Saturday, June 23, 2012

Opera Sebuah Negara Kota


semula aku tertawa terpingkal-pingkal
menghibur diri menutupi rasa kesal makin mengental
melihat bocah-bocah nakal bertingkah binal
berebut kursi keramat di majelis-majelis amanat
tanpa istinja, tanpa cuci kaki dan basuh muka
atau bersih-bersih diri selayaknya

ataukah memang sudah tabiat bocah
belum sadar diri, belum baligh dan belum berakal
hingga terbebas dari tanggung jawab moral?

akhirnya aku menangis tersedu-sedu
melampiaskan rasa sedih mengiris kalbu
melihat bocah-bosah badung bertingkah pongah di gedung-gedung
gedung MPR, gedung DPR, gedung DPRD, gedung pengadilan, gedung pemerintahan
gedung gubernur, gedung bupati, gedung camat dan gedung balai desa
gedung kampus dan sekolah, gedung pertokoan mewah, gedung perkantoran megah
gedung bursa efek, gedung stadion, gedung pameran
gedung pertemuan dan acara-acara pesta, gedung segala gedung
semua jadi terlihat sama kongruen dan sebangun
ruang besar pertunjukan opera

tergelar serial jutaan cerita versi berbeda
dongeng, mitos, hikayat, riwayat dan legenda
penuh eksotik, estetik, eksentrik, heroik dan romantik
kolaborasi cantik, menarik sekaligus menggelitik
namun semua berakhir tragedi klasik

aku hanya menangis tersedu-sedu
menghayati alur cerita sedih dan pilu

yang lain menangis terisak-isak
sambil mengurut dada yang makin sesak

yang lain lagi menangis meraung-raung
jeritan derita tinggi membumbung

yang lain lagi lain lagi menangis diam-diam
air mata kering kelopak lebam

pertunjukan usai, tapi tak satupun penonton bergeming
larut dengan ekspresi tangisan masing-masing
semua menangis, semua menangis, semua menangis
hingga hujan air mata menipis dalam gerimis

tinggal beberapa di antaranya terlihat biasa-biasa saja
tak menangis, tak pula tertawa
ternyata mereka tengah tertidur di gedung opera
tak mengikuti jalan cerita dan peristiwa... ***

Salam...
El Jeffry




No comments:

Post a Comment