Monday, April 2, 2012

Bumi Terheran, Langit Bertanya


Lihat dan dengarlah di sana
orang-orang bergerak berteriak di ujung putus asa.

Debu mengepul oleh sepakan kuda,
denting gemerincing pedang beradu,
moncong-moncong senapan muntahkan asap mesiu,
dentum meriam bercampur desing peluru.

Puing-puing reruntuhan penuh arang dan abu, 
mayat-mayat bergelimpangan hitam membiru,
keringat, darah dan air mata mengalir sepanjang waktu.

Pembangunan dan penghancuran, 
perbaikan dan perusakan, 
pengobatan dan penyiksaan, 
penyelamatan dan pembunuhan, 
kehidupan dan kematian.

Atas nama cinta, rakyat, kebenaran dan Tuhan,
seperti dua sisi pada sekeping uang logam,
berdekatan, bersandingan, berdampingan, beriringan, bersebelahan
namun tak pernah bertemu pada satu halaman perdamaian.

Perang antar manusia, lagu abadi memilukan,  
di medan terbuka, pemukiman warga, terminal, bandara, dan jalan-jalan raya,
di ruang- ruang sidang, rapat kerja dan mimbar agama,
di perkantoran, gedung dewan dan istana raja.

Kata-kata mewakili dahsyatnya senjata, 
diplomasi, orasi, presentasi, persuasi dan argumentasi.
Tarik-menarik kepentingan, dorong-mendorong  kebutuhan, desak-mendesak keinginan.
Saling tuding saling todong, saling cekal saling jegal, saling sikut saling sudut,
dengan segala cara yang konon terhormat dan bermartabat.

Aroma perang tetap saja berkobaran.
Atas nama cinta, rakyat, kebenaran dan Tuhan,
seperti dua sisi pada sekeping uang logam,
berdekatan, bersandingan, berdampingan, beriringan, bersebelahan
namun tak pernah bertemu pada satu halaman perdamaian.

Bumi terheran, langit bertanya, pertanyaan abadi,
“Apa yang kau cari wahai manusia?”

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment