi normal seperti sedia kala, koruptor dalam pelariannya juga tinggal menunggu pemulihan dirinya menjadi manusia normal kembali.
Alhasil, dihadapan gurita kita hanyalah sekawanan cumi-cumi kurcaci yang sedang bergerilya dalam kobaran semangat membara. Era Reformasi yang diharapkan menjadi gerbang dari ‘pemusnahan’ gurita korupsi Orde Baru, nampaknya justru api makin jauh dari panggang. Alih-alih memberantas KKN-isme (yang menjadi simbol perlawanan rakyat untuk melengserkan Soeharto) yang ada justru menjadi hari ‘H’ bagi lahirnya gurita korupsi raksasa di bumi Indonesia.

     Yang jelas, sampai di era reformasi periode kedua pemerintahan presiden SBY, sejarah perang melawan korupsi tak lebih dari catatan perang persepsi dalam angka-angka dan data statistika. Bahkan jika dibandingkan dengan masa Orde Baru dan sebelumnya ‘korupsi’ lebih banyak dilakukan oleh ‘embrio-embrio gurita’ kalangan elit pemerintahan, maka pada Era Reformasi sudah melahirkan ‘gurita korupsi’ sebenarnya, seluruh elemen penyelenggara negara dan rakyat bersimbiosis untuk membentuk mutan gurita berskala nasional berkelas internasional.

      Gurita, meskipun masih menjadi bahan perdebatan, dikenal sebagai hewan paling cerdas di antara semua hewan invetebrata. Jangan pernah meremehkan kecerdasan koruptor. Dalam mekanisme kerja dan pertahanan diri, selain ototomi gurita mahir memainkan dua langkah lainnya. Cara paling populer adalah pengelabuan tinta yang disemburkan ketika menghadapi bahaya yang mengancam dirinya. Persis seperti kemahiran para koruptor menghilangkan jejak dengan menyisakan kegelapan dan misteri. Hambalang mengambang, Wisma Atlet macet, Century tersembunyi. Ketiganya menjadi potret terkini bagaimana ‘operasi amputasi’ gurita korupsi hanya membuang-buang energi, padahal di sisi lain energi negeri ini sudah hampir terkuras habis sehingga perlu ‘dipaksakan’ penghematan jika kita masih ingin hidup lebih lama lagi.
   
      Gurita memang luar biasa. Masih ada satu strategi lagi baginya untuk pertahanan dari serangan dan ancaman musuh dan bahaya, kamuflase (penyamaran) dengan berganti kostum (warna kulit) sesuai warna dan pola lingkungan sekitar. Sebagian dari jenis  gurita seperti gurita mimic bahkan bisa menggerakkan lengan-lengannya untuk meniru gerakan hewan laut yang lain sebagai cara mengelabui musuh.

     Tak beda dengan para koruptor yang pintar menyamar dengan berganti kostum dan perilaku seperti orang bersih sehingga gerakan dan aksinya tidak terdeteksi. Bagaimana kita mampu menangkapnya, jika sebagian dari mereka yang berdiri di barisan ‘pemburu koruptor’ ternyata ‘agen-agen’ gurita yang sedang menyamar dengan cara luar biasa? Bagaimana jika antara ‘pemburu’ dan ‘buruan’ sudah tak terlihat lagi bedanya? Lagi-lagi, luar biasa!

     Yang menjadi petaka sebenarnya adalah jika kita tahu kemampuan regenerasi gurita. Setelah dibuahi, gurita betina bisa bertelur hingga sekitar 200.000 butir. Jika saat ini gurita korupsi sudah sedemikian merusaknya bagi tatanan kehidupan, tak perlu dibayangkan apa yang akan terjadi dalam satu generasi lagi. Dalam beberapa generasi saja gurita akan mampu mengubah sebuah negara surga menjadi neraka dunia. Negeri gurita terbesar di jagad raya! Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Untuk menyelamatkan negeri ini harus diambil langkah luar biasa untuk menghancurkan kejahatan luar biasa!

      Gurita korupsi dengan 8 lengan belitannya membawa krisis multi dimensional di 8 aspek kehidupan nasional, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, pertahanan dan keamanan. Jika boleh menganggap 8 aspek itu sebagai 8 sel utama yang bersinergi memasok nyawa gurita, maka untuk melumpuhkannya mesti dilakukan dengan melumpuhkan semuanya secara serentak. Dan itu tak bisa dilakukan dengan mengandalkan sebuah lembaga legal formal bentukan pemerintah.

      Jika Lord Acton pernah berkata, “Kekuasaan itu cenderung korup,” maka seorang teman juga ada yang berkata, “Manusia itu cenderung untuk berkuasa.” Dan kita juga bisa berkata, “Setiap manusia cenderung korup dan otoriter.” Jika terpaksa memakai paradigma kekuasaan sebagai dasar untuk meretas jalan masuk ‘melumpuhkan’ gurita, maka kita juga harus konsisten dengan sistem kekuasaan di negeri ini, bahwa dalam negara demokrasi, setiap jiwa dari rakyat punya potensi untuk berkuasa. Regenerasi kepemimpinan sudah menjadi keniscayaan.

      Sedikit belajar dari sejarah, kesuksesan Belanda menancapkan ‘gurita’ kolonialisasinya lebih disebabkan oleh kokohnya akar “budaya korup” masyarakat-bangsa Indonesia, maka melalui politik “Devide et Impera” mereka dengan mudah menaklukkan Nusantara. ‘Embrio’ gurita harus dilihat sebagai sebuah insting dasar manusia yang akhirnya terbentuk menjadi budaya. 

     ‘Embrio’ gurita korupsi itu ada dalam dada 240 juta manusia Indonesia. Generasi kini adalah generasi korup dengan budaya korup. Potong satu generasinya untuk memotong siklus reproduksi gurita korupsi! Jika setiap jiwa berperang melawan budaya korupsi secara bersama-sama, reproduksi gurita korupsi akan berhenti cukup sampai di sini, generasi ini.
Selama 800 tahun kita tak pernah mampu ‘melumpuhkan’ gurita korupsi di nusantara. 

     Mestinya waktu selama itu sudah cukup membuat kita jera menjadi bangsa bebal dengan selalu gagal menangkap nilai-nilai filosofi yang sejatinya selalu tergelar lebar-lebar di depan mata. “Potong satu generasi korup hari ini!”. Jika tidak, maka (kalau beruntung), mungkin kita harus menunggu 800 tahun lagi untuk bisa ‘melumpuhkan’ gurita korupsi. Atau mungkin menunggu sang gurita lelah sendiri, atau menunddu sampai ia mati dimakan usia, itupun jika bukan kita yang terlebih dahulu tereliminasi, punah dalam seleksi alam yang tak pernah kita mengerti. ***


Salam...
El Jeffry

Referensi:



No comments:

Post a Comment