Wednesday, April 11, 2012

Pelajaran Pisang



     Pisang dan kulit adalah satu kesatuan, sebuah sistem. Kulit pisang, pembungkus di lapisan luar dari buah pisang adalah bagian pertama, awal terlihatnya buah pisang oleh mata dan berfungsi sebagai perlindungan isi, daging buah pisang dari gangguan alam luar yang mengancam kerusakan maupun pembusukan karena bakteri.

     Sedang isi, daging buah pisang adalah bagian utama, terletak di dalam, gha'ib, tersembunyi dari penglihatan mata dan hanya bisa dilihat dengan terlebih dahulu mengupas kulit pisang. Bagian ini adalah sari pati dan esensi dari buah pisang, akhir tujuan dan yang mengandung nutrisi sejati dari buah pisang.

     Tapi dalam kehidupan, khususnya di zaman ini, banyak orang memperebutkan kulit pisang sementara isinya diabaikan bahkan dibuang, sebagian besar karena ketidaktahuan. Sementara di sisi lain beberapa orang hanya terobsesi pada isi sementara kulitnya tak dihiraukan, di anggap tak berguna bahkan perannya dilewatkan begitu saja, padahal buah pisang adalah satu kesatuan antara kulit dan isi dengan peran dan fungsi masing-masing. 

     Daging pisang dan kulit adalah keniscayaan. Tak ada orang makan pisang kecuali dengan mengupas kulitnya terlebih dahulu, sebab sudah 'aturan hukum alam' bahwa  tak ada buah pisang yang tak berkulit dan tak ada kulit pisang yang tak berisi daging buah pisang.

     Itulah perumpamaan keberadaan kehidupan bagi perjalanan hidup jiwa manusia. Sebuah pisang adalah simbol tahapan: pendakian, kenaikan, peningkatan. Sebagaimana kesempurnaan proses seseorang yang makan buah pisang, maka kesempurnaan hidup manusia adalah buah akhir dari proses perjalanan bertahap : dari kulit menuju isi, dari luar menuju dalam, dari zhahir menuju bathin, dari raga menuju jiwa, dari lafazh menuju makna, dari teks menuju konsep, dari simbol menuju esensi, dari pralambang menuju arti, dari ampas menuju sari pati, dari material menuju spiritual, dari syari'at menuju hakikat.

    Perjalanan dari 'alam bawah' menuju 'alam atas' meniscayakan perjuangan pendakian. Kenaikan selalu mewajibkan proses, tangga-tangga pijakan dan tahapan. Satu tangga saja terlewatkan, akan tersesat dan gagallah sang 'pejalan'. Sedang jika perjalanan berhenti di tengah jalan, apalagi hanya terpaku di tangga terbawah alias jalan di tempat, maka sejatinya seseorang telah kehilangan banyak peluang, kesempatan dan kebaikan, dan itu adalah suatu kerugian, sebab waktu berputar tanpa bisa ditawar, 'sang maut' setiap saat bisa tiba-tiba datang menjemput.

   Alangkah ruginya di antara kita yang hanya berkutat di bawah tanpa beranjak naik sedikitpun, "asfala safilin", seperti terjebak oleh daya pikat kulit pisang, padahal kulit pisang adalah tak lebih dari ujian kehidupan. Sementara para pejalan pencari kemuliaan telah asyik-masyuk menikmati cita rasa pisang sejati, sari pati kehidupan, ketenangan dan kemenangan hakiki. Merekalah orang-orang arif, orang yang telah mengenal kebenaran, kaum bijaksana yang telah memahami keberadaan dan hakikat kehidupan.


Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment