Wednesday, May 30, 2012

Pemikir Sejati, Hanya 5% Di Dunia...!!!


Syahdan, Thomas Alfa Edison, pernah berkata: “Di dunia ini hanya lima persen manusia yang benar-benar pemikir (pemikir sejati). Sepuluh persen lainnya sadar dirinya harus berpikir. Sedang sisanya, merasa lebih baik mati dari pada disuruh berpikir.” Artinya, mayoritas manusia (85%) menjadi tanggung jawab minoritas (15%), dan tanggung jawab terbesar adalah pemikir sejati (5%).

Itu Amerika pada masa sang ilmuwan penemu bola lampu itu hidup (1847-1931), lebih dari seabad silam. Untuk saat ini mungkin prosentase pemikir sejati lebih tinggi lagi, bisa 20%, atau lebih bisa dilihat dari perkembangan pemikiran dan peradaban bangsa Amerika.

Sedang di Indonesia, Majapahit abad 15 era Gajah Mada dengan Sumpah Palapa pada tahun 1336 yang berhasil mempersatukan wilayah nusantara mungkin dianggap sebagai puncak peradaban bangsa kita, prosentase manusia pemikir (beradab) bisa lebih tinggi dari Amerika, bahkan waktu itu Amerika belum ada (Columbus baru menemukan benua itu pada tahun 1492).

Di era modern, kebangkitan pemikiran (kebangsaan-para pemuda) Indonesia dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908, yang dikukuhkan 20 tahun kemudian dengan ikrar Sumpah Pemuda 1928, lalu pergerakan pemikiran bangsa mencapai puncaknya dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, muara dari arus perjuangan pemikiran Indonesia setelah terkungkung imperialisme Eropa 350 tahun lamanya. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa generasi ‘45 adalah generasi terbaik bangsa, tak heran jika era ini merupakan anti klimaks dari peradaban (baca: pemikiran) Indonesia.

Bukankah pemikiran manusia adalah penentu peradaban dunia? Semakin tinggi prosentase pemikir dalam suatu bangsa, semakin tinggi pula tingkat peradaban dan peluangnya untuk menjadi pemenang dalam arena pertarungan peradaban dunia. Pertarungan peradaban terbesar duni era perang dingin antara kapitalisme (liberalisme) dan komunisme (marxisme-sosialisme) identik dengan pertarungan pemikiran (ideologi), hingga akhirnya kapitalisme yang dimotori Amerika Serikat menjadi pemenang, meskipun pada masanya komunisme juga pernah sempat berjaya, setidaknya di Uni Sovyet (sekarang Rusia) dan Eropa Timur.

Ada sebuah teori (pendapat)yang mengatakan, bahwa grafik peradaban bergerak seperi busur panah. Dari nol, menuju puncak, lalu bisa kembali nol lagi, titik terbawah. Diakui atau tidak, grafik peradaban nusantara sedang terjun bebas menuju titik nadir. Berkaca pada kondisi saat ini, prosentase manusia pemikir sejati Indonesia (mungkin) kurang dari 5%, bisa 1%, atau bahkan 0,1%. Dengan kata lain, seribu satu. Dalam seribu orang hanya ada satu orang  pemikir sejati. Mengenaskan bukan, jika ini terbukti benar? Anggaplah detik jumlah manusia Indonesia 250 juta jiwa, artinya, hanya hidup 250 ribu pemikir sejati di Indonesia.

Cobalah kita kira-kira saja dalam realita, dari seribu orang (teman) yang kita kenal secara acak, mungkin hanya satu orang saja kita temukan pemikir sejati. Atau bisa sejenak menengok tulisan di Kompasiana, dari 1000 Kompasianer mungkin hanya ada 1 yang menulis dari buah pemikiran sejati. Sebagian kecilnya sadar harus menulis dengan berpikir (rasional-logika).

Sisanya mereka yang menulis dengan benar, menyampaikan berita aktual dan faktual, memindahkan hafalan bacaan, menyampaikan titipan pesan, menyambungkan lidah para pemikir, menyuguhkan data-data dan statistika, mengungkapkan duplikat teori-teori dan filsafat, menyitir sya’ir para pujangga, mencurahkan perasaan gundah gulana. Malah tak sedikit (kita) yang hanya menikmati perdebatan dan adu pintar berkomentar, masih lebih baik lagi jika hanya mampir untuk sekedar cuci mata menghabiskan waktu menjelajah di dunia maya.

Mungkin ada yang menyanggah, “Tulisan itu kreativitas manusia, kan tak harus sesuai dengan pemikiran?” Nah, itu sudah menjadi jawabannya! Seorang teman berkata, “Jika ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Dan jika ingin mengenal tulisan, bacalah orangnya.” Niscaya kita akan mengenali apakah sesorang termasuk pemikir, sadar untuk berpikir, atau memilih mati dari pada disuruh berpikir.

Saya sendiri juga (sebenarnya) tak pernah percaya. Sebab kalau benar, bisa celaka, hilang harapan dan masa depan saya. Semoga ini hanya permainan angka-angka rekayasa sang ilmuwan belaka, dan semoga pula hidup bukan hanya sekedar statistika. Kalaupun benar, semoga masih ada kesempatan untuk melakukan perubahan, paling tidak, menyadari keharusan untuk berpikir, melepaskan diri dari predikat bebal dan pandir. Bapak sains dunia, Albert Einstein pernah berkata, “Hanya orang gila yang menginginkan perubahan, padahal setiap hari ia melakukan hal yang sama!”

Terakhir, masih terngiang di telinga Bung Karno pernah berkata: “Berikan Padaku Sepuluh Pemuda, maka Akan Kuguncang Dunia! 
” Bukankah pemikir itu wilayah khusus para pemuda, bukan balita, atau manula...?!  ***


Salam...
El Jeffry

SETETES MADU MERUNTUHKAN ISTANA


Ini sebuah cerita lama dari negeri ‘antah berantah’. Alkisah, pada suatu masa berkuasa seorang raja yang zalim kepada rakyatnya. Bertahun-tahun lamanya rakyat berada dalam penindasan dan penderitaan tanpa daya. Sampai pada suatu hari setetes madu mengubah segalanya, hanya dalam satu hari.

Cerita dimulai pada suatu pagi, setetes madu jatuh dari bibir gelas ke lantai istana ketika sang raja sedang meneguknya. Seekor lalat hinggap, rejeki sedap di pagi hari. Tanpa disadari lalat, seekor cicak di dinding mengendap-endap, lalu, ‘hap’, rejeki bagi cicak yang lapar mencari mangsa. Ternyata di balik dinding seekor kucing melihatnya, hal yang sama bagi kucing, makanan yang sedap, cicakpun disergap. Ketika sedang asyiknya si kucing melahap mangsanya, seekor anjing datang. Bisa ditebak, anjing dengan galaknya mengejar si kucing tanpa basa-basi. Kucingpun berlari lintang pukang.

Kejar mengejar dua ekor musuh bebuyutan berlangsung hingga ke luar istana, kucing berlari menuju rumah tuannya. Sesampainya di rumah, sang tuan marah atas kelakuan si anjing yang hendak melukai kucing yang tak bersalah. Anjing itupun dipukulnya dengan sebatang kayu sampai 'mengaing-ngaing' kesakitan. Tak terlalu jauh di sana, ternyata si empunya anjing melihat kejadian itu, iapun datang dengan marah.

Pertengkaran terjadi. Tak henti di situ, kerabat dua kubu berdatangan saling membela, menambah kisruh sengketa. Tak bisa dicegah, sengketa meluas melibatkan seluruh keluarga dan famili keduanya, perkelahian massalpun terjadi, bentrokan antar warga meluas sampai hampir seluruh wilayah kerajaan, antar dua kelompok keluarga yang berbeda. Hingga akhirnya terdengar oleh raja, bagindapun mengutus pasukan untuk meredakan suasana.

Pasukan istana yang memang kejam datang dan mengatasi kericuhan dengan brutal, hingga akhirnya memancing warga berbalik melawan. Tanpa sadar kedatangan pasukan istana menyadarkan rakyat, bahwa kubu rajalah musuh mereka sesungguhnya, kezaliman yang dirasakan bertahun-tahun lamanya. Kedua kubu yang semula bersengketapun akhirnya bersatu melawan pasukan istana.

Raja gusar, dikerahkan seluruh pasukan kerajaan. Terjadilah perang antara kubu kerajaan dengan rakyat. Tapi rakyat di seluruh kerajaan sudah terlanjur bersatu. Tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan yang telah berpadu. Rakyatpun berhasil mengalahkan pasukan kerajaan, tepat sore hari. Sang rajapun tumbang, tak berdaya meredam perlawanan rakyat.

Hanya satu hari, mulai di waktu pagi, berakhir di sore hari, kekuasan tiran, kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa bertahun-tahun runtuh dihancurkan oleh rakyat yang selama ini lemah, hanya karena persatuan, dan hanya bermula dari hal sepele, setetes madu... ***

El Jeffry

Friday, May 25, 2012

Matinya Keadilan: Salah Tradisi, Sistem, atau Hukum?


Alkisah, 'Negeri Antah Berantah' terguncang oleh sebuah peristiwa besar, terbunuhnya Sang Raja Keadilan. Berbagai rumor berkembang tentang siapa gerangan pembunuh sang Raja, sampai akhirnya ditemukan tiga tersangka pelaku utama yang berkonspirasi dalam kejahatan terencana itu.

Mereka adalah tradisi, sistem dan hukum. Setelah melalui sidang panjang dan berliku, akhirnya diputuskan, bahwa ketiganya dijatuhi hukuman mati. Pada hari yang telah ditentukan, eksekusipun siap dilakukan dengan dipimpin langsung oleh Sang Pangeran, putra mahkota. Sebelumnya, ketiga terpidana diberi kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhir.

Sang Pangeran bertanya kepada tradisi: “Wahai tradisi, apa permintaan terakhirmu?“

Tradisi berkata: “Aku hanya ingin menyampaikan pesan. Sesungguhnya aku tak bersalah apa-apa. Semula aku sesuatu yang tak ada, lalu tiba-tiba manusia menciptakan aku, membentuk perilakuku perlahan dari waktu ke waktu, mengajari aku dengan keburukan, menghidupkan aku sebagai penyakit, lalu kutanamkan diriku ke dalam tubuh  Sang Raja bertahun-tahun lamanya tanpa seorangpun manusia menyadarinya. Maka kematian beliau mustahil terelakkan, kedua kolegaku yang akan ambil bagian dalam tugas selanjutnya. Kalau engkau hendak menghukumku, maka demi Sang Raja Keadilan aku meminta agar engkau menuntut manusia, pencipta keberadaanku yang menghidupkan aku, dialah yang paling bertanggung jawab atas keburukanku. ”

Lalu pertanyaan dilanjutkan kepada sistem: “Wahai sistem, apa permintaan terakhirmu ?“

Sistem berkata : “Akupun hanya ingin menyampaikan pesan. Sesungguhnya aku tak bersalah apa-apa. Semula aku hanya butiran-butiran nilai kecil berserakan tak tertata, lalu tiba-tiba manusia berkumpul dan bersepakat untuk merangkaiku menjadi tatanan baru tanpa meminta ijinku terlebih dahulu. Akhirnya aku menjadi satu bangunan kuat saling terkait dan tak terpisahkan satu sama lain. Kalau engkau hendak menghukumku, maka demi Sang Raja Keadilan aku meminta agar engkau menuntut manusia, otak perangkaiku, dialah yang paling bertanggung jawab atas kerusakanku.”

Lalu pertanyaan dilanjutkan kepada hukum: “Wahai hukum, apa permintaan terakhirmu?“

Hukum berkata : “Akupun sama, hanya ingin menyampaikan pesan. Sesungguhnya akupun tak bersalah apa-apa, sama saja dengan dua kolegaku juga.  Semula aku tak lebih dari huruf-huruf yang tersusun menjadi kata-kata, lalu terkumpul membentuk kalimat-kalimat memuat pasal-pasal dan ayat-ayat penjelasan, peraturan dan perundang-undangan. Lalu manusia dengan penafsiran masing-masing memperalatku menjadi wayang-wayang sesat dan lakon-lakon jahat. Kalau engkau hendak menghukumku, maka demi Sang Raja Keadilan aku meminta agar engkau menuntut manusia, dalang dan ruh penggerakku, dialah yang paling bertanggung jawab atas kejahatanku. ”

Sang Pangeran berpikir sejenak, lalu berkata : “ Jika benar apa yang kalian sampaikan, maka berarti yang paling bertanggung jawab adalah manusia, dialah pencipta keburukanmu wahai tradisi, otak dari kerusakanmu wahai sistem, dan dalang atas kejahatanmu wahai hukum. “

Lalu Sang Pangeran lama terdiam. Dalam kebingungan dan kebimbangan ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri :
 “Adakah kalian hendak menuduhku yang bertanggung jawab atas kematian Sang Raja? Bukankah aku adalah manusia itu? Bagaimana mungkin aku membunuh ayahandaku sendiri, sedang dia yang melahirkan aku, merawat dan membesarkanku dengan penuh cinta dan kasih sayang? Mungkinkah aku telah mendurhakai Sang Raja Keadilan? Atau, mungkinkah aku bukan manusia?“

Tak ada yang menjawab, semua terdiam, Sang Pangeran juga terdiam, masih terus terdiam, bertahun-tahun, berabad- abad, senantiasa bertanya-tanya dalam pertanyaan abadi. Namun tak pernah mendapat jawaban pasti. Hanya menyisakan satu pertanyaan yang tertulis di atas batu prasasti yang tersimpan dan terbaca dunia dari zaman ke zaman, dari dahulu hingga kini, dan mungkin sampai esok hari.

 “Adakah semua ini realita, ataukah hanya sebuah ilusi?“ ***

El Jeffry




Thursday, May 24, 2012

KESADARAN: INDIKATOR KEHIDUPAN MANUSIA


Jika ingin mengerti arti hidup, milikilah kesadaran. Kesadaran adalah buah dari pohon akal yang ditanamkan oleh Yang Maha Tahu dalam setiap jiwa dengan simbol ditiupkannya ruh ke dalam jasad Adam sebagai peletakan batu pertama gedung opera pergelaran panggung dunia.

Kesadaran, itulah ruh manusia dan ruh alam semesta. Manusia akan mencapai puncak kesadaran, jika ia telah mengenal dirinya. Jika ia telah mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Jika ia telah mengenal Tuhannya, maka ia akan mengenal dan menyadari seluruh alam semesta. Mikrokosmos hingga makrokosmos. 
Alam semesta tercipta dalam rencana sempurna .


Kesadaran membuka gerbang jiwa ke alam merdeka. Pembebasan sebebas-bebasnya. Jiwa berkelana seperti angin, dari sebutir debu, sehelai daun, sebentang lautan hingga segugus galaksi. Mi’raj dan nuzul. Kenaikan dan penurunan secara dinamis, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi, lalu ke bawah lagi tanpa terbebani kurungan jasad dan kostum. Dari kulit menuju isi, dai isi kembali ke kulit, lalu kembali ke isi lagi,
 pelajaran kecil dari sebuah pisang.


Kesadaran menghimpun manusia dalam satu, ruh-arwah, seperti udara yang meliput bumi di atmosfer, sejatinya tetap hanya satu, tak kurang, tak lebih. Manusia sejatinya satu. Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Australia, tetap satu nama, manusia, humanisme universal. Jawa, Sunda, Papua, Madura, Batak, Manado, Dayak, Ambon, tetap satu nama, manusia. Islam, kristen, Hindu, Budha, Yahudi, Majusi, Konghucu, Shinto, bahkan atheis-komunis, tetap satu nama, manusia.

Kesadaran membebaskan jiwa dari label-label kemasan, kulit, warna, bahasa, budaya,sidik jari, DNA, pada satu nama, manusia. Kesadaran menyatukan manusia dalam satu rahmat, rahmat semesta, tak ada bedanya satu jiwa, 10 juta, 240 juta, atau 8 milyar penghuni dunia, semua berjalan si atas satu hukum, hukum kekekalan energi, energi tetap alam semesta untuk waktu azali, unlimited. Maka manusia tak akan pernah memahami dunia dan hidupnya sebelum terbangun kesadaran dan dirinya. Tak perlu terlalu jauh menghidupkan manusia dan kemanusiaan satu bangsa atau satu dunia, bahkan untuk menghidupkan dirinya sendiripun ia akan gagal, kegagalan seorang manusia menjadi khalifah bumi.

Bila ingin membandingkan kesadaran dan ketidaksadaran, lihatlah anak-anak, orang tidur, pingsan, mabuk, lupa atau orang gila Mereka tidak termasuk dalam kategori manusia, karena itu terbebas dari tanggung jawab dan beban hukum, hukum negara, hukum agama, hukum kekalan energi.

Kesadaran adalah akal sehat, akal budi pekerti, penalaran, perbandingan, penghitungan, pertimbangan, pengukuran, penakaran, pemahaman, pengetahuan, pengenalan diri, arif-ma’rifat.

Kesadaran, indikator munculnya makhluk sempurna bernama manusia...***


Salam...
El Jeffry

Wednesday, May 23, 2012

Kesepakatan Setan: Virus Ganas Paling Mematikan


“ Dan bertolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah bertolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. “ 



Taman-taman hati memang merasakan nuansa kesejukan di kala menikmati siraman rohani firman-firman Tuhansaking sejuknya sampai tertidur, lalu setelah bangun kembali ke dunia realita efek sejuk itu tak lagi terasa, ranting-ranting kembali kering, tak kuasa menahan panasnya pergulatan hidup, setan-setanpun gentayangan menawarkan barang dagangankesepakatan-kesepakatan panas, virus dosa dan permusuhanpun mengganas.


Bertolong-menolong dalam kejahatan,apapun istilahnya, korupsi ber'jamaah', suap, sogokan, sindikat, kolusi, pelicin, pungli, perselingkuhan, katebelece, surat sakti, tutup mulut, "wani piro?"  dan sederet 'genus' lain yang serupa tetap saja satu keluarga 'famili' pekerjaan setan. Kesepakatan setan adalah kerja sama rahasia dan transaksi tersembunyi bermotif kejahatan dan tercipta dengan cara-cara setan.

Adalah sebuah ironi ketika ‘pohon-pohon neraka’ ini harus tumbuh subur di negeri yang kondang sebagai negeri surga, negeri religius. Akhirnya negeri ini benar-benar menjadi 'surga' bagi setan-setan untuk menciptakan ‘transaksi bisnis haramdengan geriap tak kalah hebat dengan gempita ritual seremonial sakral. Fenomena unik, eksentrik sekaligus 'menggelitik'.

Kesepakatan setan adalah virus ganas yang diam-diam mengancam kelangsungan hidup dengan daya bunuh paling mematikan. Naluri manusia di belahan bumi manapun, terlepas dari warna kulit, bahasa, budaya, dan agama yang berbeda-beda pasti sepakat akan bahaya ‘bisnis’ ini, semua berusaha memeranginya dan menjadikannya sebagai musuh bersama dunia.

Aroma suap tercium kuat di segala sendi kehidupan bermasyarakat, dari seluruh strata sosial, dari kelas VVIP sampai kelas ekonomi, dari yang termanajemen profesional sampai yang amatiran, dari yang terencana sampai yang spontanitas. Tua muda, anak-anak dewasa, pria wanita, miskin kaya, nyaris tanpa kecuali. Dari tradisi menjelma menjadi budaya, kini terbentuklah karakter bangsa.

Setan-setan bebas berkeliaran mencari mangsa, memperluas pangsa, menggerogoti kewarasan bangsa. Dalam rumah tangga, di bangku-bangku sekolah, di meja-meja kantor, di ruang tunggu bandara, di tangga-tangga birokrasi, di kursi-kursi petinggi dan politisi, di brankas surat wakil rakyat, di pinggir jalan, lampu merah dan trotoar, kafe-kafe dan warung-warung lesehan. Kesepakatan setan tak terbendung, menggelembung bak perut buncit, sebuncit perut orang-orang yang terbiasa ber-" salaman ala siluman " dengan senyum khas di bibir, malu-malu tapi mau karena sudah terlanjur nyandu.

Kesepakatan setan dengan segala bentuknya telah 'mengutuk' 
negeri ini mengalami mutasi genetik, kemolekan tubuh ibu pertiwi yang semula bak bidadari turun ke bumi kini tubuhnya kurus kering layaknya kurang gizi dan menyimpan virus ganas menjalar di seluruh organ. Sang ibu sekarat. Sementara anak-anak negeri tak pernah menyadari, atau sengaja membunuh kesadaran karena terlanjur menciptakan figur ‘hologram ibu sendiri tanpa pernah menjenguk kondisi faktual sang ibu yang terbaring lunglai di ruang UGD. Kelangsungan hidupnya hanya ditopang alat pacu jantung, invus nutrisi, tabung oksigen dan alat cuci darah dari segelintir anak-anaknya yang masih sadar dan peduli. 

Cobalah kita bercermin. Lihatlah rambut kita yang kusut masam, telapak tangan tebal oleh daki pengkhianatan, wajah menghitam tanpa aura cahaya. Virus ganas yang menggerogoti kesadaran telah mengkontaminasi metabolisme pemikiran dan cara pandang. Kita benar-benar telah menjadi monster, setan sesungguhnyakarena gagal mencegah invasi balatentara setan itu ke wilayah otoritas jiwa kita.

Namun tak selayaknya kita putus asa. Selagi ada kemauan, selalu
 ada harapan. Tidaklah strategi dan kekuatan setan itu melainkan tipu muslihat lemah jika manusia 'keukeuh' kepada akal sehatnya, penalaran dan logika, kebersihan hati dan kejernihan pikiran. 

K
esepakatan tercipta karena keterlibatan dua pihak. Ia dapat terhenti dan tercegah jika salah satunya menolak untuk bersepakat. Tiada guna maling teriak maling, setan teriak setan, tak akan pernah berbuah penyelesaian. 

Kesadaran dan penyadaran diri, keyakinan kebenaran pesan Tuhan, bahwa sesuatu yang terlarang adalah berbahaya dan merugikan, dan bukti-bukti nyata yang menimpa para pelanggar larangan itu, cukuplah menjadi alasan bagi kita untuk berjuang menghentikan kesepakatan setan, sebelum petaka besar menimpa
.

Sebagaimana ‘warning’ legendaris ‘Jangka Jayabaya’ R. Ng. Ronggowarsito, “ Iki jamane jaman edan. Sing ora ngedan ora keduman. Nanging sakbegja-begjane wong sing ngedan,luwih begja sing waspada…” Ini jamannya jaman gila, yang tidak ikut menggila tidak kebagian. Tapi seberuntung-beruntungnya orang yangmenggila, masih lebih beruntung yang waspada. Waspada dan terjaga adalah kunci utama. Semoga kelak tercipta ‘kesepakatan madani’ yang lahir dari rahim perjanjian suci. Maka ibu pertiwi akan sehat dan cantik lagi, menebar pesona keberkahan di seluruh negeri, wajah baru bangsa yang lebih baik dan lebih berbudi. *** 

El Jeffry




Sunday, May 20, 2012

PANDIR BERPIKIR, GAGAP BERSIKAP


(Bedah Hikmah Di Balik Dua Musibah Bangsa, Sukhoi dan Gaga)

Hiruk-pikuk suara berita di media dalam dua kejadian sepekan terakhir, tragedi Sukhoi dan polemik Lady Gaga makin menunjukkan wajah asli manusia Indonesia. Hampir seluruh lapisan terhanyut dalam merespon-sikapi dua peristiwa itu, kadang bahkan tanpa tahu arah juntrungannya. Alhasil, kembali massa tumpah ruah di ‘pasar kaget’ media massa , hiruk pikuk berpadu antara yang berkepentingan dengan mereka yang hanya iseng-iseng cari hiburan, atau sekedar melepas ‘kegalauan sosial’.

‘Gosip nasional’ terbentuk, bercampur aduk antara duka keluarga korban Sukhoi nahas, ‘luka’ Rusia yang ‘kehilangan muka’ atas kegagalan uji coba teknologi angkutan udara, sikap gagap berjama’ah dalam menghadapi musibah, gempita ‘perang baratayudhalaskar FPI-MUI versus laskar Gaga, pertempuran norma-moral agama versus sekuler,  pergulatan ideologi Pancasila versus kapitalisme-liberalisme, ‘polemik kebudayaan’ Timur-Barat, hingga ‘panen raya’ media massa yang mendapat booming omzet dengan warta up to date berdaya jual tinggi, ‘sumber rezeki’ bagi internet, koran, majalah dan televisi.

Campur aduk antara opini, reportase, entertainment, berbaur dalam aroma ilmiah, religius dan mitos, lantas tanpa sadar kita melupakan esensi dari seluruh peristiwa dan berita, bahwa pers adalah alat perjuangan dan media pencerdasan bangsa.

Bangsa ini memang senantiasa pandir dalam berpikir, bebal menangkap massage peristiwa berulang, melihat dunia dengan kacamata temporal-insidental, lalu bersikap parsial-tekstual. Kita selalu gagap menyikapi ragam problema, salah eja dalam membaca running text yang rutin tertera di layar monitor kehidupan nyata.

Tragedi sukhoi adalah musibah yang sudah menjadi keniscayaan dalam dunia, semestinya tetap ditempatkan dalam koridor musibah, pesan hikmah itu yang menjadi prioritas. Inilah yang membedakan keterpurukan bangsa kita dengan kemajuan bangsa Barat . Kita lebih gemar menunjukkan empati kemanusiaan secara simbolik-ritual namun mengabaikannya nilai-nilai esensial, bahwa kemanusiaan sesungguhnya adalah ketika kita menempatkan hak manusia yang masih hidup di atas hak manusia yang telah mati.

Sedangkan orang Barat yang kita anggap lebih mendewakan teknologi ketimbang empati kemanusiaan dalam menyikapi musibah, mereka telah menciptakan black box, teknologi transportasi udara yang dirancang untuk mengungkap misteri penyebab musibah, apakah karena kesalahan rancang teknologi, sabotasi dan tindakan teror, atau murni human error. Dari situlah sikap baru dimunculkan, penyempurnaan teknologi, antisipasi keamanan, hingga perubahan aturan perekrutan ahli dan kru pesawat, agar tragedi yang sama tidak terulang kedua kali, atau setidaknya meminimalisir, tentu demi keselamatan, keamanan dan kemaslahatan manusia yang masih hidup di masa berikutnya.

Dibandingkan dengan musibah jatuhnya Sukhoi, Lady Gaga juga boleh dikatakan termasuk  musibah moral yang jauh lebih dahsyat. Masyarakat terperangkap dalam polemik dan konflik, antara yang paham agama dengan simbol MUI-FPI dengan yang awam agama yang getol menperjuangkan konser akbar agar tetap terlaksana. Lagi-lagi masyarakat awam yang selalu jadi korban permainan bisnis kapitalisme dan syahwat hiburan dan hura-hura konsumerisme. Manusia-manusia pandir tak akan rasional berpikir. Pengamat-pengamat pandir tak akan  memberi ‘pencerahan’ intelektual. Pejuang-pejuang moral pandir juga tak akan efektif mentransformasi moral dengan cara bermoral.

Kepandiran berpikir melahirkan kegagapan bersikap, sebab gagal menangkap akar dari pohon syajarah kejadian, intisari dari plasma-ampas masalah dalam segala bentuknya. Seperih apapun musibah menimpa anak bangsa, tentunya persoalan manusia lebih dari dua ratus empat puluh jiwa juta yang masih bernyawa tetap jauh lebih utama. Semestinya gelintiran masalah tidak mengecoh kita dari gelontoran masalah sebenarnya, kasus korupsi yang hingga saat ini masih menjadi ‘monster’ buas dan big puzzle lingkaran setan. 

Secara tidak sadar kita nyaris dipalingkan sejenak dari haqqul-mushibah, the real disaster, musibah yang sebenarnya. Kepandiran massal-nasional akhirnya layak di tempatkan sebagai musibah di atas segala musibah, sebab kepandiran bahkan lebih parah dari kebodohan. Zaman jahiliyyah sedang berlangsung, dan bangsa ini masih belum cerdas untuk membuka hijab kegelapan karena belum proporsionalnya perbandingan antara kaum ‘pencerah-pembenah’ dengan kaum ‘penggelap-perusak.’

Kecerdasan bangsa ini telah mencapai titik nadir dengan grafik menukik tajam semenjak lahirnya the best generation pendiri NKRI, founding fathers, khoiru ummah, produk terbaik Indonesia generasi ’45 yang dengan ‘berdarah-darah’ membuka gerbang kemerdekaan, selebrasi pertama goal-nya cita-cita bangsa selama tiga setengah abad.  Selama kita belum barhasil menangkap mutiara-mutiara hikmah dari setiap peristiwa, alangkah lebih baiknya untuk tidak berharap banyak kepada masa depan kita, sebab tragedi Sukhoi dan dan polemik Gaga akan selalu berulang sepanjang masa dengan rupa berbeda. Tinggal terserah kita, akan tetap ber-asyik-masyuk-ria dengan kepandiran dan kegagapan, atau bersegera tapa-brata mencerahkan jiwa-jiwa dalam kawah candradimuka peristiwa, menempa kecerdasan intelektual-spiritual untuk memperoleh kearifan kebijaksanaan memikul amanat khalifah memakmurkan bumi nusantara. ***

Salam...
El Jeffry

Thursday, May 17, 2012

Reformasi, Bukan Sambel Terasi

      Gong reformasi ditabuh. Suara pembaharuan menggema. Euforia kebebasan massa setelah tiga puluh tahun terkungkung dalam tiran meluap menggelora, bagai air tumpah dari bendungan besar. Udara kemerdekaan yang dinanti- nantikan rakyat, meski harus ditebus dengan nyawa ribuan anak bangsa yang selalu saja menjadi korban perubahan zaman, tumbal wajib setiap permainan kekuasaan, sudah biasa. Perjuangan selalu membutuhkan bergalon-galon keringat, darah dan air mata. Rakyat kecil tak peduli, apapun dikorbankan dengan kepolosan khas tetap setia menjadi martir bagi perjuangan bangsa. Perubahan, perbaikan, pembaharuan.

    Hampir lima belas tahun waktu berlalu, sayup-sayup gaung suara itu makin menghilang. Nyaris tak lagi terdengar, lenyap, senyap, sepi ditelan hari. Gelombang harapan yang dulu menggunung kini telah kandas, tinggal buihbuih dan riak kecil di tepian. Senada dan seirama dengan nasib sebagai penghuni wilayah tepian, kaum pinggiran. Harta, nyawa dan kebersamaan anak bangsa yang sempat terguncang gagal ditebus dengan harga yang layak dan sepadan. Kesia- siaan yang terulang, sudah kebiasaan, potret sejarah bangsa yang gagal mental. 

    Anak-anak negeri tak ubahnya hanya disuguhi sambel terasi, pedas, panas dan sedap terasa di lidah dalam sesaat, hanya tersisa aroma terasi yang masih sedikit menyengat hidung, itupun hanya ketika uap dari mulut dihembuskan ke udara. Seperti itulah aroma reformasi, tak lebih kata- kata bersejarah, sisa- sisa aroma tajam di hidung rakyat, hanya sesekali dihembuskan di pinggir halaman koran, tapi cita rasa dan manfaat nyata bagi rakyat kecil nyaris tak tersisa.

     Kelemahan mendasar anak bangsa di republik ini, tak cerdas memetik pelajaran berharga, kendati telah dibayar terlalu mahal. Pengorbanan besar terbuang sia- sia. Bangsa yang gagal mental. Tumpul dan bebal. Sepertinya kurun empat ratus tahun semenjak kemerdekaan bangsa ini diinjak-injak oleh kekuatan asing masih kurang lama untuk belajar. Mental bangsa ini memang telah hancur berantakan. Mungkin satu- satunya yang tersisa adalah mental feodal yang memang sengaja atau tidak sengaja ditanamkan oleh mereka pada masa pendudukan kolonial.

     Sejarah bangsa menjadi panggung sandiwara. Ada tragedi, epos, komedi, atau hanya sekadar opera dan pentas hiburan rakyat. Sekuel cerita dengan tampilan berbeda. Drama bersambung, episode sejarah, pembauran mistis, mitos dan legenda. Protagonis versus antagonis, pahlawan versus penjahat, jalinan kisah berputar, sedikit basa- basi, konflik sana- sini lalu antiklimaks, pergelaran selesai, bubar. Ronde demi ronde, orde demi orde, rezim demi rezim silih berganti silih mengisi. Pergiliran dan regenerasi, perjalanan klasik nusantara. 

     Tapi skenario cerita selalu sama. Pada awalnya semua bergerak serentak maju tak gentar berjuang berdarah darah menghancurkan musuh bersama, tapi setelah kemenangan dalam genggaman tiba- tiba sebagian elit yang merasa berpiutang jasa dalam perjuangan menagih upah dan saling berebut jatah ransum kekuasaan. Lupa teman lupa kawan, lupa tetes keringat, darah dan air mata kebersamaan. Patriotisme dan nasionalisme amblas tanpa bekas. Muncul lagi feodalisme wajah baru. Segelintir raksasa menjadi tiran mayoritas kurcaci. Rakyat kecil, kembali sengsara, menderita dan tersingkir, hanya mendapat sisa- sisa makanan lezat dari pesta pora istana raja. Penjajah asing pergi, penjajah lokal mengambil alih fungsi, kemerdekaan yang dicita- citakan hanya menjadi prasasti konstitusi, kurikulum wajib pelajaran sekolah dan mata kuliah.

     Orde kolonialisme, orde lama, orde baru dan orde reformasi, rakyat kecil selalu saja disuguhi menu istimewa, sambel terasi. Panas, sedap dan pedas berkobar saat mengunyah perjuangan, tapi rasa nikmatnya segera menghilang beberapa saat setelah kemenangan diproklamirkan. Perut- perut kecil kembali menahan lapar, justru mulas yang didapat, sebab porsi nasi yang seharusnya dibagi dengan adil dan merata, habis ditelan mulut- mulut lebar para raksasa. Jatah kurcaci selalu cuma sisa- sisa, dan yang pasti, sambel terasi. Yang berotak selalu memperalat yang hanya berotot. Mental yang rusak memang selalu membawa kerusakan besar bagi sebuah bangsa, kendati bangsa besar Indonesia. 

     Bangsa ini telah gagal mental. Tidak teguh dalam memegang pendirian dan kepribadian. Tidak konsisten dalam menempatkan budi pekerti luhur sebagai balok tumpu berpijaknya pikiran, ucapan dan perbuatan. Mental yang hanya bertujuan jangka pendek, kebendaan dan kepentingan sesaat, maka ketika diuji dengan sedikit kesenangan dan kenikmatan kue kekuasaan dan kemewahan, mudah lupa diri. 

