Monday, April 30, 2012

PANDAI, CERDAS, CERDIK ATAU LICIK?

Jika ilmu-pengetahuan ibarat pedang, maka:
- orang pandai memiliki banyak pedang (jumlah-kuantitas), 
- orang cerdas  memiliki ketajaman pedang (mutu-kualitas), 
- orang cerdik memiliki kemahiran memainkan pedang untuk kebaikan (mutu-kualitas positif), 
- orang licik memiliki kemahiran memainkan pedang untuk kejahatan (mutu-kualitas negatif).


Sebaik-baik orang berilmu adalah orang pandai, cerdas sekaligus cerdik . Mereka ini kaum cerdik pandai-cerdik cendekia, menunaikan amanat ilmu dengan menjaga fitrahnya, membawa manfaat dan maslahat bagi manusia dan dunia, sehingga mengangkat derajat pemiliknya. 


Kombinasi kualitas pengetahuan, ketajaman hati dan pikiran, kecerdasan mengatasi problem-problem kehidupan dan kemampuan tinggi dalam strategi, taktik dan teknik. Beruntunglah mereka, karena inilah kriteria manusia terbaik.


Dan seburuk-buruk orang berilmu adalah pandai tapi licik, mereka inilah orang yang mengkhianati amanat ilmu dengan menyelewengkannya dari fitrahnya, membawa mudlorot dan kerusakan dunia, sehingga menjatuhkan derajat pemiliknya ke tempat hina-dina. Celakalah mereka, dunia dan akhiratnya.


Jika suatu kaum banyak dihuni oleh kelompok terakhir ini, hancurlah perikehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan inilah tanda-tanda nyata bahwa kiamat sudah hampir tiba. Semoga kita terhindar dari bencananya...


“...niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan dan orang-orang yang diberi ilmu beberpa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan...” (QS [58] Al-Mujaadilah: 11)***


El Jeffry



Saturday, April 28, 2012

Pancasilais Versus Agamis


Ketika bicara tentang masa depan umat-bangsa negara, nasionalis dan agamis tiba-tiba bersitegang dan bertolak belakang.

Pancasilais bicara dengan bahasa pancasila dengan setumpuk teori akademis, lengkap dengan argumen valid dan logis, tapi ia alergi dan pesimis:

"Agama tak bisa menjawab problem-problem negara,"
padahal dia orang beragama.

Agamis bicara dengan bahasa agama dengan seberkas ilmu lengkap dan dalil-dalil shahih, tapi ia alergi dan pesimis:

"Pancasila tak bisa menjawab problem-problem negara,"
padahal ia hidup bebas beragama selama ini dalam jaminan pancasila.

Seorang anak gembala yang awam dan buta mengenai Pancasila dan agama kecuali hanya beberapa sila dan ayat saja malah lebih bijak dalam menyikapi suasana:

"Tak penting bagiku apakah istilahnya pancasila atau agama, aku ikut keduanya, yang mana keduanya bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi orang lemah seperti saya, itulah yang layak saya bela. Tapi jika hanya berdebat kusir tanpa bukti nyata manfaat bagi saya, dua-duanya hanya sia-sia."

Salam…
El Jeffry

Friday, April 27, 2012

Anak Gembala Bicara Kebenaran Bangsa


Pasal 1
Kebenaran di dunia: Kebenaran Relatif

     Kebenaran yang berlaku di dunia adalah kebenaran relatif. Tidak ada manusia yang sepenuhnya benar, dan bisa jadi tidak ada pula manusia yang sepenuhnya salah. Kebenaran ketergantungan, penuh batasan, banyak eksponen yang menentuka apakah sesuatu dikatakan benar atau salah.

      Bagiku benar, belum tentu bagimu. Bagimu benar, belum tentu baginya. Baginya benar, belum tentubagi mereka. Bagi satu kaum benar, belum tentu bagi kaum lain. Benar bagi bocah kecil, belum tentu benar bagi orang dewasa. Benar bagi orang Jawa, belumtentu benar bagi rang Batak. Benar bagi Indonesia, belum tentu benar bagi Amerika.

       Benar bagi satu kepala, belum tentu benar bagi lain kepala. Berapa jumlah kepala yang ada di muka bumi, sebanyak itulah jumlah kebenaran yang ada di muka bumi. Di bumi Indonesia ada 240 juta jiwa manusia, dan sebanyak itu pula jumlah kebenaran yang ada. Kebenaran suatu bangsa adalah “kebenaran kesepakatan”, kebenaran hasil tarik ulur, sebagian menang dan sebagian kalah, toleransi, perjuangn meramu satu kata yang bisa diterima seluruh kepala yang ada.

      Ketika akhirnya didapati mustahil mempertemukan kebenaran pada satu titik karena terlalu banyaknya perbedaan, maka tiada pilihan kecuali menggunakan asas prioritas suara terbanyak. Kebenaran yang diberlakukan adalah kebenaran yang mewakili sebanyak mungkin, mayoritas dari masing-masing kepala.

     Jika kesadaran “kebenaran kesepakatan” ini tak muncul, ketika setiap manusia yang ada bersikukuh pada kebenaran pribadi-kelompok (ego pertikular), kebenaran suku, kebenaran agama dan kelompok atau golongan, maka mustahil tercipta sebuah bangsa.
 
Pasal 2
Kebenaran: Tanduk Rusa


      Ketika aku benar dan engkau benar, namun terjadi perselisihan, kebenaran yang menyatukan kita harus melalui kesepakatan, mencari satu kata yang menurut kita sama-sama sependapat. Dua orang berbeda bertemu dalam satu kata. Kebenaran tingkat 1.
Kita bertemu lagi dengan dua orang yang mempunyai kebenaran yang berbeda, lalu kita dan mereka bertemu mencari satu kata sepakat. Kebenaran tingkat 2, penyatuan dari 4 kebenaran berbeda.
 

     Begitu seterusnya hingga terkumpul 10 ribu menjadi satu desa dalam kesepakatan, kebenaran tingkat desa, kesepakatan warga untuk hidup bersama. Kebenaran tingkat 19. Demikianlah, kebenaran meluas ketika mencapai kesepakatan dengan desa-desa lain pada satu kata bersama. Kebenaran satu kaum, suku bangsa, kebenara Jawa. Kebenaran tingkat 51. Lalu meluas lagi kepada skala banyak kaum, suku, budaya dan golongan dalam satu bangsa besar, Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 merangkum kebenaran kesukuan di atas 3 kesamaan, satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, Indonesia. Kebenaran tingkat 99.

      Hingga “Piramida Kebenaran” mengerucut pada satu titik, “Cabang-cabang kebenaran” tanduk bertemu pada satu ujung yang menempel di kepala rusa, satu tubuh kebenaran bangsa. Proklamasi 17 Agustus 1945, falsafah negara Pancasila, simbol burung garuda, slogan Bhinneka Tunggal Ika, rangkuman dari seluruh kebenaran yang ada di bumi nusantara sejak berabad-abad silam, sintesis dari unsur-unsur etnis, suku, adat, budaya, 5 agama utama, norma-norma dan nilai-nilai yang telah mengendap mengkristal menjadi jati diri, karakeristik spesifik, model eksentrik “rusa bumi pertiwi” yang berbeda dengan bangsa-bangsa dan umat-umat lain di dunia.

      Kebenaran hasil godokan pejuang-mujahid “Para Pencari Kebenaran” dalam “kawah candradimuka” bapak-bapak pendiri republik, ulama, begawan, resi, ksatria, pendeta, biksu, rahib, negarawan, kaum terbaik-terpilih-bijak bestari pada zamannya, manusia-manusia visioner yang berkelana melanglang buana untuk menggali permata terbaik bangsanya dengan berdarah-darah menghancurkan setan dajjal kezaliman imperialisme dan kolonialisme Eropa, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 3
Istidraj umat-bangsa


      Kini kita tengah mengalami prahara besar. Grafik kejayaan nusantara masa lalu menukik tajam kepada titik nadir peradaban bangsa.
 

Taufik Ismail menangis :
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak.
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi
.”

      Bangsa ini seperti telur cicak di ujung tanduk rusa. Bicara kebenaran dalam cabang-cabang kecil ego particular, kesukuan, agama, aliran, golongan dan kepentingan-kepentingan pendek, seperti katak terjebak dalam tempurung ruang-waktu. Tapi masing-masing bersikukuh pada atas nama kebenaran, lupa pada sejarah, bahwa kekukuhan itu benar secara persial, tapi salah secara nasional.

      Tak bisa disangkal, Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini yang paling bertanggung jawab terhadap tragedi bangsa. Muslim yang member kontribusi terbesar dalam menulis sejarah bangsa. Di pundak muslimlah nasib dan masa depan bangsa ini terpikul. Maka yang ada hanya “visi buruk” di depan dan “mimpi buruk” di belakang, ketika kita lihat agama terbesar negara di dunia ini masih berkutat dalam tempurung perpecahan dan perselisihan “tekstual-lafazh-kulit-simbol-zhahir-syari’at”, namun belum menuju persatuan dan penyatuan “konseptual-makna-isi-esensi-bathin-hakikat”, lupa pada musuh bersama, kemungkaran dan kezaliman antar anak bangsa-umat Negara,  lupa pada kondisi bersama yang tengah kritis, telur cicak di ujung tanduk rusa.

       “Devide et impera” buatan kompeni Belanda yang mestinya sudah basi ternyata masih bercokol di dalam dada mayoritas uamat mayoritas. Gambar agama terkotak-kotak, pakaian jama’ah ukhuwwah terkoyak-koyak, tiang rumah kiblat berderak-derak. Kafir mengkafirkan, murtad memurtadkan, sesat menyesatkan. Vonis-vonis atas nama kebenaran terlalu mudah dijatuhkan dan terlalu murah dibelanjakan.

      Produk-produk agamis masa kini merasa dengan membusung dada lebih hebat dari ulama generasi 45, dengan kemahiran perdebatan lengkap dalil-dalil kuat masih menganggap bahwa negara ini salah hukum dan salah bentuk. Khilafah, demokrasi, otoriter, entah apa istilahnya tak penting bagi awam-lemah-dlu’afa-marhaen-proletar-marjinal yg selalu tertindas dan terhimpit sesak nafas. Republik, kekaisaran, kerajaan, kesultanan juga tak penting lagi. Presiden, khalifah, raja, perdana menteri, sutan atau kaisar juga tak penting lagi.

      Yang penting adalah bukti nyata dari kemanusiaan manusia. “Nguwongke wong”. Nilai-nilai kemanusiaan itu yang sudah tiada. Kejahatan tak hanya dilakukan oleh penguasa dan pemimpin, tapi juga yang dikuasai dan rakyat jelata. Dari kepala Negara hingga kepala rumah tangga, pengkhianatan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebenaran nyata-nyata dan terang-terang siang malam di tengah-tengah umat beragama.

     Lalu buat apa bicara kebenaran dalam negara, jika untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan terdekat pun tak sanggup menunaikan. Seorang teman berkata, jika untuk tidak telanjang di muka umum menunggu aturan hukum dan undang-undang, maka ia telah gagal menjadi manusia. Bagi orang beriman, hukum ada dalam diri sendiri.  Sadar hukum, bahwa pengawasan Tuhan ada setiap detik, setiap jiwa. Bahwa setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, bukan orang lain, bukan hukum dunia, bukan tradisi, bukan budaya, bukan pula sistem. Kebenaran itu tak akan pernah ada, sebelum manusia memahami kebenaran sebagai otoritas Tuhan, Sang Maha Benar, sumber dari segala sumber kebenaran.

Pasal 4
Baik, Atau Benar?


      Tuhan tidak menuntut manusia untuk benar, kecuali hanya berusaha mendekatinya saja, lebih dekat, dantak akan pernah sampai, kecuali bagi para nabi, wali dan orang-orang suci. Tuhan hanya menuntut manusia untuk baik, lebih baik, dan lebih baik. Surga disediakan bagi mereka yang berbuat baik, bukan berbuat benar di atas landasan kepercayaan, keyakinan, iman.

