Sunday, April 15, 2012

Blingerologi, Blingerisme dan Blingerisasi



      Beberapa tahun silam Jaya Suprana telah memperkenalkan istilah “kelirumologi” sebagai sebuah cabang ilmu yang mendalami hal ikhwal tentang kekeliruan manusia zaman sekarang. Maka sedikit untuk melengkapi, atau boleh juga dikatakan pengembangan, tidak ada salahnya kiranya dikembangkan cabang ‘logi-logi’ baru untuk memperkaya khazanah kekeliruan ‘logi’ dan ‘logi’ kekeliruan, ‘ilmu’ kekeliruan dan kekeliruan ‘ilmu’, mungkin bisa sedikit membantu pemahaman bersama dalam menyikapi dunia ‘logika’ dan ‘logika’ dunia. 

     Pinter keblinger sebenarnya sudah tak asing lagi ditelinga kita, khususnya dalam masyarakat Jawa, ungkapan yang menjelaskan tentang orang yang nampaknya pinter, tapi punya laku budi yang kontradiksi, kontra indikasi dan kontraproduksi dengan kepinteran yang dimiliki, keblinger. Makna yang hampir sama dengan keliru dalam, hanya saja jika keblinger setingkat lebih ‘tidak layak’ dari pada keliru. Jika keliru masih bisa ditoleransi karena ada unsur ketidaksengajaan, tapi keblinger bisa dianggap ada pada sedikit unsur kesengajaan dan nuansa kesadaran sebab penyakit ini, atau boleh juga disebut sindroma hanya dialamatkan kepada mereka yang punya pengetahuan alias ‘pinter’.

     Keblinger adalah suatu sifat atau keadaan, dan ketika keadaan sudah menjadi tradisi kuat yang mengakar hampir merata di seluruh lapisan masyarakat, tak ada salahnya keblingeran ini ‘diistimewakan’ menjadi sebuah ‘ilmu khusus’. Ilmu yang penting untuk dipelajari dan dikaji guna mencari sebab musabab terjadinya, tentu saja agar ‘kekbelingeran’ ini bisa diatasi secara metodologis dan bisa dipertanggung jawabkan secara akademis, sebab tak bisa disangkal bahwa ketika skala dan jangkauan ‘anomali’ tradisi ini meluas tak tercegah akan menjadi masalah besar dan berbahaya yang bisa mengancam nasib, harga diri dan kelangsungan hidup sebuah bangsa. 

     Blingerologi akan menjadi cabang ilmu yang mempelajari tentang apa sebenarnya makna keblinger, apa kriteria dan kategori seseorang dikatakan tergolong keblinger, berapa jumlah keblingeran yang berbahaya bagi kesehatan dan kemajuan bangsa, mengapa sampai terjadi dan bagaimana upaya pencegahan, pengendalian dan pemberantasannya itu agar bisa ditekan serendah mungkin.

     Bahkan ‘kekebelingeran’pun nampaknya sudah menjadi ideologi, blingerisme. Bagaimana tidak, kini sebagian besar manusia sudah mulai tak yakin dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat ‘tempo doeloe’, orang bahkan berlomba-lomba  masuk dalam pusaran beliung kekeblingeran, serta makin banyak bermunculan kelompok ‘blinger-mania’, keblingeran tingkat tinggi yang terorganisir dan termanajemen profesional. 

      Buktinya tak sedikit orang yang terlihat pintar, berpendidikan, intelek terjerat sindroma ini. ‘Blinger-mania’ kerah putih tak kalah bahayanya dibanding ‘mafia’ Itali, ‘yakuza’ Jepang atau ‘triad’ Hongkong. Spirit ilmu pengetahuan yang seharusnya membawa seseorang menjadi tahu, kenal, faham, mengerti, dan pada puncaknya arif dan bijak justru berbanding terbalik pada prakteknya. Akibat buruk dan kejahatan yang ditimbulkan punya daya rusak berlipat-lipat lebih dahsyat dari pada jika hal itu dilakukan oleh orang bodoh.

      Blingerisme adalah suatu bentuk pengkhianatan nyata terhadap ‘fitrah’ ilmu, salah satu amanat yang paling berat, karunia Tuhan sekaligus ujian yang menentukan nasib seseorang. Ilmu yang seharusnya mengangkat derajat manusia dan kemanusiaan kepada harkat dan martabat tinggi akan berbalik menjungkirkan kepada tempat serendah-rendahnya sebagai ‘laknat’ dan karma atas kejahatan manusia yang menjungkirkan akal sehat dan pengetahuan dengan kekeblingeran yang disengaja.

      Apalagi kini ‘blingeris-blingeris’, makin menggila, bahkan ‘blingerolog’ , orang yang mahir dan profesional mengajarkan ‘blingerologi’, ilmu dan logika yang anti-ilmu dan anti-logika berada dalam stadium yang berbahaya bagi kesehatan bangsa. Dan pada titik nadir ketika nilai-nilai kebenaran dan norma-norma kebajikan terpuruk, ‘blingerisme’ mulai menyusup menjadi ideologi dan paham yang meracuni akal sehat dan pemahaman pemikiran manusia.

      ‘Belingeris-blingeris’, yang bergerak di dalam arena percaturan kehidupan tanpa disadari telah melakukan gerakan ‘blingerisasi’ massal, upaya pembelingeran berjama’ah, mereka adalah kaum ‘dholla wa adhollu’, sesat dan menyesatkan, keliru dan ‘mengkelirukan’, keblinger sekaligus memblingerkan. 

     Keblingeran kegagalan terbesar manusia dalam memahami hakikat hidup. Ghurur. Tertipu. Tak ada yang lebih merugikan kecuali tertipu. Bahkan ketika seseorang menipu kebenaran, hakikatnya dia sedang menipu dirinya sendiri.  Ngundhuh wohing pakarti. Siapa menanam akan memanen. Siapa menebar akan menuai. Siapa memberi akan memperoleh. Apa yang dikeluarkan, itu pula yang didapatkan. Karma sempurna alam semesta. Imbal balik. Aksi reaksi. Blingeris-blingeris akan memanen buah hasil pohon ‘zaqqum’ kekeliruan yang ditanam secara tak sengaja dalam dada, keblingerannya sendiri sekaligus pemblingerannya terhadap manusia dan alam semesta dengan duka sesal dalam dada. 

     Selamatkan bangsa ini dari kekeliruan dan keblingeran. Kembalikan fitrah ilmu kepada haknya, mengangkat derajat manusia dan kemanusiaan, kebaikan, kemanfaatan dan kemaslahatan. Perbaharui penyikapan dan terhadap makna pandai dan pintar pada tempat yang tepat, yaitu kearifan dan kebijaksanaan. Kembalikan kesadaran bersama, hidupkan jiwa, sehatkan akal dan penalaran. Mulai dengan mengkaji blingerologi untuk gerakan nasional memerangi blingerisme dan blingerisasi.

El Jeffry

No comments:

Post a Comment