     Mental tempe, kedelai diproses saat pagi, langsung bisa dimakan saat sore. Mental karbitan, matang pemaksaan, bukan matang karena kedewasaan. Mental penakut, takut menghadapi tantangan perubahan, takut pembaharuan, takut menghadapi kesulitan di depan. Cari aman, takut resiko, ingin hasil cepat tapi malas berkeringat. Cari jalan pintas, potong kompas, jalan apapun diterabas yang penting urusan tuntas. Mental pengecut, berani berbuat tapi enggan bertanggung jawab. Lempar batu sembunyi tangan, begitu ada kegagalan dan kesalahan sibuk mencari kambing hitam sebagai korban untuk melanggengkan kekuasaan. Mental pengkhianat, bermanis muka, tampak baik dan bisa dipercaya di kala punya hajat, namun setelah kesempatan didapat tak segan mendepak kawan dan pendukung setia, melanggar amanat.

     Mental tempe, mental karbitan, mental penakut, mental pengecut dan mental pengkhianat adalah mental pecundang, bukan mental pemenang, mental yang sakit alias mental munafik. Dusta berbicara, ingkar janji dan khianati amanat. Bangsa ini masih saja gagal membentuk mental sehat. Bangsa gagal mental. Sayangnya penyakit gagal mental ini banyak menjangkiti kalangan orang- orang pintar, kaum intelek dan cerdik cendekia. Kalangan yang berperan krusial menentukan arah dan nasib bangsa. Merekalah yang mahir memanfaatkan momentum untuk meraih tujuan pribadi, keluarga atau golongan semata. Orang- orang awam selalu diperalat, menjadi kuda tunggangan, sapi perah di saat senang maupun susah, korban empuk ketidak adilan hukum dan kekuasaan. 

     Slogan-slogan perjuangan, jargon- jargon keadilan, simbol- simbol kesejahteraan yang kerap diusung untuk menarik simpati massa saat pertarungan politik dan perebutan kekuasaan hanyalah pepesan kosong. Tak ada beda dengan sambel terasi, pedas sesaat lalu tinggal aroma yang menyengat. 


     Perubahan, perbaikan, pembenahan entah dengan nama reformasi, revolusi atau rekonstruksi sama saja. Rakyat kecil tak peduli dengan teori-teori rumit dan berbelit. Terserah mau pakai hukum apa, peraturan dan perundang-undangan model bagaimana yang penting bisa makan dengan tenang tanpa gangguan. Rakyat kecil tak butuh kaya asal tidak ada pemiskinan. Rakyat kecil tak butuh kemewahan asal tidak ada penggusuran. Rakyat kecil tak butuh subsidi asal tidak ada pencurian dan penutupan pintu rejeki. Rakyat kecil tak butuh pintar dan haus gelar asal tidak ada pembodohan dan penyempitan kesempatan belajar. 

      Rakyat kecil tak peduli sistem demokrasi, republik, otoriter atau monarki, asal hak- haknya dijamin dan keadilan ditegakkan. Untuk apa demokrasi kalau hanya menghamburkan uang untuk kertas surat dan kotak suara, mengongkosi partai-partai kecil yang tak ketahuan juntrungan arah tujuannya, sidang- sidang sengketa pemilu yang berliku-liku, mobilisasi massa yang mengganggu kenyamanan kerja, gontok-gontokan sesama saudara hanya karena pilihan berbeda. Anggaran belanja negara yang nota bene uang rakyat terbuang percuma. 

     Pileg, pilpres, pilgub, pilkada, dan segala pil atas nama demokrasi tak kalah tinggi daya rusaknya dibanding narkoba dalam merusak mental bangsa. Jual beli suara, suap dan politik uang justru makin meluas dan mengganas. Demokrasi biaya tinggi, terlalu mahal untuk membayar sebuah kebebasan bersuara. Perut lapar tak butuh bersuara, yang dibutuhkan adalah makanan murah dan stok selalu tersedia, agar cacing- cacing dalam perut kosong berhenti bersuara. 

     Rakyat kecil tak peduli apakah pemimpin itu presiden, perdana menteri, sultan atau raja, juga tak peduli bagaimana cara munculnya gubernur, bupati atau walikota, camat dan kepala desa, asal harkat dan martabatnya sebagai manusia merdeka tak diciderai dan ketenangan menjalankan ibadah dan kebebasan beragama bisa terjaga. Rakyat kecil tak menuntut banyak selain ketenangan dan hak hidup yang layak.

      Reformasi, revolusi atau rekonstruksi, demokrasi, republik, otoriter, atau monarki, pileg, pilpres, pilgub atau pilkada, presiden, perdana menteri, sultan atau raja, gubernur, bupati, walikota, camat atau kepala desa, semua itu hanya istilah-istilah buatan manusia, teori dan pemikiran orang- orang pintar, mungkin memang sudah seharusnya ada dan dibutuhkan. Tapi manusia tetap otak di belakang senjata, baik buruk hasilnya bagi rakyat kecil, tergantung dari mental orang yang menjalankannya. Jika mental manusianya sehat, akan jadilah kebaikan dan maslahat. Namun jika mental manusianya sakit akan jadilah keburukan dan penyakit, tak ubahnya sambel terasi, panas, sedap dan pedas di lidah beberapa saat, lalu tinggal aroma menyengat di rongga mulut, dan dampak akhirnya perut yang melilit, alias sakit. 

     Mental adalah penentu sukses tidaknya bangsa dalam mengantarkan tujuan luhur kemerdekaan yang telah digagas dengan cerdas para visioner pendahulu, founding father, para pendiri republik ini. Merekalah orang-orang pilihan yang menghabiskan hidupnya dalam pergulatan penderitaan memperjuangkan harga diri bangsa, bersimbah darah, bermandi keringat dan berenang dalam air mata demi pembebasan negeri ini dari penindasan. Mental- mental mereka telah terkikis oleh kepongahan anak bangsa di era teknologi dan informasi. Nyaris habis. Nyaris tak tersisa. Tak perlu heran, selama mental bangsa masih sakit tak perlu berharap akan mampu mengangkat harkat rakyat kecil agar tak tersingkir dan terabaikan, amanat penderitaan rakyat tak akan mampu tertunaikan.


     Bangsa bermental pecundang akan tetap menjadi pecundang dan bangsa bermental pemenang akan tetap menjadi pemenang. Cukup sudah sekian lama berkubang dalam lumpur sejarah kegagalan menjadi pelajaran bersama. Nasib dan nyawa rakyat kecil yang selalu dikorbankan adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar, sekaya apapun harta negara di bumi nusantara. Hanya ada satu cara agar bangsa ini tak menjadi bangsa pandir yang gagal mental. Perangi segera penyakit kemunafikan. Jujur berbicara, menepati janji dan menunaikan amanat. Hanya itu saja, tak ada yang lebih baik.

Salam...
El Jeffry


Wednesday, May 16, 2012

Pelajaran Api


Sebuah api ditunjukkan kepada lima orang dalam suatu kumpulan, lalu mereka menyikapinya dengan cara yang berbeda.
Orang Jawa berkata, “ Iki geni… ”
Orang Inggris berkata, “ This is fire… “
Orang Arab berkata, “ Hadzan nar… “

Orang buta berkata, “ Kalian semua salah ! Aku tak melihat apa- apa, kecuali kegelapan dan warna hitam ! “
Orang bisu hanya terdiam tak bisa berkata apa- apa kecuali melihat saja.

Perselisihan tak terhindarkan, hampir saja menjadi permusuhan sebelum orang arif datang lalu berujar dengan tenang :

“ Kalian semua benar, hanya bicara dengan bahasa yang berbeda, tak ada yang perlu diperselisihkan. Yang buta juga benar, sebab ia tak melihat apa- apa. Yang bisu juga benar, ia hanya tak mampu berkata- kata… “

~ KEPICIKAN pengetahuan mengundang perselisihan, KEBUTAAN menyulut permusuhan, dan KEBISUAN tak bisa menjernihkan suasana.
Hanya KEARIFAN yang bisa meredam perselisihan, memadamkan api permusuhan dan mencegah perpecahan dalam suatu KUMPULAN manusia. 

Salam...
El Jeffry



3 PELAJARAN AIR


Pada air setidaknya ada 3 pelajaran di antara hikmah yang tak terhitung jumlahnya.

- Adaptif, lentur, luwes, fleksibel.

Dalam setiap tempat dan keadaan air sanggup menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri dalam sifat dan zatnya. Dia bertempat di gelas, jadilah ia berbentuk gelas dengan sempurna, di kuali, bak mandi, sungai, danau dan laut, volume air membentuk bangun yang sama persis dengan relief dan tekstur yang ditempatinya, dan tetap ia adalah air, tanpa berubah kecuali hanya bentuk permukaan bidang sisi-sisinya.

-Tunduk, taat dan patuh penuh totalitas (kaffah) pada hukum.

Selama hukum gravitasi berlaku di muka bumi, air tak pernah sedikitpun berani melanggarnya, ia akan selalu menuju ke bawah, turun dan turun dengan penuh kepatuhan mutlak. Dia hanya sesekali bergerak naik, menguap jika hukum pula yang menghendaki untuk naik saat proses terjadinya hujan. Berubah bentuk (zat) untuk sementara menjadi awan (gas), lalu dengan kepatuhan hukum langitan kembalilah ia kepada bentuk semula, titik-titik air hujan yang jatuh pula penuh kepatuhan ke muka bumi.

-Brilian meramu adonan keragaman.

Air adalah media terbaik untuk menghimpun berbagai zat dan sifat yang berbeda menjadi sebuah formula (zat) baru dengan hasil yang sempurna. Larutan (liquid), senyawa, campuran, adonan, ramuan, gel (cairan kenyal) hanya akan sempurna tercipta dengan bantuan media air. Jutaan dan milyaran zat dari unsur yang berbeda-beda bisa ‘disulap’ oleh air menjadi sesuatu yang baru sebagai kesatuan dengan nilai, sifat, khasiat dan manfaat jauh lebih baik dibandingkan dengan ketika unsur-unsur itu bertebaran terpisah-pisah dalam wilayah sendiri-sendiri. Satu dalam keragaman, ragam dalam kesatuan.

Seandainya manusia sanggup menangkap dan belajar dari 3 hikmah itu saja, niscaya sudah cukup mengantarkannya memahami dunia dan hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Semoga...

El Jeffry

Monday, May 14, 2012

Track Record

    Kebanyakan kita memandang track record (rekam jejak) hanya diperlukan bagi mereka yang hendak mempromosikan diri menjadi pejabat penting kenegaraan, sebagai referensi "feet and proper test" (uji kelayakan dan kepatutan). Padahal sesungguhnya rekam jejak itu ada dan selalu ada pada diri setiap manusia sebagai sejarah perjalanan hidupnya, pada saat dibutuhkan untuk tujuan tertentu atau tidak. 

     "Track record" adalah riwayat hidup, itulah gambar film kita yang bisa ditonton hari ini, dan bakal dipertontonkan setelah tamat riwayat kita di dunia, alias mati. Di sidang pengadilan akhirat, mahkamah malaikat di bawah pimpinan Hakim Yang Maha Agung akan memutar "full time" "track record" setiap jiwa kita, setiap episode, tanpa sensor sedikitpun. Tujuannya sama, untuk menempatkan di posisi mana jabatan yang layak bagi kita, sebagai penghuni surga, atau neraka.

     "Track record" akan menjadi saksi dan bukti yang tak dapat dibantah oleh mulut kita, dan tak ada pembela, pengacara atau penasihat hukum, mulut tersumpal, tangan, kaki dan anggota badan yang bicara. Beruntunglah kita yang memiliki "track record" baik, dan merugilah kita yang memiliki "track record" buruk.

     Sepandai-pandai menyimpan bangkai, saat itu bau busuk akan tercium jua. "Becik ketitik, olo ketoro," baik buruk perbuatan menjadi jejak yang terekam sebagai referensi keputusan balasan, meskipun itu sebesar atom, tak ada yang terlewatkan.

     Kata peribahasa, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati (mestinya) meninggalkan kebajikan. Amal kebajikan, itulah sebaik-baik "track record", rekam jejak manusia dalam kehidupan dunia, untuk hari ini, maupun untuk masa depan di akhirat nanti...

Salam…
El Jeffry