Monday, April 2, 2012

Kebenaran: Antara Nisbi dan Mutlak

      Tengah siang hari, saya berdiri tepat di atas khatulistiwa, saya berkata: “ Demi kebenaran matahari tepat di atas kepala.“

Anda berdiri di kutub utara, berkata: ”Demi kebenaran matahari ada di sebelah selatan.“

Dia berdiri di kutub selatan, berkata: “Demi kebenaran matahari ada di sebelah utara.“

    Kita berkata: “Kita bertiga berselisih dan berbeda pendapat. Dengan penuh keyakinan dan kebenaran, masing-masing dari kita akan mempertahankan meski dengan bertaruh nyawa. Atau mungkinkah matahari kita berbeda? Atau mungkin ada tiga matahari di dunia? Bagaimana mungkin kita bisa bersepakat pendapat?“

     Mereka yang memiliki pengetahuan geografi, ilmu bumi berkata: “Sebenarnya kalian semua benar. Matahari tak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Yang kalian perselisihkan adalah benda yang tetap dan sama, matahari yang satu. Cobalah kalian bertemu di satu tempat dan lihat.“

      Lalu Anda berjalan ke arah selatan, dia berjalan ke arah utara, menempuh jarak yang sama demi keadilan, pertemuan di tempat saya sebagai tuan rumah, tepat di tengah, garis khatulistiwa. Setelah semua bekumpul di satu tempat, ternyata  perkataan kami sama, satu pendapat, satu suara.

“Matahari memang hanya satu, tepat posisi di atas kepala kita bertiga. Tak ada yang berbeda atau berubah arah dan jumlah dari matahari. Kita semua sepakat.“

      Boleh jadi semua manusia benar, tapi kebenaran manusia di dunia adalah kebenaran relatif, bersifat nisbi, penuh ketergantungan, ada batasan-batasan, bias, semu, maya dan beragam. Sedang kebenaran hakiki adalah kebenaran Tuhan, kebenaran absolut, bersifat mutlak, independen, tiada ketergantungan, tiada batasan, lurus, asli, sejati dan hanya satu, ahad, eka, tunggal.

     Perselisihan kebanyakan disebabkan oleh perbedaan posisi (tempat), perspektif (sudut pandang) dan persepsi (cara pandang). Ilmu pengetahuan, wilayah pertengahan, kelapangan dada dan kearifan menyikapi perbedaan, itikad baik mencari kebenaran bersama, keberanian memperbaharui dengan perubahan dan sesekali berikhtiar melihat dari sisi berbeda, membuka peluang menyatunya ragam perbedaan, redanya perselisihan, terhindarnya perpecahan dan tercegahnya permusuhan antar manusia. 


"... Karena itu janganlah engkau berbantahan tentang hal mereka kecuali perbantahan lahir saja..."(QS Al Kahfi: 22)

"...dan katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku untuk lebih dekat (kebenarannya) dari pada ini..." (QS Al Kahfi: 24)

"Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu..." (QS Al Kahfi: 29)

Wallahu a'lam...

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment