Saturday, May 5, 2012

Aku (Masih) Gagal Menjadi Khalifah


Aku bercita-cita, andai bisa, aku ingin menaklukkan dunia dalam satu kekuasaan dan satu kepemimpinan, seorang khalifah. Namun ternyata itu ekstra susah, lalu kuciutkan wilayah, cukuplah menyatukan beberapa negara dalam satu benua, seperti USA atau Uni Eropa. Tapi nyatanya tidak semua negara di benua Amerika rela berserikat sebagai negara bagian, dan Uni Eropa juga belum merupakan penggabungan kekuasaan dan kepemimpinan negara.

Lalu kuciutkan lagi, andai bisa menyatukan beberapa negara dalam satu kawasan asia tenggara, ASEAN. Ternyata sama saja, ini hanyalah organisasi kerjasama untuk kepentingan tertentu saja, belum pada penyatuan negara.


     Mungkin lebih mudah jika kucukupkan untuk menyatukan pulau-pulau dan suku yang tersebar di nusantara, dalam satu wadah NKRI, satu kepemimpinan, seorang khalifah, pemimpin wilayah, presiden bolehlah sebagai istilah.

     Ternyata itu masih susah, 350 tahun berpecah-belah karena ulah penjajah, 66 tahun merdeka masih terpisah-pilah oleh kesukuan, golongan, budaya dan agama. Pemberontakan dan pemisahan wilayah, gerakan separatis selalu eksis. Fretilin, GAM, OPM, DI/TII-NII, dan gerakan-gerakan pemaksaan dan kekerasan tak henti menghiasi sejarah republik ini.

     Khalifah selalu berpayah-payah menjalankan roda pemerintah. Rakyat berpecah-pecah sebagai jama’ah, ukhuwwah terbelah-belah, tali keluarga-silaturahim patah-patah. Mungkin akan lebih mudah bila kuciutkan menjadi satu wilayah provinsi saja, tapi tidak, itu pasti masih susah. Kabupaten, kecamatan, desa, dusun, hingga keluarga dalam satu rumah tangga.

     Ya, khalifah rumah tangga, aku sebagai khalifah, anak, isteri dan pembantu menjadi jama’ah, rumah kecil menjadi wilayah. Ternyata itupun masih susah, perpecahan, perselisihan, pertengkaran, perdebatan, ketegangan, pertikaian, pertempuran-pertempuran kecil mewarnai hari-hari nyaris abadi sampai kini. Tetap saja mereka tak mudah untuk ditaklukkan dalam satu kepemimpinan, satu khalifah, miniatur khilafah di dunia.

     Bahkan ketika kuputuskan untuk menegakkan khilafah terkecil di atas bumi, satu jiwa, jiwaku sendiri, itupun masih butuh perjuangan dan pertempuran sengit tanpa pernah padam. Panca indera, anggota badan, beberapa organ, nafsu syahwat dan keinginan seakan jutaan rakyat yang selalu liar dan enggan tunduk di bawah satu kepemimpinan, akal ini, logika yang ada di kepala dan pekerti yang ada di lubuk hati.

     Empat dekade, dua pertiga periode, empat puluh ronde, pemberontakan dan kezaliman silih berganti mengisi tiap nafas yang terhembus. Kepemimpinan, keadilan, kekuasaan, otonomi dan otoritas diri masih saja gagal menyatukan elemen dan eksponen dalam satu wilayah kecil, hanya satu jiwa, jiwa ini, jiwaku. Ternyata keadilan itu belum tegak, kezaliman itu masih beraksi dengan congkak.

     Hingga kuciutkan lagi untuk menghibur diri menutupi kegagalanku, kepemimpinan ini cukup dalam batas menaklukkan wilayah utama jiwa, menyelaraskan hati, ucapan dan perbuatan untuk tunduk pada satu pemimpin, akal ini, satu-satunya khalifah jiwa ini, penguasa tertinggi, otoritas dan otonomi penuh tanpa pengaruh invasi, pertempuran abadi yang belum pernah kumenangi sampai detik akhir ini.

     “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." “(QS [2] Al-Baqarah:30)

     “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. “(QS [38] Shaad:30)

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment