Sunday, May 20, 2012

PANDIR BERPIKIR, GAGAP BERSIKAP


(Bedah Hikmah Di Balik Dua Musibah Bangsa, Sukhoi dan Gaga)

Hiruk-pikuk suara berita di media dalam dua kejadian sepekan terakhir, tragedi Sukhoi dan polemik Lady Gaga makin menunjukkan wajah asli manusia Indonesia. Hampir seluruh lapisan terhanyut dalam merespon-sikapi dua peristiwa itu, kadang bahkan tanpa tahu arah juntrungannya. Alhasil, kembali massa tumpah ruah di ‘pasar kaget’ media massa , hiruk pikuk berpadu antara yang berkepentingan dengan mereka yang hanya iseng-iseng cari hiburan, atau sekedar melepas ‘kegalauan sosial’.

‘Gosip nasional’ terbentuk, bercampur aduk antara duka keluarga korban Sukhoi nahas, ‘luka’ Rusia yang ‘kehilangan muka’ atas kegagalan uji coba teknologi angkutan udara, sikap gagap berjama’ah dalam menghadapi musibah, gempita ‘perang baratayudhalaskar FPI-MUI versus laskar Gaga, pertempuran norma-moral agama versus sekuler,  pergulatan ideologi Pancasila versus kapitalisme-liberalisme, ‘polemik kebudayaan’ Timur-Barat, hingga ‘panen raya’ media massa yang mendapat booming omzet dengan warta up to date berdaya jual tinggi, ‘sumber rezeki’ bagi internet, koran, majalah dan televisi.

Campur aduk antara opini, reportase, entertainment, berbaur dalam aroma ilmiah, religius dan mitos, lantas tanpa sadar kita melupakan esensi dari seluruh peristiwa dan berita, bahwa pers adalah alat perjuangan dan media pencerdasan bangsa.

Bangsa ini memang senantiasa pandir dalam berpikir, bebal menangkap massage peristiwa berulang, melihat dunia dengan kacamata temporal-insidental, lalu bersikap parsial-tekstual. Kita selalu gagap menyikapi ragam problema, salah eja dalam membaca running text yang rutin tertera di layar monitor kehidupan nyata.

Tragedi sukhoi adalah musibah yang sudah menjadi keniscayaan dalam dunia, semestinya tetap ditempatkan dalam koridor musibah, pesan hikmah itu yang menjadi prioritas. Inilah yang membedakan keterpurukan bangsa kita dengan kemajuan bangsa Barat . Kita lebih gemar menunjukkan empati kemanusiaan secara simbolik-ritual namun mengabaikannya nilai-nilai esensial, bahwa kemanusiaan sesungguhnya adalah ketika kita menempatkan hak manusia yang masih hidup di atas hak manusia yang telah mati.

Sedangkan orang Barat yang kita anggap lebih mendewakan teknologi ketimbang empati kemanusiaan dalam menyikapi musibah, mereka telah menciptakan black box, teknologi transportasi udara yang dirancang untuk mengungkap misteri penyebab musibah, apakah karena kesalahan rancang teknologi, sabotasi dan tindakan teror, atau murni human error. Dari situlah sikap baru dimunculkan, penyempurnaan teknologi, antisipasi keamanan, hingga perubahan aturan perekrutan ahli dan kru pesawat, agar tragedi yang sama tidak terulang kedua kali, atau setidaknya meminimalisir, tentu demi keselamatan, keamanan dan kemaslahatan manusia yang masih hidup di masa berikutnya.

Dibandingkan dengan musibah jatuhnya Sukhoi, Lady Gaga juga boleh dikatakan termasuk  musibah moral yang jauh lebih dahsyat. Masyarakat terperangkap dalam polemik dan konflik, antara yang paham agama dengan simbol MUI-FPI dengan yang awam agama yang getol menperjuangkan konser akbar agar tetap terlaksana. Lagi-lagi masyarakat awam yang selalu jadi korban permainan bisnis kapitalisme dan syahwat hiburan dan hura-hura konsumerisme. Manusia-manusia pandir tak akan rasional berpikir. Pengamat-pengamat pandir tak akan  memberi ‘pencerahan’ intelektual. Pejuang-pejuang moral pandir juga tak akan efektif mentransformasi moral dengan cara bermoral.

Kepandiran berpikir melahirkan kegagapan bersikap, sebab gagal menangkap akar dari pohon syajarah kejadian, intisari dari plasma-ampas masalah dalam segala bentuknya. Seperih apapun musibah menimpa anak bangsa, tentunya persoalan manusia lebih dari dua ratus empat puluh jiwa juta yang masih bernyawa tetap jauh lebih utama. Semestinya gelintiran masalah tidak mengecoh kita dari gelontoran masalah sebenarnya, kasus korupsi yang hingga saat ini masih menjadi ‘monster’ buas dan big puzzle lingkaran setan. 

Secara tidak sadar kita nyaris dipalingkan sejenak dari haqqul-mushibah, the real disaster, musibah yang sebenarnya. Kepandiran massal-nasional akhirnya layak di tempatkan sebagai musibah di atas segala musibah, sebab kepandiran bahkan lebih parah dari kebodohan. Zaman jahiliyyah sedang berlangsung, dan bangsa ini masih belum cerdas untuk membuka hijab kegelapan karena belum proporsionalnya perbandingan antara kaum ‘pencerah-pembenah’ dengan kaum ‘penggelap-perusak.’

Kecerdasan bangsa ini telah mencapai titik nadir dengan grafik menukik tajam semenjak lahirnya the best generation pendiri NKRI, founding fathers, khoiru ummah, produk terbaik Indonesia generasi ’45 yang dengan ‘berdarah-darah’ membuka gerbang kemerdekaan, selebrasi pertama goal-nya cita-cita bangsa selama tiga setengah abad.  Selama kita belum barhasil menangkap mutiara-mutiara hikmah dari setiap peristiwa, alangkah lebih baiknya untuk tidak berharap banyak kepada masa depan kita, sebab tragedi Sukhoi dan dan polemik Gaga akan selalu berulang sepanjang masa dengan rupa berbeda. Tinggal terserah kita, akan tetap ber-asyik-masyuk-ria dengan kepandiran dan kegagapan, atau bersegera tapa-brata mencerahkan jiwa-jiwa dalam kawah candradimuka peristiwa, menempa kecerdasan intelektual-spiritual untuk memperoleh kearifan kebijaksanaan memikul amanat khalifah memakmurkan bumi nusantara. ***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment