Tuesday, November 20, 2012

Pelajaran dari Orang Gila


Bila kita hendak mengerti arti kesadaran, cobalah bertanya pada orang gila apakah dia mengaku ‘kegilaannya’. Sepertinya mustahil ada orang gila yang mengakui ‘kegilaanya’. Salah-salah justru kita yang waras yang dituduh gila. Jika dia mengakui kegilaannya, berarti dia tidak gila, belum gila, atau masih ada sisa-sisa kewarasan di antara kehilaannya meski hanya beberapa persen saja.

Dalam hal kesadaran, sama saja orang gila dengan orang tidur, wong edan, gebleg, mabuk, anak di bawah umur, pikun kelewat umur, pingsan, lupa, lalai, terlena, terbuai, mati suri, linglung, ngelindur dan ngelantur. Hilang kesadaran, apapun bentuk dan istilahnya tidak termasuk dalam kategori manusia sehat, sempurna, baligh dan berakal. 

konon katanya, kesadaran adalah tolok ukur kesempurnaan manusia. Oleh karena itu orang yang tidak memiliki kesadaran tidak dibebani tanggung jawab hukum, sebab sudah menjadi konsensus bersama manusia sedunia bahwa mereka ‘tidak di anggap’ sebagai golongan manusia. 

Maka manusia yang dalam hidupnya tidak memiliki kesadaran hukum pun ‘dianggap’ tidak termasuk dalam spesies manusia, meskipun terlihat oleh mata kepala wadag-kasar bahwa dia sadar, terjaga, dewasa, berakal dan normal.

Seorang teman pernah berkata, “Jika untuk tidak telanjang dijalanan raya mesti mesti menunggu peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum, maka ia tidak termasuk manusia.” Hal yang sama bisa berlaku dalam hal pencurian yang mentradisi di negeri ini. Jika untuk tidak mencuri dan korupsi harus menunggu peraturan perundang-undangan hingga detil pasal-pasal hingga ayat-ayat formal dan bergantung total kepada ketokan palu di meja pengadilan, maka ia bisa pula dikatakan sebagai “bukan spesies manusia.”

Hukum-hakim-hikmah-mahkamah, sesungguhnya ada dalam tiap jiwa manusia, pelajaran alam selalu terhidang di depan mata,  di tiap saat, di tiap tempat. Hukum alam, hukum Tuhan, hukum karma, dharma-dhamma aturan semesta yang jelas-tuntas bagi jiwa-jiwa yang tak buta. Hukum legal-formal hanyalah simbol pengikat makna untuk memperjelas tata aturan antar manusia.

Siapa di antara kita yang berminat untuk terbebas dari beban hukum, baik hukum adat-tradisi, hukum agama maupun hukum negara, dipersilahkan untuk menjadi orang gila, di jamin tak ada tuntutan hukum dan bisa berbuat bebas sebebas-bebasnya, bahkan tak berdosa bila harus hidup dengan cara-cara rimba atau pola binatang melata.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment