Thursday, April 5, 2012

MANHAJ KESEDERHANAAN


“ Dan, demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), ‘umat pertengahan’ (umat yang adil)... “ (QS Al-Baqarah : 143)

Kebahagiaan ada dalam sikap sederhana (bersahaja), bukan dalam sikap melampaui batas. Dan bukan pula dalam sikap ogah-ogahan, sikap terlalu berlebihan dan melalaikan. Kesederhanaan adalah “manhaj Rabbani” yang akan mencegah seorang hamba agar tidak terjebak ke dalam dua sisi yang sangat ekstrem itu. Dan karakteristik Islam sendiri adalah sebagai agama yang sederhana.

Bersikap sederhana akan membuat bahagia. Sederhana dalam ibadah berarti tidak berlebihan, karena sikap seperti itu hanya akan merusak fisik, memadamkan kobaran semangat dan ketahanan dalam bekerja. Tidak pula bersikap ogah-ogahan karena akan cenderung menjauhi hal-hal yang bersifat “nafilah”, mengabaikan yang fardlu, dan hanya bergantung pada harapan-harapan kosong.

Sederhana dalam berinfak berarti tidak menghambur-hamburkan harta sehingga kemudian menjadi orang merana. Namun tidak pula terlalu perhitungan dan kikir terhadap apa yang dimiliki, sehingga menjadi tercela dan dijaukan dari rahmat Allah.

Sederhana dalam berjalan adalah antara terlalu cepat sehingga terkesan terburu-buru agar cepat sampai dan terlalu lamban sehingga tujuan jadi terlambat. Sederhana dalam berbicara adalah antara terlalu keras dan tinggi sehingga menegangkan lawan bicara dan terlalu lirih dan rendah sehingga perkataan menjadi tidak jelas.

“ Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. “ (QS Luqman : 19)

Sederhana dalam berakhlak berarti bersikap di antara ketegasan yang melampaui batas dan kelembekan yang tidak berdaya, antara kemuraman hati yang kelewatan dan tertawa yang terpingkal-pingkal, antara mengucilkan diri hingga tak kenal lingkungan dan berbaur dengan masyarakat hingga lupa segalanya.

Sederhana dalam menyikapi masalah, menilai sesuatu dan bergaul dengan orang lain, tidak berlebihan sehingga justru meringankan timbangan nilai, juga tidak mengabaikan sehingga pokok kebaikannya tak tersentuh. Berlebihan adalah pemborosan dan foya-foya, sedangkan mengabaikan adalah kering.

 “ Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tantang hal yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. “(QS Al-Baqarah : 213)

(Cuplikan dari “ LA TAHZAN “ – Dr. ‘Aidh al-Qarni, dengan beberapa perubahan)

El Jeffry

No comments:

Post a Comment