      Iman dan amal shalih, percaya dan berbuat baik, cukuplah itu sebagai tujuan, sebab kita tak akan mampu berbuat benar. Kebaikan bersifat universal, nilai-nilai yang mudah difahami, dikenal tanpa banyak teori dan ilmu-ilmu pasti, sebab kebaikan terletak di dalam hati. Kebaikan, ma’ruf di kenal dalam kesepakatan dan tradisi hanya bertolak dari asas keadilan, manfaat dan kemaslahatan.

     Selama sesuatu hal tidak merugikan pihak lain, membawa manfaat dan maslahat umat, maka itulah kebaikan. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Dan tiada balasan bagi mereka yang terbaik kecuali surga, tempat kebaikan sempurna, tujuan setiap jiwa manusia.

Salam...

El Jeffry

Wednesday, April 25, 2012

Serigala Berbulu Musang: Kiamat Sudah Dekat?


     Ini adalah sebuah kisah akhir zaman, tanda-tanda kiamat sudah dekat, zaman edan, era gila, musibah peradaban, fitnah kemanusiaan di ujung tanduk teknologi bumi. Peribahasa “Musang berbulu ayam” sudah terlalu usang, hanya penjahat kecil berkedok pahlawan kecil, khushushon arena permainan para kurcaci. Sedikit agak berkelas, ”Serigala berbulu domba”, penjahat lumayan besar berkedok pahlawan besar. Panggung besar yang hanya melibatkan aktor-aktor besar, berkelas dan profesional di bidangnya, mereka-mereka yang pintar bermain drama dan para ‘ilusionis’, mahir menghipnotis mata jelata tak terlatih agar melihat kejahatan sebagai kebaikan.

      “Serigala berbulu musang,” ini baru baru bonafide, penjahat besar berkedok penjahat kecil. Dua-duanya sama-sama penjahat, hanya saja penajahat ini sesungguhnya telah melakukan kejahatan besar, namun karena kepiawaian memainkan akal bulus, kejahatan kasar dan besar nampak halus  dan terbungkus, esensinya ‘luar biasa’ namun kostum yang terlihat oleh mata nampak sebagai remeh-temeh biasa. Mungkin pula karena kasus-kasus kejahatan sudah menjadi hal biasa, telah terpola sebagai budaya, ala bisa karena biasa. Bahkan Extra ordinary crime pun hanya dipandang sebelah mata. Benar-benar ‘prestasi’luar biasa. Bagaimana bisa?

      Ketika adab ewuh-pekewuh salah taruh dan toleransi mengalami pembengkokan posisi, pemaafan kebablasan menyikapi kejahatan, terciptalah tradisi slogan, “Kecil-kecil nggak apa-apalah, jamak aja, namanya juga manusia.” Dengan dalih “Tiada manusia yang suci”, dan ‘mengakal-akali’ ke-Maha Pengampun-an Tuhan, penjahat-penjahat kecil beraksi tiap hari tanpa rasa dosa melanggar koridor agama dan kitab suci. Salah cerna ransum agama turut andil membentuk sifat manusia, dari sifat menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi karakter, lalu lahir bayi tradisi dan budaya baru dengan ‘sehat wal ‘afiat.’Seiring waktu berlalu, sang bayi tumbuh menjadi bocah bengal bertubuh gempal, hingga pada saatnya dewasa mengukuhkan diri dab ber-evolusi menjadi drakula raksasa.

      Inilah musibah peradaban, fitnah zaman. Budaya malu tenggelam, rasa takut pada sanksi dan hukuman menghilang, iman urusan belakang. Maksiat, kekejian dan kemungkaran terbuka blak-blakan tanpa tedeng aling-aling, seperti terbukanya aurat perempuan belia di tengah keramaian, mengundang syahwat binatang mata-mata jalang. Malu itu telah hilang. Perzinahan, perjudian, pencurian, penyuapan, penipuan, pendurhakaan nilai-nilai dan norma-norma kemanusiaan membuncah seperti air bah, tersebar luas dengan kesadaran dan berjama’ah.

      “Serigala berbulu musang,” Drakula raksasa tumbuh cerdas bukan kepalang. Intelektual tanpa spiritual, secara signifikan terproduksi massal manusia-manusia kanibal. Homo homini lupus, tak hanya serigala memangsa serigala, lahirlah era manusia memangsa manusia. Tak hanya menghisap darah, namun sekaligus daging berikut tulang-tulangnya. “Serigala berbulu musang.” Kejahatan besar berkedok kejahatan kecil. Sang Kala menyusup di jasad bayi. Drakula raksasa berkostum  kurcaci. Penjahat kelas kakap berbaju penjahat kelas teri. Di negeri surga para pelancung, tradisi culas berlangsung. Raksasa akademis dengan senjata kavaleri teori praktis  mengkhianati ilmu pengetahuan untuk aksi kejahatan.

      Sudah menjadi spesialisasi tersendiri dalam dunia musang berbulu serigala. Profesional dalam meng-kamuflase angka-angka statistik, manipulasi grafik dan mutilasi data-data otentik. ‘Manusia memangsa manusia’ dengan dalih terpaksa, desakan keluarga, demi istri tercinta, demi kepentingan organisasi, demi rakyat yang diwakili, bahkan tak jarang dengan terang-terang berjuang demi Tuhan dan misi Suci. Dalih, dalih dan dalih pembenaran. Menipu manusia adalah menipu diri, jika yang melakukan adalah manusia. Menipu kebenaran adalah menipu diri, sebab kebenaran ‘dipersembahkan’ hanya untuk manusia.

       Singkat kata, musang atau serigala sama saja, tetap memangsa korban. Namun “Serigala berbulu musang,” adalah strategi paling berbahaya dengan daya hancur luar biasa, sebab kejahatan dilakukan dengan kesadaran, profesioanal, terorganisir, terang-terang berbaur suram-suram, menyembunyikan ‘yang mega akbar’ di balik ‘yang mini kecil’. Tidak “musang berbulu ayam, serigala berbulu domba, atau “serigala berbulu musang,” ketiganya adalah kejahatan, kakalulah beda hanya saja pada tingkat dan derajat, dan tentu beda pula akibat yang didapat.

      Yang pasti semua itu suatu sinyalemen kuat bahwa kiamat sudah dekat. Tak harus menunggu hancur leburnya jagad raya, bahkan hancurnya budaya sudah cukup mengancam keberadaan kita sebagai sebuah keluarga-bangsa. Hanya ada dua pilihan, bersatu bersama bergandeng tangan berjuang membangun kesadaran dan penyadaran untuk memotong daftar panjang korban ayam-ayam dan domba bangsa, kaum lemah rakyat jelata, hanya itu cara terbaik menyelamatkan spesies manusia Indonesia. Atau bergabung dalam koloni musang dan serigala, lalu menunggu saatnya petaka besar tiba, itupun hanya bagi siapa di antara kita yang masih percaya, bahwa janji dan ancaman Tuhan benar adanya. 


Salam...
El Jeffry


Monday, April 23, 2012

TERBLOKIRNYA AKUN LEMBAGA DEWA KEADILAN



      Pernahkah terlintas oleh pikiran kita ‘lemot’-nya ‘loading’ kinerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam men’download’ kasus-kasus mega-akbar sekaligus akar dari pohon korupsi di negeri ini disebabkan karena salah nama? Lalu dari ‘lemot’ pertama berentet ‘lemot’ lanjutan dalam men-‘delete’ para koruptor kelas kakap, tak mampu mem-‘protect’ akun pribadi lembaga suci sehingga terbuka lebar  terhadap serangan virus perusak program keadilan rakyat-bangsa-negara.

      ‘Hacker-hacker’ politik dan kekuasaan tetap leluasa ‘browsing’, menjelajah dalam jutaan celah, meretas, mencuri dan membajak ‘kata sandi’ pemilik akun asli, sang raja lembaga dan seluruh jajarannya. Tak jelas siapa lagi yang bertanggung jawab, mungkin semuanya telah dilakukan dengan benar, sesuai prosedur dan legal-formal, tapi rasanya akun ‘lembaga dewa’ itu mungkin telah terblokir, tak bisa membuka akunnya sendiri.

