Saturday, June 30, 2012

Koin KPK: Antara Opini, Hukum Dan Keadilan


1341051072937618472
sumber photo: http://www.berniaga.com/Indonesia+1000+Rupiah+1996+Kelapa+Sawit+Bimetal-9449119
    Satu lagi suguhan cerita terkini panggung politik negeri. Serial ‘dongeng klasik’ penuh polemik, intrik hingga konflik menjadi bumbu penyedap bagi proses meramu tata boga bernegara di kuali republik. Hukum dan keadilan masih tetap jadi bahan baku utama. Terbetik kabar berita, pengajuan anggaran KPK untuk pembangunan gedung baru ditolak DPR.

   Konon kabarnya, gedung lama tak mencukupi lagi menampung ‘balatentara’ pejuang pemberantasan korupsi yang dalam perkembangannya meningkat dua kali lipat di hari ini. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, kinerja KPK tidak akan optimal. Masih konon kabarnya, DPR bukan tak merestui, tapi hanya ‘terganjal’ oleh tanda ‘bintang misterius’ yang menyebabkan kucuran anggaran Rp. 325,7 miliar terpaksa tertahan.

  Anggaran ditolak, KPK yang sudah terlanjur didaulat rakyat sebagai ‘dewa penyelamat’ negeri ini dari belitan gurita korupsi tak patah arang. Perjuangan harus dilanjutkan! Gagasan ‘Sang Dewa Keadilan’ lumayan brilian. Memang “kejahatan luar biasa” harus dihadapi dengan “perjuangan luar biasa.” Wacana digulirkan. Koin dilemparkan. Publik (baca: rakyat) kembali termangu di pojok pemikiran, dengan mulut menganga saking kebingungan karena terlalu lama meringkuk dalam kegelisahan belitan problem hidup yang tak kunjung mengendur, suka tidak suka terkondisikan untuk beropini dan bersikap.

  Seperti biasa lumrahnya negara demokrasi, perbedaan berpendapat adalah karakteristik spesifik yang semakin menambah cita rasa dan dinamika. Pro-kontra, mendukung-menolak, setuju-tak setuju, semua hadir dengan warna baru dan mengharu-biru. Gagasan dilontarkan. Jika DPR sebagai wakil rakyat enggan ‘mengamini’ permohonan KPK, biarlah rakyat sendiri yang secara langsung ditanya, berkenankah guyub-rukun-holopis kuntul baris saweran nasional untuk sebuah gedung baru? Koin saweran untuk KPK. Koin kepedulian anak bangsa. Koin empati ungkapan hati nurani demi cita-cita bersama memerangi korupsi.

    Koin telah dilemparkan ke udara. Kita belajar mengadu peruntungan meretas nasib bangsa dalam perang besar memberantas korupsi.  Sayangnya, di negeri ini, hukum dan keadilan ibarat dua sisi pada sekeping uang logam. Satu di kanan, satu dikiri. Selalu berdampingan dan saling merindukan tetapi tak pernah bertemu pada satu bidang sisi yang sama. Kita sedang belajar arif memilih nasib, berubah keadaan, atau tetap stagnan dalam carut-marut dan kemelut di segala aspek kehidupan.

   Koin telah mengajarkan pralambang. Di satu sisi koin, terpahat jelas Garuda Pancasila yang menjadi simbol cita-cita bersama telah lama terlupakan. Tapi kini semakin tergeser oleh angka rupiah di sisi keping koin yang lain, 25, 100, 200, 500, 1000 dan seterusnya dan seterusnya. Nilai-nilai falsafah bangsa yang menjadi simbol NKRI sering kalah dalam ‘perjudian nasional’ dalam tata-masyarakat, tata-bangsa dan tata-negara. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial selalu bernasib sial, kalah bertarung dan gagal memenangi undian ‘adu nasib.’ Hidup semakin ditentukan oleh angka-angka, pasal-pasal dan ayat-ayat hukum legal formal, teks-teks peraturan dan perundang-undangan.

      Koin telah dilemparkan. Nasib telah dipertaruhkan, opini rakyat tengah diuji. DPR sebagai representasi dari rakyat dan simbol seluruh lembaga-lembaga negara sebagai pengemban amanat secara tak sadar telah memilih sisi angka. Mereka lebih nampak sebagai penguasa dari pada pemimpin, apalagi wakil suara rakyat yang nota bene suara Tuhan. Mereka lebih mementingkan simbol-simbol teks angka-angka pasal hukum, alasan klasik dengan dalih menjaga negara hukum. Namun realitanya ironis dan kontradiktif, keadilan tak kunjung jua sanggup ditegakkan di negara hukum.

    ‘Ruh’ garuda Pancasila terpisah di sisi lain, berseberangan dan bertolak belakang dengan angka-angka pasal hukum. Korupsi menjadi setan-dajjal perusak keadilan, dengan tameng hukum. Kita sebagai sebuah negara nampaknya telah terlupa parah, bahwa hukum dan keadilan semestinya tidak terpisahkan seperti dua sisi keping koin. Hukum dibuat untuk keadilan. Jika keadilan adalah tujuan, maka hukum, lengkap dengan angka-angka dalam pasal-pasal dan ayat-ayatnya hanyalah sebagai alatnya. Hukum tanpa ruh, wayang tanpa dalang. Hukum formal hanyalah wayang, manusia di belakangnya adalah dalangnya. Tegak runtuhnya keadilan tergantung dari tegak runtuhnya hukum. Dan tegak runtuhnya hukum tergantung dari tegak runtuhnya moral manusia sebagai ‘ruh’ dari hukum.

  Akan menjadi kiamat negara ketika moral manusia di balik hukum telah terkontaminasi ‘virus-virus’ korupsi, tak ada bedanya dengan hati nurani manusia yang telah terinvasisetan-dajjal korupsi. Diakui atau tidak, sudah menjadi rahasia nasional-internasional bahwa pemimpin di republik ini telah terpenjara dalam jeruji lingkaran setan korupsi. Korupsi sistemik nan endemik. DPR (dan DPRD) adalah lembaga beraroma korup paling menyengat di hidung rakyat. Sudah menjadi suguhan kabar berita sehari-hari, terutama sejak KPK semakin mendapat dukungan publik (meskipun berdasarkan kinerjanya masih terlalu dini untuk dikatakan sebagai berhasil), satu persatu anggota dewan yang terhormat ‘terpaksa’ dan ‘dipaksa’ berurusan dengan KPK, baik yang sudah terpidana, yang baru tersangka, maupun yang masih dalam pengejaran dan proses penyidikan.

     Tak pelak, perseteruan antara DPR dan KPK, serapi-rapinya berusaha ditutup-tutupi, namun nuansa rivalitas antara kedua lembaga itu terlihat samar-samar tapi jelas. Berita terkini perihal terjegalnya anggaran gedung baru KPK adalah suatu cermin bening untuk berkaca bersama. Logis dan mafhum, setiap manusia punya naluri mendasar untuk mempertahankan diri, tak terkecuali para koruptor yang masih berkedok rapi. Bagaimana mungkin ‘sang tikus’ akan membesarkan ‘sang kucing’ yang secara hukum alamnya bakal mengancam keselamatannya?

    Koin telah dilemparkan. ‘Undian nasib’ masih berlangsung. Cerita selanjutnya mungkin akan jauh lebih ’seru’ dari pada hari ini. DPR mungkin akan ‘bertarung’ sampai titik pasal penghabisan untuk mencegah KPK memperkuat ‘daya terkam’ dengan gedung baru, tentu dengan senjata lama, bertameng hukum legal formal di satu sisi koin. Sedang KPK, di sisi koin yang lain, jika masih konsisten menjaga ‘fitrah’-nya sebagai lembaga ‘bersih-bersih nasional’ dengan tidak memberi ruang untuk terkontaminasi oleh ‘musuh dalam selimut,’ maka posisinya akan semakin kuat dengan meningkatnya dukungan rakyat.

Koin telah dilemparkan. Pilihan telah disuguhkan. Akal sehat dan hati nurani rakyat tengah diuji. Panggung pembelajaran hukum dan keadilan telah digelar. Koin akan memilah dua kekuatan, atau setidaknya sebagai alat penyaring opini publik, apakah masih berpihak pada logika hukum legal formal ala DPR, atau lebih memilih hati nurani keadilan ala KPK. Sekedar sebagai bahan refleksi bersama, gurita korupsi di negeri ini tak bisa di’amputasi’ atau di’suntik mati’ hanya oleh satu lembaga negara seperti KPK. Namun dibutuhkan kerjasama dan peran serta sebanyak mungkin elemen masyarakat, sekecil apapun andilnya akan sangat menentukan keberhasilan memerangi korupsi di negeri ini.

    Tak perlu mengharapkan 100% semua berpihak pada gagasan KPK, namun sepertiga saja rakyat Indonesia merapatkan barisan di kubu penegak keadilan, niscaya lebih dari cukup untuk memulai langkah awal. Empat keping koin ribuan dari 80 juta relawan akan terkumpul Rp. 320 miliar. Jumlah yang cukup untuk meningkatkan kinerja KPK dengan fasilitas gedung baru tanpa menunggu ‘restu’ dari DPR. Soal hukum formal, para pakar yang berpihak pada rakyat dan KPK pasti bisa mencari jalan keluarnya tanpa harus melanggar hukum yang ada. Jika untuk melancarkan “kejahatan luar biasa” para koruptor bisa bertameng pasal-pasal hukum dengan 1001 cara, alangkah tidak adilnya jika untuk “kebaikan luar biasa” tidak ada ruang untuk mengantarkan perjuangan pada tujuan mulia. ***

Salam...
El Jeffry

69 Karakter Misterius



       Di atas papan ketik ada 26 tombol huruf, 10 angka dan 32 tanda baca dan simbol-simbol tulisan utama. Jika di tambah dengan satu spasi, semuanya berjumlah 69 karakter. Jumlah yang tak seberapa dan tiada artinya sebelum tangan seorang manusia menyentuh dan memainkannya. Anehnya, hanya dengan membolak-balik susunannya, mengatur besar kecilnya huruf dan spasi, terciptalah sebuah karakter baru yang berbeda.

     Artikel, risalah, pesan, kabar-berita, nasehat, ajakan, perintah, himbauan hingga ancaman, teror dan berbagai karakter baru lainnya. Berbeda efek yang ditimbulkan dari hasil susunan satu orang dengan lainnya meski semua berasal dari bahan baku yang sama, jumlah yang sama, 69 karakter.

      69 karakter misterius. Jumlah yang sama, alat yang sama, tapi beda sentuhan, beda hasil, beda nilai, beda pula efek yang di timbulkannya. Seseorang menyusun karakter dan mengirimkannya ke media baca, jutaan orang memuji dengan penuh kekaguman dan rasa hormat. Tapi orang lain, dengan bahan baku karakter yang sama dan mengirimkannya ke tempat yang sama, jutaan orang mencaci penuh penuh kebencian dan rasa mual.

     69 karakter misterius. Di satu saat orang melihat susunannya lalu tertawa terbahak-bahak hingga keluar dahak. Di saat yang lain orang dibuat menangis tersedu-sedu hingga lidah kelu. Novel, cerpen, puisi, syair dan berbagai karya sastra lainnya, kumpulan karakter tersusun rapi seperti ‘bernyawa,’ membawa ragam cerita yang bisa mengaduk-aduk emosi manusia. Padahal jumlahnya selalu sama, tak lebih dari 69 karakter.

       69 karakter misterius. Seseorang bisa menyusunnya menjadi sebuah energi positif yang menyebarkan kebaikan, kedamaian, cinta dan persaudaraan antar manusia. Lain orang bisa juga menyusunnya menjadi sebuah energi negatif yang menyebarkan kejahatan, keresahan, kebencian dan permusuhan antar manusia. Bahan baku yang sama, alat yang sama, hanya tersusun berbeda.

     Seorang penulis profesional mahir memainkan 69 karakter dengan susunan tertentu sesuai dengan keahliannya. Terciptalah artikel opini 1.000 karakter. Dikirimkan ke media cetak, bisa dihargai Rp. 1 juta. Rp. 1.000,- per karakter. Luar biasa. Jika ia rutin memainkan 69 karakter dengan hingga terkumpul 1 juta karakter dengan susunan berbeda, Rp. 1 miliar didapat hanya dengan mengutak-utik susunan karakter.

   Benarlah kata orang. “Menulis bisa membuatmu jadi kaya.” Kekayaan intelektual tersimpan di balik tulisan. Berapa kayanya penulis novel terkenal J.K. Rowling yang mendulang uang dari royalti penjualan novel Harry Potter? Tak terhitung! Meski bahan bakunya sama dengan yang ada dalam tulisan ini, tak lebih dari 69 karakter, tapi efek yang dihasilkan antara keduanya sungguh jauh-jauh berbeda.

     Di sisi lain, “Menulis juga bisa membuatmu bangkrut bahkan masuk penjara!” Cobalah susun 1.000 karakter yang berisi fitnah kepada orang penting dan jangan kaget bila sewaktu-waktu mendapat tuntutan hukum atas dasar pencemaran nama baik seseorang. Siapkan saja sejumlah uang sebagai tebusan bila gagal menempuh jalur kekeluargaan.
69 karakter misterius. Seorang pejabat penting menulis selembar surat tak lebih dari 1.000 karakter ditujukan kepada seorang pengusaha yang sedang berburu proyek negara. Ia bisa mendapat imbalan Rp. 1 miliar. Artinya, Rp. 1 juta per karakter!

    Lebih luar biasa lagi jika seorang presiden membuat tulisan khusus sebanyak 1.000 karakter juga  yang dikirimkan kepada alamat yang tepat, lalu dari tulisannya berefek menyelamatkan uang negara sejumlah Rp. 100 triliun dari tangan koruptor. Rp. 100 milyar per karakter! Bahan bakunya sama, 69 karakter, hanya ditulis oleh orang berbeda dengan susunan berbeda.

      69 karakter misterius. Seperti misteriusnya penemuan karakter dalam simbol-simbol dan tanda yang menjadi catatan sejarah manusia sepanjang peradaban. Jika dalam tulisan hanya ada 69 karakter berbeda, maka dalam diri manusia, sejumlah penduduk bumi pada abad ini, setidaknya ada 7 milyar karakter yang tak pernah sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. 

    Lebih misterius lagi bagaimana Sang Pencipta menghubungkan milyaran karakter manusia dengan kemampuan berbahasa, saling mengenal dan saling memahami via simbol tak lebih dari 69 karakter hanya dengan cara menulis dan membaca. ***



Salam...
El Jeffry

Tuah Warna Kostum di Final Piala Eropa 2012


    Perhelatan akbar sepakbola Eropa tinggal menyisakan partai puncak. Final Piala Eropa  yang ke-14 kalinya sejak pertama kali digelar tahun 1964 ini rencananya akan digelar di Olympic Stadium, Kiev, Ukraina pada 1 juli, atau 2 Juli pukul 01.45 WIB. Dua tim terbaik Eropa siap bertarung habis-habisan untuk membuktikan diri sebagai jawara. Tim ‘Matador’ Spanyol,  sang juara bertahan sekaligus Juara Piala Dunia 2010 berhadapan dengan tim ‘Azzuri’ Italia, sang juara Piala Dunia 2006.

   Siapa yang bakal memenangi duel pamungkas, rasanya sulit untuk diprediksi. Di atas kertas kedua tim sama-sama tangguh dan berimbang. Dari 30 pertandingan dalam sejarah pertemuan kedua tim, Italia memenangi 10 pertandingan, Spanyol memenangi 9 pertandingan dan 11 di antaranya berakhir imbang. Terakhir kedua tim bertemu pada babak fase grup dengan kedudukan imbang 1-1.

    Konon kabarnya, tuah warna kostum bakal ikut andil sebagai penentu hasil akhir. Selidik punya selidik, ternyata dalam dua putaran terakhir, Piala Eropa 2004 dan 2008 dan Liga Champions Eropa di tahun yang sama, kebetulan ada kemiripan warna kostum tim yang menjadi juara. Mengkait-kaitkan keduanya wajar-wajar saja, apalagi kedua kejuaraan bergengsi itu memang sama-sama bernaung di bawah bendera UEFA.

   Sambil sedikit bernostalgia, FC Porto menjuarai Liga Champions Eropa 2004 setelah di final mengalahkan AS Monaco. Sang juara saat itu mengenakan kostum warna putih bermotif garis biru, kostum yang sama dikenakan tim Yunani beberapa bulan kemudian ketika menjuarai Piala Eropa 2004 setelah di final mengalahkan tuan rumah Portugal 1-0.

13409775972024940020
Tuah warna putih bergaris biru membawa Porto menjadi Juara Liga Champions Eropa 2004 (sumber photo: http: //chaframboesa.blogspot.com/2011_03_01_archive)
1340978144758005029
Yunani menjuara Piala Eropa 2004 berkostum putih garis biru (sumber photo: http://sportige.com/euro-nations)
     Selang empat tahun kemudian, Mancheter United dengan mamakai kostum warna merah sukses memboyong trofi Liga Champions 2008 setelah di final mengandaskan Chelsea. Kostum warna merah juga dipakai Spanyol ketika merebut trofi Piala Eropa di tahun yang sama setelah menumbangkan Jerman 1-0. Kebetulan? Bisa jadi. Sekarang tinggal menunggu hasil satu cerita lagi.

