Friday, June 22, 2012

5 Opsi ‘Halal’ Berkorupsi


   Memikirkan korupsi di Indonesia, benar-benar membuat pusing kepala manusia Indonesia, tak kalah pusingnya dengan para koruptor yang memutar otak mencari cara untuk lolos dari jerat hukum. Dan bicara tentang hukum, benar-benar membuat muka cepat menua, kening berkerut, pipi keriput, uban di kepala, kali ini beda dengan para koruptor yang masih tetap terlihat awet muda meski sudah dikejar-kejar KPK. Itu karena mereka lebih pintar dari hukum itu sendiri, mahir mencari celahnya, mahir pula memutar-mutar pasal-pasalnya untuk lepas dari jerat hukum.

      Kalau koruptor-koruptor kelas kakap beraksi memasang jerat-jerat kejahatan luar bisa dengan cara-cara luar biasa tanpa rasa bersalah dan rasa berdosa, maka boleh kiranya coba dipasang jerat-jerat hukum luar biasa dengan cara luar biasa pula. Bagaimana kalau korupsi dihalalkan saja, alias dilegalisasi? Siapa tahu dengan penghalalan (legalisasi) korupsi ini bisa melumpuhkan perlawanan para koruptor terhadap perjuangan aparat penegak hukum.

    Anggap saja sebagai permainan yang disahkan lewat Undang-Undang, bahwa korupsi bebas, halal dan legal. Karena tak ada koruptor yang jujur dan mau mengakui perbuatannya (secara hukum tersangka memang berhak untuk mengingkari perbuatannya), tapi kalau tertangkap, khusus bagi koruptor kelas kakap dengan nominal korupsi sejumlah tertentu, kasih saja 5 opsi sebagai tawaran untuk bisa bebas dari jerat dan tanggung jawab hukum:

- Opsi 1, silahkan tidur terus-menerus dan jangan pernah bangun, sebab orang tidur bebas dari tanggung jawab hukum sampai ia bangun (terjaga).

- Opsi 2, silahkan kembali menjadi balita dan jangan pernah dewasa, sebab anak kecil (balita-belum akil baligh) bebas dari tanggung jawab hukum sampai ia dewasa.

- Opsi 3, silahkan berubah menjadi lansia (manusia lanjut usia) dan bertingkah pikun selama-lamanya, sebab orang pikun bebas dari tanggung jawab hukum sampai ia kembali tersadar dari kepikunannya.

- Opsi 4, silahkan menjadi orang gila dan jangan pernah waras untuk selama-lamanya, sebab orang gila (tak berakal sehat) bebas dari tanggung jawab hukum sampai ia kembali waras (berakal sehat).

- Opsi 5 (terakhir), silahkan menjadi orang mati, caranya terserah, boleh bunuh diri, atau dibantu matikan dengan suntikan kimia, kursi listrik, tiang gantungan, pancung kepala atau dieksekusi regu tembak, yang penting mati, sebab orang mati juga bebas dari tanggung jawab hukum sampai ia hidup kembali.

      Siapa tahu dengan 5 cara itu bisa meredam para koruptor kelas kakap dan menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang bercita-cita jadi koruptor untuk timbang-timbang dulu dan memikirkan cita-cita lain yang lebih layak sebagai manusia dan tidak bertentangan dengan hukum agama, hukum negara, bahkan hukum rimba. Bukankah hukum rimba juga mengajarkan, siapa yang kuat, dialah yang menang, dan untuk menjadi yang terkuat dan menang, harus pula siap jika sewaktu-waktu menjadi korban dalam permainan, diterkam, lalu dimakan...???  ***


Salam...
El Jeffry




No comments:

Post a Comment