Saturday, May 12, 2012

Keteladanan: Motor Penggerak Perubahan Peradaban



Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. "(QS Al-Ahzab [33]: 21)

     Perubahan peradaban dunia dimulai dari perubahan satu orang, perubahan satu orang dimulai dengan keteladanan, dan keteladanan di mulai dengan ucapan: “Dan aku diperintahkan supaya  menjadi orang yang pertama-tama berserah diri” (QS Az-Zumar [39]:  12)

      Perubahan, pembaharuan, perbaikan dan pembenahan akidah (keyakinan-agama) dan akhlak (perilaku-perbuatan) dari kebudayaan dan peradaban pada sebuah kaum (umat-bangsa) berjalan dari pergerakan (progresivitas) seseorang di atas seruan (dakwah). Seruan terbaik terbentuk dari dua kombinasi lisan-ucapan (dakwah bil-lisaan) dan perilaku-keteladanan (dakwah bil-haal).

      Itulah inti keteladanan (uswatun hasanah) dan itulah kenapa keteladanan menjadi motor penggerak utama, terlebih ketika situasi komunitas (kaum-umat-bangsa), dalam hal ini negeri kita, Indonesia tengah berada dalam kemandegan (kejenuhan-stagnasi) dan kungkungan situasi kritis tradisi-jahili-sekuler (budaya kegelapan-keterpisahan agama dari negara).

     Sebaris ikrar telah kita ucapkan: “innash-shalaatiy wanusuukiy wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbil ‘aalamin, laa syariikalahu wa bi dzaalika umirtu wa ana awwalul muslimiin

    Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang pertama berserah diri...” 

     Orang pertama, yang memulai, yang mengawali, garda terdepan dari sebuah perubahan, itulah motor penggerak energi terbesar, sebuah perpaduan selaras antara kekuatan lisan (komunikasi, diplomasi, persuasi, argumentasi) dan kekuatan perilaku (aksi dan realisasi), tak hanya seruan ajakan basa-basi tanpa bukti dan tak hanya pula beraksi sendiri tanpa mengajak lewat komunikasi.

      Manusia sebagai makhluk pecinta kemapanan cenderung menolak sesuatu yang asing dan baru, terlepas baik atau buruk, salah atau benar. Itu sudah menjadi kodrat alam (sunnatullah), “Setiap benda berusaha mempertahankan keadaan (posisi-situasi)nya dan cenderung mengadakan perlawanan terhadap perubahan yang mempengaruhinya.”

     Penghambatan (resistensi) terhadap perubahan yang sudah menjadi naluri fitrah manusia (individual maupun sosial-komunal) memaksakan terciptanya sebuah pertarungan (pemikiran, ideologi, akidah-keyakinan-agama) antara “yang lama” versus “yang baru”. Jika “yang lama” lebih kuat dari “yang baru” maka perubahan gagal diwujudkan. Dan jika “yang baru” lebih kuat dari “yang lama” maka terciptalah perubahan.

     Pertarungan antara kegelapan dan cahaya menjadi hukum tetap yang berlaku sepanjang zaman. Nabi-nabi hadir dan diturunkan sebagai pejuang perubahan dengan misi suci membebaskan dunia dari kegelapan menuju cahaya (mina-zh-zhulumaati ilan-nuur).

     Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah". Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS Ibrahim [14]: 5)

     Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (QS Al A’raf [7]: 94)

      Sebuah tantangan bagi para pejuang pembaharuan sebagai generasi penerus pewaris risalah kenabian untuk melanjutkan misi memenangkan pertarungan, dengan diterimanya perubahan menuju perbaikan dan kesempurnaan, sudah sejauh manakah kemampuan menghimpun dua kekuatan lisan dan perilaku dalam menyeru (dakwah), ucapan (ikrar internal), komunikasi (diplomasi) dan keteladanan perilaku (realisasi aksi).

Sebuah pepatah berkata: “Engkau tak bisa menjual pakaian dengan tubuh telanjang...” 
“Janganlah menjadi seperti tukang pos, engkau hantarkan surat kepada ribuan orang, tapi engkau sendiri tak pernah membuka dan membaca isinya...”

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” "(QS Ash-Shaff [61]: 2-3)

      Mestinya agama (islam) di negeri ini tak hanya berhenti pada sebatas wacana dalam kajian-kajian mendalam tanpa aksi nyata dan mampu melahirkan ide-gagasan-pemikiran sebagai solusi brilian dalam rangka membongkar dan memutus “lingkaran setan” problematika peradaban dan kebudayaan bangsa.

     Mestinya pula agama bukan hanya sekedar kesalehan individual-seremonial sakral (hablum minallaah), namun juga selaras dengan kesalehan sosial-teraplikasi riil dalam kehidupan bermasyarakat (hablum minan-naas).

    Semoga ‘ruh-spiritual’ agama mampu menjawab tantangan ke depan bagi para pejuang "agama haqq" dalam menghadang gempuran arus teknologi, globalisasi, liberalisme ala Barat dan kapitalisme yang semakin hari semakin buas menjerat umat. 
Dengan keteladanan, semoga setiap muslim mampu berperan aktif dalam kadar kemampuan optimal masing-masing merahmati dunia dengan agama sempurna, agama yang menang atas semua agama (pemikiran, gagasan, dan ideologi), dengan perubahan dan pembaharuan progresif jiwa umat bangsa, sehingga cahaya memancar kuat menerangi dunia.

     Semoga kita tak pernah ragu untuk mengatakan: “Akulah yang pertama-tama...”, lalu beritikad kuat memenuhi ikrar lisan itu, dengan segenap kemampuan untuk membuktikan apa yang telah lisan kita ucapkan, tentu dengan tetap memohon petunjuk dan pertolongan-Nya, Allah azza wa jalla, Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

“...Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. “(QS Al-Hajj [22]: 40).

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.“(QS Al-Fath [48]: 28)”


Wallaahu a’lam

Wassalam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment