Monday, April 16, 2012

BEDA STANDAR, BEDA SIKAP, BEDA NASIB


Sebuah pertanyaan dilontarkan : “Bagaimana kondisi Indonesia saat ini sebagai sebuah umat, bangsa dan negara dalam kancah peradaban dunia dan bagaimana penyikapannya yang benar?”


Anda berkata : “Alhamdulillah, kita baik-baik saja, kita mesti banyak bersyukur atas karunia yang Allah berikan atas Indonesia. Kedamaian dan persatuan yang luar biasa, hidup rukun sentausa, temteram dan penuh toleransi, tak seperti di kawasan Timur Tengah dan beberapa kawasan Eropa yang saat ini penuh dengan konflik antar etnis dan perang saudara, kekerasan senjata, perebutan kekuasaan, dan pergolakan yang tak ada habisnya. 


Kita juga mesti bersyukur hidup dengan kecukupan sandang pangan dan papan, tidak pernah mengalami kelaparan seperti Ethiopia atau kemiskinan di banyak negara Afrika. Kita juda dilindungi oleh Allah dari bencana besar seperti gempa yang sering melanda Jepang, atau kehancuran total pada bangsa-bangsa yang ingkar pada masa lalu seperti  ‘Ad, Tsamud, Madyan atau negeri Saba’ yang dihukum Allah dengan bencana karena tidak bersyukur. Itu artinya Allah masih sayang karena kita ini umat beragama yang taat pada ajaran-Nya. Kita lebih baik dari mereka, dan tak ada penyikapan yang tepat kecuali banyak memuji-Nya.

Dia berkata : “Astagfirullah, kita mesti banyak istighfar, taubat nasional, ini bukan karunia, tapi Allah sedang mengirimkan pesan-pesan peringatan dalam banyak hal, tapi kitanya saja yang tak pernah melihat dan mendengar. Tsunami di Aceh, lahar dingin gunung Merapi, banjir lumpur Lapindo, kekeringan yang selalu datang setiap musim, kebakaran hutan dan bencana-bencana lain yang terlalu banyak untuk disebutkan.

Yang lebih parah adalah bencana kemanusiaan, ketidak-adilan penguasa, korupsi dan kolusi yang menggelora, maksiat dan kemungkaran di mana-mana. Perjudian, prostitusi atau perzinahan, khamr atau miras dan narkoba dan kejahatan-kejahatan lain yang juga terlalu banyak untuk disebutkan. Kita masih terlalu rendah dibanding kualitas hidup negara-negara lain yang lebih menjunjung tinggi hukum dan keadilan, kemakmuran rakyat dan kemajuan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika, bangsa di kawasan Asiapun kita belum bisa mengklaim diri sebagai bangsa yang unggul. Apalagi jika dibandingkan dengan zaman Nabi, kita masih jauh dari kriteria masyarakat madani, cita-cita seluruh bangsa berperadaban di muka bumi.

Saya berkata : “Anda dan dia, semuanya relatif benar, hanya saja berbeda standar atau tolok ukur, sehingga melahirkan sikap yang berbeda pula. Anda cenderung bersyukur, sedang dia cenderung bertaubat, istighfar. Anda memakai standar rendah dalam menyikapi masalah, menjadikan bangsa lain yang lebih rendah dan lebih buruk sebagai ukuran, semua yang ada adalah karunia, konsekuensinya adalah mesti bersyukur. Sedang dia mamakai standar tinggi dalam bersikap, menjadikan bangsa lain yang lebih tinggi dan lebih baik sebagai ukuran, ‘istabiqul khairat’, berlomba dalam kebaikan, konsekuensinya adalah mesti bertaubat.

Sebagai sebuah bangsa kita punya pilihan untuk menentukan peringkat di tingkat mana mestinya derajat kita dan standar mana yang akan kita pakai, rendah (minimum), menengah (medium) atau tinggi (maksimum). Konsekuensinya tentu melahirkan penyikapan yang berbeda. Lebih prioritas bersyukur dari pada bertaubat, lebih prioritas bertaubat dari pada bersyukur, atau proprosional antara bersyukur dan bertaubat. Beda standar, beda sikap, beda nasib. Hidupmu, pilihanmu. Hidupnya, pilihannya. Hidup kita, pilihan kita. Hidup umat, bangsa dan negara, adalah pilihan umat, bangsa dan negara.

“ Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri...” ***

El Jeffry

No comments:

Post a Comment