1340978814152958715
'Si iblis merah' MU menjuarai Liga Champions Eropa 2008 (sumber photo: http://www.futbolwins.com/manchester-united-campeon-de-champions-league-20072008)
1340979132285194799
Portugal dengan kostum merahnya menjuarai Piala Eropa 2008 (sumber photo: http://beragamcerita.blogspot.com/2012/04/clickbet88com-agen-bola-terpercaya.html)
    Di tahun 2012 trofi bergengsi Liga Champions Eropa belum lama berhasil direbut ‘The Blues’ Chelsea, setelah di final menaklukkan Bayern Muenchen. Lagi-lagi ‘kebetulan,’ warna kostum sang juara adalah warna biru! Lebih kebetulan lagi, sang pecundang mengenakan kostum berwarna merah. Dan final Piala Eropa 2012 kini juga menyuguhkan warna biru khas Tim ‘Azzuri’ Italia dan warna merah khas tim ‘matador’ Spanyol. Akankah menjadi cerita yang sama dengan warna biru Chelsea melunturkan warna merah Bayern Muenchen?

1340979226893904019
Tuah warna biru membawa Chelsea juara Liga Champions 2012 (sumber photo: http://www.waloetz.com/2012/05/hasil-skor-bayern-munchen-vs-chelsea.html)
134097932069581372
Akankah kembali tuah warna biru membawa tim 'Azzuri' Italia menjadi juara Piala Eropa 2012? (sumber photo: http://www.footballtarget.com/2012/06/spain-italy-preview-euro-2012)
    Akankah tuah warna biru pada kostum tim ‘Azzuri’ Italia akan menjadi pertanda dari simbol jawara Piala Eropa, melunturkan warna merah tim ‘matador’ Spanyol? Apakah Italia akan mengimbangi rekor dua kali Spanyol dalam menjuarai Piala Eropa setelah terakhir meraihnya 44 tahun silam pada 1968, ataukah justru Spanyol yang semakin memantapkan rekor juara Piala Eropa untuk ketiga kalinya setelah 1964 dan 2008, menyamai rekor 3 kali juara tim panser Jerman?

   Mungkin yang bisa menjawab hanya Fernando Torres, jika nanti diturunkan pada pertandingan final. Dialah ikut berperan membawa kostum biru bersama Chelsea merebut trofi Liga Champions beberapa waktu lalu. Tentunya Torres bakal bertarung mati-matian untuk mematahkan mitos tuah warna kostum dengan membuat ’si merah’ Spanyol menumbangkan ‘si biru’ Italia. Sebaliknya, sang pelatih klub tempatnya bermain, Roberto Di Matteo yang kebetulan orang Italia justru mengharapkan tuah warna biru akan berlanjut membawa keberuntungan negaranya, sebagaimana dengan tuah warna biru  ia berhasil membawa Chelsea menjadi juara.

    Bola itu bundar. Apapun prediksinya, semua kemungkinan bisa terjadi. Soal tuah warna kostum apakah hanya sekedar kebetulan, mitos atau memang pertanda, laga final antara kedua tim besar Eropa tetap memiliki daya tarik luar biasa bagi ratusan juta penggemar sepakbola di dunia, termasuk Indonesia. Tunggu saja tanggal mainnya!

Salam…
El Jeffry

Wednesday, June 27, 2012

Merindu Miranda Bernyanyi Merdu


Merindu aku pada suara Miranda
dalam beberapa bait lagu syahdu nan merdu
nyanyian terindah seorang ibu
satu oktaf  nada polos nan lugu

Merenda hari-hari tanpa benang harapan
merindu hatiku pada sebuah nyanyian
lagu terindah Miranda sang biduan pujaa

Bila Miranda bernyanyi tra la la-tri li li
Johan Budi tak akan bicara berbusa bla bla bla-bli bli bli
Abraham Samad bisa berdansa ca ca ca dan menari ci ci ci
Busyro Muqoddas lega sujud syukur dan khusyu’ mengaji
KPK layak menjadi dewa juru selamat negeri


Merindu aku merenda mimpi negeri
beberapa bait nyanyian Miranda pasti memberi berjuta inspirasi
bocah-bocah bengal akan ikut bebas berekspresi


Nazar telah memulai sedikit introduksi
belum menghibur, tapi lumayan mengusir sunyi
lalu Angie ikut bernyanyi
Wa Ode juga ikut bernyanyi
Mindo, Wafid, Andi, Yulianis, Anas dan semuanya ikut bernyanyi
tentu akan terobati rasa rindu ini


Merindu aku pada nyanyian ini
seperti rinduku pada lantunan suara ayat-ayat suci
beberapa bait lagu tanpa basa-basi tanpa sensor sana-sini
menjadi do’a-do’a dan mantera pengusir betara kala
lama nian ibu pertiwi terkulai lunglai tanpa istinja
sudah saatnya kita semua merdeka dari lumuran noda


Hambalang mengambang bersama gelombang
Wisma Atlet macet dan tergencet
Century terselubung kegelapan misteri
opera tragedi terhidang abadi
bangsa ini nyaris kehabisan energi
hanya untuk menggali kunci teka-teki korupsi


Merindu hatiku pada nyanyian Miranda
merenda hari-hari bahagia di negara merdeka
ada jutaan Miranda di bumi Indonesia
sebagai saksi, terduga, tersangka, terdakwa dan terpidana
jika semua berkolaborasi dalam satu paduan suara
akan jadi lagu indah sepanjang sejarah bangsa
mungkin lebih indah dari lagu Indonesia Raya


Salam...
El Jeffry

Tuesday, June 26, 2012

Gaji Ronaldo 1 Hari: Gaji Saya 40 Tahun!


Konon kabarnya, bintang sepakbola asal Portugal Cristiano Ronaldo mendapat gaji dari klubnya taempat bermain, Real Madrid paling kurang 12 juta euro per tahun. Dengan kurs 1 euro Rp. 12.000,- saja, maka pemain yang kondang dengan CR7 ini berarti menerima Rp. 144 milyar pertahun, atau Rp. 12 miliar perbulan, atau sekitar Rp. 400 juta perhari!

