Sunday, April 22, 2012

Pesan untuk Sahabat


      Ketika aku berpesan tentang suatu ilmu-pengetahuan, jangan engkau menyangka bahwa aku bermaksud memberi pengajaran, aku hanya tengah mengajari diriku sendiri dan tengah berupaya melakukannya (mempraktekkan-mengamalkan), hanya saja aku bemaksud berbagi kepadamu, lagi pula engkau tak pernah tahu keseharianku sebelum kita menyempatkan diri untuk bertemu. 

      Bisa jadi aku gagal dalam pemahaman dan pengamalan, dan engkau yang berhasil memperoleh keduanya lebih baik dariku, sebab kemampuan orang tidaklah sama. Aku hanya berharap engkau lebih baik dariku, dan setidaknya aku telah memperoleh kebaikan hasil dari  berbagi. Bisa jadi aku hanya mendapatkan satu, sedang engkau mendapatkan seratus atau seribu, akupun mendapat kebaikan pula dengan berbagi.

      Atau bisa jadi pula aku telah sadar apa yang kusampaikan memang di luar kemampuanku untuk mencapainya, sedang aku tahu sebagian dari engkau pasti ada kemampuan itu, akupun mendapat kebaikan dari pencapaianmu. Sebab jika kupendam hanya karena kehati-hatian berlebihan, maka selamanya tidak ada yang mendapat pencapaian, tidak aku atau engkau, dan itu adalah kesia-siaan, pastinya aku tak mendapatkan satupun kebaikan.

      Namun bila yang aku sampaikan dan tengah berusaha kulakukan semampuku hanya engkau anggap angin lalu, sebab engkau tak pernah mengenalku, maka itu sudah di luar tanggung jawabku, aku tetap mendapat kebaikan dari niat dan itikad baik, tak lebih dari itu. Jika kuanggap pesanku adalah niaga (bisnis), maka yang kulakukan adalah ‘laba utama’, sedang engkau kuharap sebagai ‘bonus’nya. Mungkinkah aku hanya mengejar ‘bonus’ dengan mengabaikan ‘laba utama’?

      Alangkah baiknya jika yang engkau lihat apa yang disampaikan (ma qaala), bukan siapa yang menyampaikan (man qaala). Shakespeare berkata: “Apa arti sebuah nama?” Memang itu berarti, hanya bila engkau mengenal orangnya. Orang arif berkata  “Jika engkau hendak mengenal orang, kenalilah tulisannya. Dan jika engkau hendak mengenal tulisan, kenalilah orangnya.”

     Tulisan adalah cermin dari pengetahuan dan isi seseorang, ia akan jujur mengungkapkan kepribadian. Jika engkau lihat inkonsistensi (tidak istiqomah) dari tulisannya, maka begitulah dengan orangnya. Demikian pula sebaliknya. Satu hari dia bercerita tentang ketegaran, di hari lain berkeluh kesah tentang kerapuhan. Di satu saat dia berwasiat dengan kekhusyu’an, di saat lain dia mengumbar kata-kata maksiat dan kemungkaran. Hampir pasti bisa dikatakan itulah inkonsistensi. Kata-kata dan pesan hanya kreasi (karya cipta-rekayasa), bukan ekspresi (ungkap rasa-apa adanya).

     Seorang ahli ilmu juga pernah berkata: “Jika untuk berpesan (taushiah-nasehat) menunggu segalanya sempurna, maka tidak akan pernah ada sekolah, pengajaran dan penyebaran ilmu-pengetahuan. Jika yang engkau dapati suatu kebaikan, anggapalah itu pengajaran untuk berbuat baik. Dan jika yang engkau dapati suatu keburukan, maka anggaplah itu sebagai pengajaran pula untuk engkau hindarkan.”

      Sebagaimana bila akhirnya aku berpesan : “Maukah engkau kuberi tahu 1001 cara untuk ‘mencapai’ kegagalan?” Bila memungkinkan dan engkau berkenan akan kuuraikan satu persatu, dan engaku akan paham maksud pesan itu, apakah aku hendak mengajarimu untuk untuk ‘berhasil’ mencapai kegagalan, atau justru untuk berhasil meraih keberhasilan.


Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment