Sunday, April 22, 2012

Koruptor dan Agama KTP

      Sungguh repot kalau agama hanya ada pada selembar tanda pengenal, KTP. Mau dituduh atheis, secara ‘de jure’ ber-Tuhan. Mau dituduh ber-Tuhan, secara ‘de facto’ seakan-akan tak percaya pada-Nya. Entah itu Islam, Kristen, Protestan, Hindu atau Budha, agama KTP tak lebih dari formalitas belaka. Masjid, gereja, pura dan wihara hanya sebagai acara ritual dan upacara. Tertib dan hikmat layaknya orang saleh, tapi di luar, selalu salah, kesalehan lupa terbawa, kesalahan berulang tiada akhirnya.

     Ibadah rajin, ilmu agama seakan hapal di luar kepala, tapi isi kepala seakan keluar dari ilmu agama. Hukum yang jelas dan terang, dilabrak begitu saja, persis seperti orang lupa. Tapi kalau ditanya, ingat dengan akurat, paham jelas maksud dan artinya.

      Agama KTP, jama’ah koruptor adalah contoh yang nyata. Nama-nama indah dan baik, bahkan sebagian ‘meminjam’ nama suci nabi tak banyak menolong agama dirinya. Padahal nama adalah bagian dari do’a, tapi nyatanya hanya label palsu belaka. Tanah suci yang pernah dikunjunginya pun masih gagal mensucikan kelakuannya. Mencuri uang negara, menggelapkan harta rakyat jelata, menggasak peraturan dan Undang-Undang, bahkan sumpah jabatan, itu lumrah dan biasa.

      Bukan mabuk atau gila, tapi sadar sesadar-sadarnya. Itulah agama KTP, agama formal hanya sebagai tanda pengenal, mencoreng nilai kesucian agama, membuat orang awam menjadi tak percaya agama. Agama KTP, penistaan terhadap kebenaran, bentuk nyata dari pengecut dan pendusta.


      Di Indonesia ini, kalau memang pemberani, jadi koruptor boleh-boleh saja, tapi lepaskan dulu label agama dari KTP, alias atheis, tidak meminjam nama agama untuk kejahatan. Kalau jadi atheis, berarti melanggar sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jika melanggar Pancasila, keluar saja dari Indonesia, silahkan minta suaka ke Jepang, Cina atau Rusia, berkumpul dengan atheis dan komunis, kan sudah habitatnya. Tapi repotnya, di sana koruptor juga musuh negara, akhirnya hanya sia-sia.

      Agama KTP, agamanya orang ‘mencla-mencle’, ‘esuk dhele sore tempe’, sekedar ‘manis-manis lambe’, penghias bibir. Tobat sambel tomat, baru saja berucap kalimat syahadat, selang beberapa saat sudah menebar syahwat dan khianat. Minggu pagi ke kebaktian gereja, Senin sore sudah ketagihan menggasak anggaran negara. Rajin berdo’a di wihara, tapi nafsu jahat masih dipelihara. Khusuk dan khidmat di dalam pura, tapi hidupnya penuh pura-pura. Itulah perilaku manusia yang hanya punya agama KTP. Kelihatannya beragama, tapi sebenarnya tidak beragama. Rapi di tampilan kemasan luar, tapi kusut masam isi hati dan bathinnya.

      Koruptor didominasi oleh aktor beragama KTP. Mestinya dibuat peraturan baru, uji layak data KTP, khususnya ketika hendak mencantumkan agama. Dan jika terbukti ada  pelanggaran agama bagi pemiliknya, identitas perlu dikaji ulang, atau jangan diberi KTP, alias dianggap penduduk ilegal, samapi bisa membuktikan bahwa dirinya telah taat aturan agama, mungkin koruptor tak lagi berkeliaran dan bermunculan sepanjang masa. Selama mudahnya mengurus KTP, menjual nama agama sebagai kamuflase, selama itu pula koruptor bebas melancarkan aksi kejahatan melanggar hak-hak sesama, dan merusak kehidupan bernegara.

Salam...

El Jeffry

No comments:

Post a Comment