Thursday, April 12, 2012

Cahaya Bertingkat

Sinar rembulan menembus masuk lewat ventilasi rumah, 
jatuh mengenai cermin yang dipasang di dinding, 
lalu memantul ke dinding yang berseberangan dengannya, 
kemudian jatuh memantul ke lantai sehingga lantaipun menjadi bersinar.

Dengan bahasa simpul, cahaya yang di atas lantai itu berafiliasi dengan cahaya di dinding, cahaya di dinding berasal dari cahaya di atas cermin, 
dan cahaya di atas cermin bersumber dari sinar rembulan, 
kemudian sinar bulan berasal dari sinar matahari.

Keempat cahaya ini tersusun urut, di mana sebagian lebih tinggi dan lebih sempurna dari yang lain dan masing-masing juga mempunyai posisi dan tingkatan tertentu yang telah ditentukan dan tidak bisa ia lampaui.

Cahaya adalah simbol dari ilmu, pengetahuan, petunjuk, penglihatan, keberadaan dan kebenaran. Seluruhnya bertingkat, dari yang terendah terbawah hingga yang tertinggi teratas. Dialah cahaya sejati, Sang Maha Cahaya, Nurun ‘alan nuur, Cahaya di atas cahaya, Tuhan alam semesta. 

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar (mishbah). Pelita itu di dalam tabung kaca (zujajah), (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nuur: 35)


El Jeffry


No comments:

Post a Comment