Wednesday, May 30, 2012

SETETES MADU MERUNTUHKAN ISTANA


Ini sebuah cerita lama dari negeri ‘antah berantah’. Alkisah, pada suatu masa berkuasa seorang raja yang zalim kepada rakyatnya. Bertahun-tahun lamanya rakyat berada dalam penindasan dan penderitaan tanpa daya. Sampai pada suatu hari setetes madu mengubah segalanya, hanya dalam satu hari.

Cerita dimulai pada suatu pagi, setetes madu jatuh dari bibir gelas ke lantai istana ketika sang raja sedang meneguknya. Seekor lalat hinggap, rejeki sedap di pagi hari. Tanpa disadari lalat, seekor cicak di dinding mengendap-endap, lalu, ‘hap’, rejeki bagi cicak yang lapar mencari mangsa. Ternyata di balik dinding seekor kucing melihatnya, hal yang sama bagi kucing, makanan yang sedap, cicakpun disergap. Ketika sedang asyiknya si kucing melahap mangsanya, seekor anjing datang. Bisa ditebak, anjing dengan galaknya mengejar si kucing tanpa basa-basi. Kucingpun berlari lintang pukang.

Kejar mengejar dua ekor musuh bebuyutan berlangsung hingga ke luar istana, kucing berlari menuju rumah tuannya. Sesampainya di rumah, sang tuan marah atas kelakuan si anjing yang hendak melukai kucing yang tak bersalah. Anjing itupun dipukulnya dengan sebatang kayu sampai 'mengaing-ngaing' kesakitan. Tak terlalu jauh di sana, ternyata si empunya anjing melihat kejadian itu, iapun datang dengan marah.

Pertengkaran terjadi. Tak henti di situ, kerabat dua kubu berdatangan saling membela, menambah kisruh sengketa. Tak bisa dicegah, sengketa meluas melibatkan seluruh keluarga dan famili keduanya, perkelahian massalpun terjadi, bentrokan antar warga meluas sampai hampir seluruh wilayah kerajaan, antar dua kelompok keluarga yang berbeda. Hingga akhirnya terdengar oleh raja, bagindapun mengutus pasukan untuk meredakan suasana.

Pasukan istana yang memang kejam datang dan mengatasi kericuhan dengan brutal, hingga akhirnya memancing warga berbalik melawan. Tanpa sadar kedatangan pasukan istana menyadarkan rakyat, bahwa kubu rajalah musuh mereka sesungguhnya, kezaliman yang dirasakan bertahun-tahun lamanya. Kedua kubu yang semula bersengketapun akhirnya bersatu melawan pasukan istana.

Raja gusar, dikerahkan seluruh pasukan kerajaan. Terjadilah perang antara kubu kerajaan dengan rakyat. Tapi rakyat di seluruh kerajaan sudah terlanjur bersatu. Tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan yang telah berpadu. Rakyatpun berhasil mengalahkan pasukan kerajaan, tepat sore hari. Sang rajapun tumbang, tak berdaya meredam perlawanan rakyat.

Hanya satu hari, mulai di waktu pagi, berakhir di sore hari, kekuasan tiran, kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa bertahun-tahun runtuh dihancurkan oleh rakyat yang selama ini lemah, hanya karena persatuan, dan hanya bermula dari hal sepele, setetes madu... ***

El Jeffry

No comments:

Post a Comment