Jumlah yang fantastis jika dibandingkan dengan gaji saya. Sebagai petani ikan tradisional di kampung dengan hasil bersih panen rata-rata  Rp. 1,5 juta per periode (masing-masing periode 2 bulan), maka dalam setahun praktis gaji saya hanya berkisar Rp. 9 juta. Untuk mengumpulkan Rp. 400 juta saya harus bersabar menunggu sampai 40 tahun, itupun dengan catatan puasa seumur hidup, atau semua kebutuhan hidup harus gratis tis, sehingga tidak mengutak-utik uang penghasilan!

Tapi itulah kenyataan hidup, rambut boleh sama hitam, tapi nasib bisa berlainan, kadang bagai bumi dengan langit. Bicara soal nasib, kadang hati ini heran. Apa bedanya saya dengan Ronaldo? Nama, sekilas mirip, malah sama-sama17 karakter (termasuk spasi). Coba bandingkan Cristiano Ronaldo dan El Jeffry Handoyo? Usia, saya justru 12 tahun lebih tua, dia baru 27 tahun. Postur, cuma beda 13 cm lebih tinggi dia. Di pentas Piala Eropa yang beberapa hari lagi akan berakhir, saya dan dia sama-sama aktif. Saya ‘aktif ‘ sebagai penonton setia lewat siaran televisi, dia aktif bermain dan sukses mengantarkan Portugal mencapai semifinal. Yang jelas, sama-sama manusia. Lalu, apa bedanya?

Pertanyaan baru sedikit terjawab ketika seorang teman menyampaikan ulasan tajam, “Ronaldo dan sampeyan sebenarnya tak jauh berbeda. Satu-satunya beda adalah cara dia dan sampeyan bekerja. Ronaldo  bekerja membesarkan dirinya dengan 1 otak di kepala untuk membentuk kecerdasan 2 otak di lutut kaki. Sedang sampeyan bekerja membesarkan kepala dengan 2 otak di lutut kaki  dengan mengabaikan kecerdasan 1 otak yang diri sampeyan punya.”

Keterlaluan juga teman saya ini. Tapi, pikir punya pikir ada benarnya juga. Sedikit menghibur hati, (atau justru celakanya?), orang-orang yang bernasib seperti saya tak sedikit jumlahnya di Indonesia. Atau jangan-jangan ini pula yang membedakan secara keseluruhan bangsa Indonesia dengan bangsa Portugal? Jadi ingat pada sejarah, ketika mbah moyang-nya Ronaldo, admiral Alfonso de Albuquerque mampir ke negeri ini 5 abad silam untuk mulai imperialismenya. Pantas saja, lebih dari 380 tahun orang Portugal sukses menancapkan cengkeraman kolonialisasinya di bumi nusantara. Malah mungkin itu pula yang menyebabkan Timor-Timur terlepas kembali dari NKRI pada tahun 1999. Kita kalah kecerdasan pemain, kalah pula  dalam teknik dan taktik permainan layaknya pertandingan sepakbola. Bagaimana bisa menang Indonesia melawan bangsa Eropa?

Jika sudah begini, bagaimana mungkin seorang petani berani bermimpi menjadi selebriti, sedang untuk sekedar berlepas dari himpitan ekonomi saja sudah kembang-kempis setengah mati? Apalagi petani di negeri ini yang sudah identik sebagai ‘komunitas dengkul-pacul,’ anak tiri di negeri agraris yang selalu menjadi ‘tumbal’ ekonomi dan teknologi-industri. Ironi dengan peran vitalnya sebagai sumber utama pemasok energi. Padahal, melihat tradisi makan masyarakat yang masih kuat, andai saja seluruh petani di negeri ini ngambek dengan memboikot tanam padi, niscaya sedan Mercy tak berarti lagi tanpa sepiring nasi. Lalu bagaimana negeri ini bisa berjaya jika keliru dalam menempatkan prioritas energi? ‘Ruh’ sebuah bangsa berasal dari tanah-air dan laut-bumi? Kekuatan daya saing bangsa tercipta dari perpaduan energi fisik yang bersumber dari makanan berkarbohidrat seperti nasi dengan kecerdasan otak yang bersumber dari makanan berprotein seperti ikan.

Entah dari mana harus mengurai dan memulainya. Mungkin sama seperti nasib yang mencegah saya bermimpi, bangsa ini butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar bermimpi ‘tim garuda’ berbicara di pentas sepakbola dunia. Bangsa Indonesia  butuh waktu 400 untuk menyingkirkan Portugal 1 hari saja dari Indonesia. Saya butuh waktu 40 tahun untuk menyamai gaji Ronaldo dalam 1 hari bekerja. Maka mungkin timnas sepakbola Indonesia juga butuh waktu 40 tahun, atau bisa jadi 400 tahun lagi, untuk sekedar tampil 1 hari mengalahkan Portugal di pentas Piala Dunia. Tapi semua itu bisa juga berbeda, jika pada pilpres 2014 nanti tampil RI1-7 yang cerdas belajar dari kesuksesan fantastis CR-7!

Salam...
El Jeffry



Sunday, June 24, 2012

Benarkah Jin Terlibat Korupsi?


Alkisah, suatu saat diadakan kontes adu kedigdayaan ‘menghilangkan benda’ dengan peserta tiga jin terhebat di dunia. Jin pertama dari Timur Tengah beraksi dengan sukses menghilangkan piramida. Jin kedua dari Jepang lebih hebat lagi, mampu menghilangkan benda lebih besar, gunung Fujiyama. Giliran jin ketiga dari Indonesia menampilkan sebuah aksi remeh, hanya menghilangkan setumpuk kertas di atas kardus.

Reaksi penonton masih sepi sampai sang jin Indonesia menjelaskan apa yang dia hilangkan, berkas “kasus korupsi!” Serentak semua penonton berdiri. Tepuk tangan dan sorak sorai gegap gempita. Luar biasa! Luar biasa! Penghargaan yang pantas dari kalangan penonton. Perasaan lega dan ungkapan terima kasih para tersangka, terdakwa dan terpidana kasus korupsi di Indonesia, bercampur dengan penonton lain yang mungkin menemukan pembenaran atas kegagalan mengungkap tabir misteri korupsi, ternyata ada keterlibatan jin dalam menghilangkan berkas-berkas kasus korupsi, pantas saja!

Kisah di atas hanyalah tayangan sebuah iklan di televisi belum lama ini. Soal cocok atau tidaknya dengan kisah nyata, tak perlu dipersoalkan. “Yang penting heppiii...” Ya, yang penting senang. Bisa jadi kalimat itu yang menjadi kunci jawaban dari ‘big puzzle’ korupsi di negeri ini. Untuk ber-korupsi, kadang tak perlu motif banyak-banyak dan neko-neko. Yang penting bisa senang, cari kesenangan, dengan cara menyenangkan tak peduli orang lain terlilit penderitaan. Korupsi dulu, urusan di belakang. Bahkan walau statusnya sudah ditingkatkan sebagai “kejahatan luar biasa,” koruptor tak bergeming. Kesenangan ala surga dengan bertumpuk uang telah membutakan mata. Hukum tinggal hukum. Peraturan tinggal peraturan. Agama tinggal agama. Negara tinggal negara. Kesenangan tidak boleh tertunda.

“Yang penting heppiii...” Sikap yang sama bagi kita yang kelelahan dalam  bergerilya ala sekelompok ‘cumi-cumi kurcaci’ berperang melawan ‘gurita raksasa’ korupsi di bumi Indonesia. Bisa jadi ‘sang gurita’ adalah mutasi dari makhluk jin, atau jin yang berkonspirasi dengan gurita selama 8 abad gurita korupsi dalam sejarah negeri, sehingga dengan cara apapun korupsi di negeri ini masih terselubung misteri. Bagaimana bisa kita mengalahkan musuh bebuyutan ini, sedang yang kita perangi adalah jin digdaya berkarakter gurita raksasa? 

Maka kita butuh tertawa. Siapa tahu dengan tertawa inspirasi akan terbuka. Atau setidaknya menahan kerutan di dahi dan uban yang semakin cepat menyebar di kepala menghadapi problem raksasa yang tiada habisnya. Bahkan bila perlu sesekali kita ber’putus asa’ sejenak dalam jeda, sekedar menghela nafas dan menghemat energi agar tidak mati berdiri karena dehidrasi. Lalu tertawa bersama-sama, kalau perlu terpingkal-pingkal hingga mual. Mungkin dengan rasa mual akibat mentertawai korupsi bisa mengalihkan dan mengalahkan rasa mual akibat terlalu lama mencium aroma (maaf) ‘kentut nasional’ yang semakin hari semakin kental, sementara kita tak sanggup menemukan solusi yang melegakan hati. Drama korupsi agaknya lebih nyaman disikapi sebagai serial dagelan konyol yang tak butuh apresiasi metodis dan analisis akademis. 

“Yang penting heppiii...“ Tertawa sepuasnya sampai seakan-akan gila, lalu coba sesekali berpikir gila. Tak perlu pakai logika, sebab logika dan hukum legal formal belum terbukti cukup menandingi kedigdayaan para koruptor. Jangan-jangan kegagalan kita memerangi korupsi memang karena ada keterlibatan jin dalam jaringan korupsi di negeri ini. Namanya juga makhluk gha’ib, semua tak jelas, buram, samar-samar bahkan kadang gelap pekat. Kasus-kasus besar penggelapan uang negara yang nampak “nyata” di depan mata pun akhirnya menjadi gha’ib, raib begitu saja, sementara aromanya masih tercium kuat di hidung rakyat. Barangkali memang jin itu yang ‘meng-ghaib-kan’ jejak-jejak koruptor dan berkas-berkas korupsi. Kalau bukan jin, manusia mana yang memiliki kedigdayaan setinggi itu?

Kita layak untuk tertawa. Mentertawai kebodohan kita sebagai manusia yang ternyata kalah digdaya dari jin. Padahal kita semua yakin bahwa manusia adalah makhluk paling mulia di alam semesta, sampai-sampai malaikat (termasuk jin) diperintahkan untuk bersujud sebagai bukti penghormatan. Meskipun dalam agama ada penjelasan perihal keterlibatan jin dalam kejahatan manusia (termasuk korupsi), tapi kali ini kita tak perlu membahasnya dari perspektif agama. Terlebih keberagamaan kita juga sudah terkorupsi sedemikian hebatnya, sampai-sampai, di negeri koruptor dan agama KTP, nyaris tak bisa dibedakan lagi orang yang benar-benar beragama dengan yang hanya berlabel agama.

Kadang untuk meraih kesuksesan harus dimulai dengan kegilaan. Ada sebuah nasehat, “Jika ingin menangkap pencuri, engkau harus berpikir sebagai pencuri.” Untuk bisa meringkus penjahat luar biasa dan gila, kita juga perlu berpikir dan beraksi dengan luar biasa dan gila, setidaknya untuk sementara. Jika masih tetap memakai cara biasa dan waras, terlalu sulit diharapkan hasilnya, bisa-bisa malah kita sendiri yang benar-benar gila permanen. Sedikit berpikir gila, anggap saja jin memang terlibat dalam korupsi, buktinya salaman ala siluman sudah membudaya. Setan-setan pun sudah bebas berkeliaran mencari mangsa, memperluas pangsa, menggerogoti kewarasan bangsa. Transaksi hitam kesepakatan setan ada di mana-mana. Jin, siluman, setan, manusia dan kejahatan punya keterkaitan yang tak terpisahkan.

"Yang penting heppiii..." Sekedar mengisi waktu jeda, mengendurkan saraf dengan tertawa sepuasnya semoga menunda kita untuk tidak bersegera menjadi benar-benar gila. Lantas terhanyut dalam ilusi dan kehilangan jati diri sebagai manusia, bertingkah semakin pandir karena sudah buntu berpikir. Berulang-ulang membuat kekonyolan, membersihkan lantai dengan sapu kotor, berkorupsi untuk memerangi koruptor. Seperti kisah keterlibatan jin dalam kisah sekuel iklan sebelumnya, ketika seseorang terjebak dalam lingkaran korupsi birokrasi. Dalam kebingungan dan keputusasaan ia bertemu dengan jin  yang menawari permintaan. Hanya satu yang ia minta, “Korupsi, pelicin, sogokan, hilang dari bumi Indonesia,” lalu jin menjawab dengan kata khas penuh muslihat, “Wani piro...???”

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://angkatankelas11.blogspot.com/2012/05/iklan-djarum-76-versi-kontes-sulap-jin.html

Saturday, June 23, 2012

Opera Sebuah Negara Kota


semula aku tertawa terpingkal-pingkal
menghibur diri menutupi rasa kesal makin mengental
melihat bocah-bocah nakal bertingkah binal
berebut kursi keramat di majelis-majelis amanat
tanpa istinja, tanpa cuci kaki dan basuh muka
atau bersih-bersih diri selayaknya

ataukah memang sudah tabiat bocah
belum sadar diri, belum baligh dan belum berakal
hingga terbebas dari tanggung jawab moral?

akhirnya aku menangis tersedu-sedu
melampiaskan rasa sedih mengiris kalbu
melihat bocah-bosah badung bertingkah pongah di gedung-gedung
gedung MPR, gedung DPR, gedung DPRD, gedung pengadilan, gedung pemerintahan
gedung gubernur, gedung bupati, gedung camat dan gedung balai desa
gedung kampus dan sekolah, gedung pertokoan mewah, gedung perkantoran megah
gedung bursa efek, gedung stadion, gedung pameran
gedung pertemuan dan acara-acara pesta, gedung segala gedung
semua jadi terlihat sama kongruen dan sebangun
ruang besar pertunjukan opera

tergelar serial jutaan cerita versi berbeda
dongeng, mitos, hikayat, riwayat dan legenda
penuh eksotik, estetik, eksentrik, heroik dan romantik
kolaborasi cantik, menarik sekaligus menggelitik
namun semua berakhir tragedi klasik

aku hanya menangis tersedu-sedu
menghayati alur cerita sedih dan pilu

yang lain menangis terisak-isak
sambil mengurut dada yang makin sesak

yang lain lagi menangis meraung-raung
jeritan derita tinggi membumbung

yang lain lagi lain lagi menangis diam-diam
air mata kering kelopak lebam

pertunjukan usai, tapi tak satupun penonton bergeming
larut dengan ekspresi tangisan masing-masing
semua menangis, semua menangis, semua menangis
hingga hujan air mata menipis dalam gerimis

tinggal beberapa di antaranya terlihat biasa-biasa saja
tak menangis, tak pula tertawa
ternyata mereka tengah tertidur di gedung opera
tak mengikuti jalan cerita dan peristiwa... ***

Salam...
El Jeffry




Bait Terakhir Ramalan Jayabaya



140.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati


tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal

141.
banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti


banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya

142.
pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha


sungguh zaman gonjang-ganjing
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
beruntunglah bagi yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada

143.
ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu


raja tidak menepati janji
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah di atas kuda
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur

144.
sing edan padha bisa dandan
sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong


yang gila dapat berdandan
yang membangkang semua dapat
membangun rumah, gedung-gedung megah

145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara


orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habis
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe


orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret
sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman


bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah kena pajak
wanita memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal terjadinya
zaman gonjang-ganjing

148.
akeh wong janji ora ditepati
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci


banyak orang berjanji diingkari
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang menipu
tidak melaksanakan hukum Allah
barang jahat dipuja-puja
barang suci dibenci

149.
akeh wong ngutamakake royal
lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale


banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya

150.
ukuman ratu ora adil
akeh pangkat jahat jahil
kelakuan padha ganjil
sing apik padha kepencil
akarya apik manungsa isin
luwih utama ngapusi


hukuman raja tidak adil
banyak yang berpangkat, jahat dan jahil
tingkah lakunya semua ganjil
yang baik terkucil
berbuat baik manusia malah malu
lebih mengutamakan menipu


151.
wanita nglamar pria
isih bayi padha mbayi
sing pria padha ngasorake drajate dhewe


wanita melamar pria
masih muda sudah beranak
kaum pria merendahkan derajatnya sendiri

Bait 152 sampai dengan 156 tidak ada (hilang dan rusak)

157.
wong golek pangan pindha gabah den interi
sing kebat kliwat, sing kasep kepleset
sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik
sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati
nanging sing ngawur padha makmur
sing ngati-ati padha sambat kepati-pati


tingkah laku orang mencari makan seperti gabah ditampi
yang cepat mendapatkan, yang lambat terpeleset
yang besar beramai-ramai membuat yang kecil terjepit
yang angkuh menengadah, yang takut malah mati
namun yang ngawur malah makmur
yang berhati-hati mengeluh setengah mati

158.
cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendring
melu Jawa sing padha eling
sing tan eling miling-miling
mlayu-mlayu kaya maling kena tuding
eling mulih padha manjing
akeh wong injir, akeh centhil
sing eman ora keduman
sing keduman ora eman


cina berlindung karena dilempari lari terbirit-birit
ikut orang Jawa yang sadar
yang tidak sadar was-was
berlari-lari bak pencuri yang kena tuduh
yang tetap tinggal dibenci
banyak orang malas, banyak yang genit
yang sayang tidak kebagian
yang dapat bagian tidak sayang

159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar
utang nyawa bayar nyawa
utang wirang nyaur wirang


selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
(sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)
akan ada dewa tampil
berbadan manusia
berparas seperti Batara Kresna
berwatak seperti Baladewa
bersenjata trisula wedha
tanda datangnya perubahan zaman
orang pinjam mengembalikan,
orang berhutang membayar
hutang nyawa bayar nyawa
hutang malu dibayar malu

160.
sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa
ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener
lawase pitung bengi,
parak esuk bener ilange
bethara surya njumedhul
bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur
iku tandane putra Bethara Indra wus katon
tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa


sebelumnya ada pertanda bintang pari
panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur
lamanya tujuh malam
hilangnya menjelang pagi sekali
bersama munculnya Batara Surya
bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut
itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak
datang di bumi untuk membantu orang Jawa

161.
dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan
wetane bengawan banyu
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca
arupa pagupon dara tundha tiga
kaya manungsa angleledha


asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur
sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca
berupa rumah merpati susun tiga
seperti manusia yang menggoda

162.
akeh wong dicakot lemut mati
akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis
tan kasat mata, tan arupa
sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayaka perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji


banyak orang digigit nyamuk,
mati banyak orang digigit semut, mati
banyak suara aneh tanpa rupa
pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar
tak kelihatan, tak berbentuk
yang memimpin adalah putra Batara Indra,
bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya menjadi perwira perang
jika berperang tanpa pasukan
sakti mandraguna tanpa azimat

163.
apeparap pangeraning prang
tan pokro anggoning nyandhang
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang
sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang


bergelar pangeran perang
kelihatan berpakaian kurang pantas
namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak
yang menyembah arca terlentang
cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan

164.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong


putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa kedua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong

165.
pendhak Sura nguntapa kumara
kang wus katon nembus dosane
kadhepake ngarsaning sang kuasa
isih timur kaceluk wong tuwa
paringane Gatotkaca sayuta


tiap bulan Sura sambutlah kumara
yang sudah tampak menebus dosa
dihadapan sang Maha Kuasa
masih muda sudah dipanggil orang tua
warisannya Gatotkaca sejuta

166.
idune idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesti mati
ora tuwo, enom padha dene bayi
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada
garis sabda ora gentalan dina,
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa
nanging inung pilih-pilih sapa


ludahnya ludah api
sabdanya sakti (terbukti)
yang membantah pasti mati
orang tua, muda maupun bayi
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi
garis sabdanya tidak akan lama
beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya
tidak mau dihormati orang se tanah Jawa
tetapi hanya memilih beberapa saja

167.
waskita pindha dewa
bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira
pindha lahir bareng sadina
ora bisa diapusi marga bisa maca ati
wasis, wegig, waskita,
ngerti sakdurunge winarah
bisa pirsa mbah-mbahira
angawuningani jantraning zaman Jawa
ngerti garise siji-sijining umat
Tan kewran sasuruping zaman


pandai meramal seperti dewa
dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda
seolah-olah lahir di waktu yang sama
tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati
bijak, cermat dan sakti
mengerti sebelum sesuatu terjadi
mengetahui leluhur anda
memahami putaran roda zaman Jawa
mengerti garis hidup setiap umat
tidak khawatir tertelan zaman

168.
mula den upadinen sinatriya iku
wus tan abapa, tan bibi, lola
awus aputus weda Jawa
mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
gegawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda


oleh sebab itu carilah satria itu
yatim piatu, tak bersanak saudara
sudah lulus weda Jawa
hanya berpedoman trisula
ujung trisulanya sangat tajam
membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan

169.
sirik den wenehi
ati malati bisa kesiku
senenge anggodha anjejaluk cara nistha
ngertiyo yen iku coba
aja kaino
ana beja-bejane sing den pundhuti
ateges jantrane kaemong sira sebrayat


pantang bila diberi
hati mati dapat terkena kutukan
senang menggoda dan minta secara nista
ketahuilah bahwa itu hanya ujian
jangan dihina
ada keuntungan bagi yang dimintai
artinya dilindungi anda sekeluarga

170.
ing ngarsa Begawan
dudu pandhita sinebut pandhita
dudu dewa sinebut dewa
kaya dene manungsa
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandhang


di hadapan Begawan
bukan pendeta disebut pendeta
bukan dewa disebut dewa
namun manusia biasa
bukan kekuatan lain diterangkan jelas
bayang-bayang menjadi terang benderang

171.
aja gumun, aja ngungun
hiya iku putrane Bethara Indra
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
hiya siji iki kang bisa paring pituduh
marang jarwane jangka kalaningsun
tan kena den apusi
marga bisa manjing jroning ati
ana manungso kaiden ketemu
uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela
iku dudu wektunira
nganggo simbol ratu tanpa makutha
mula sing menangi enggala den leluri
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu
beja-bejane anak putu


jangan heran, jangan bingung
itulah putranya Batara Indra
yang sulung dan masih kuasa mengusir setan
turunnya air brajamusti pecah memercik
hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk
tentang arti dan makna ramalan saya
tidak bisa ditipu
karena dapat masuk ke dalam hati
ada manusia yang bisa bertemu
tapi ada manusia yang belum saatnya
jangan iri dan kecewa
itu bukan waktu anda
memakai lambang ratu tanpa mahkota
sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,
jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh
keberuntungan ada di anak cucu

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada
ing zaman kalabendu Jawa
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa
cures ludhes saka braja jelma kumara
aja-aja kleru pandhita samusana
larinen pandhita asenjata trisula wedha
iku hiya pinaringaning dewa


inilah jalan bagi yang ingat dan waspada
pada zaman kalabendu Jawa
jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa
yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga
jangan keliru mencari dewa
carilah dewa bersenjata trisula wedha
itulah pemberian dewa

173.
nglurug tanpa bala
yen menang tan ngasorake liyan
para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
angagem trisula wedha
para pandhita hiya padha muja
hiya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang
nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandane kalabendu wis minger
centi wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya
padha asung bhekti


menyerang tanpa pasukan
bila menang tak menghina yang lain
rakyat bersuka ria
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba
raja menyembah rakyat
bersenjatakan trisula wedha
para pendeta juga pada memuja
itulah asuhannya Sabdopalon
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur
segalanya tampak terang benderang
tak ada yang mengeluh kekurangan
itulah tanda zaman kalabendu telah usai
berganti zaman penuh kemuliaan
memperkokoh tatanan jagad raya
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi

Sumber: http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/bait-terakhir-ramalan-jayabaya/