      Bahasa teknologi media komunikasi mungkin terlalu membingungkan, sebab komunikasi di antara kita juga masih ‘tulalit’ karena lemahnya sinyal alam pikir dan dunia rasa manusia Indonesia, indikasi raibnya wawasan nusantara. Tak ada salahnya sejenak kita belajar dari bahasa petani, bagaimana hasil akhir dari panen tergantung dari kesuksesan PHPT,  Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. 

     Korupsi adalah hama dan penyakit yang mengancam, atau kali ini telah mengintimidasi bahkan telah ganas menyerang tanaman keadilan-kemakmuran-kesejahteraan rakyat-bangsa. Pemberantasan bukan ajian pamungkas jika tidak ada pencegahan. Keduanya berkedudukan sebagai unsur penyusun senyawa sempurna pengendalian. 

         Dengan kata lain, pengendalian adalah judul, pemberantasan dan pencegahan adalah dua sub judul. Pengendalian adalah pohon, pemberantasan adalah pokok, sedang pencegahan adalah akarnya. Selama akar korupsi belum ditemukan dan dibongkar, maka buah korupsi akan rimbun dan ranum bergelantungan dan bermunculan tanpa kenal musim. Menciptakan obat pengendalian dengan ramuan antibiotik pemberantasan dan antibodi pencegahan adalah keharusan.

      Bicara soal nama, kenapa kita tidak memakai nama Komisi Pengendalian Korupsi? Sebagaimana yang terjadi pada tanaman, hama dan penyakit itu selalu ada, mustahil keduanya hilang, sebab itu bagian dari ‘skenario dinamis’ romantika alam, sebagaimana setan dibutuhkan untuk memenuhi hak neraka. Yang dibutuhkan petani untuk bisa sukses panen hanyalah memperlakukan hama dan penyakit agar ‘terkendali’, ‘undercontrol’, tidak liar, buas mengganas dan ‘nggragas’. 

     Soal angka terkendalinya terserah, bisa juga mengikuti rumus bisnis ritel, patok 5 % untuk aset yang bakal tercuri, terkutil, ‘lahan rejeki’ koruptor-koruptor kecil, sebab ‘impossible’ mencetak laba 100 %, dan menjaga aset agar utuh 100 %. Se’impossible’nya petani mematok target 100 % panen dari setiap batang tanaman yang ditancapkan di awal musim. Peternak ikan mematok angka 80 % SR (Survival Ratio), angka kehidupan yang layak dijadikan ukuran bahwa kultur itu tumbuh sehat alias usaha yang menguntungkan dan layak dilanjutkan. Target 0% korupsi di Indonesia mustahil tercapai, bahkan di seantero duniapun tak ada yang bisa, kecuali setan telah di-’remove’ dan di-‘uninstall’ dari ‘file program’ kehidupan bumi.

     Mungkin dengan mengubah nama ada harapan mengubah paradigma, mengubah peruntungan ‘lembaga dewa’, mengubah wajah ‘seram’ bangsa kita atau lebih 'obsesif' lagi  tak mustahil mengubah ‘peta percaturan perkorupsian’ dunia. Apa arti sebuah nama, kata pujangga, tapi seorang teman berkata, bukankah kata Nabi nama adalah sebuah do’a? Dan do’a adalah awal dari penentu hasil akhir dari segalanya? Sebab dalam do’a ada niat, iradah, kehendak dan itikad kuat untuk berikhtiar mencapai tujuan? Dan bukankah hasil seseorang tergantung dari apa yang ia niatkan?

       Tak ada salahnya mengubah nama kepanjangan KPK menjadi Komisi Pengendalian Korupsi. Tutup akun lama, pembaharuan akun dengan email baru, kode dan kata sandi baru yang terkunci rapi dalam hati-nurani-sanubari ‘sang raja’ lembaga dewa beserta ‘hulubalang dan balatentara’nya. Semoga ‘hacker-hacker’ dan ‘virus-virus’ politik dan kekuasaan terpaksa ‘bersusah payah’ untuk melancarkan serangan, kecuali hanya tak lebih dari 5% saja yang ‘lolos’ menerabas proteksi akun uang negara, masih lebih dari cukup untuk 95% para petani rakyat untuk panen raya memetik buah hak keadilan-kemakmuran-kesejahteraan.

       Dan terakhir jangan lupa pesan para leluhur, para resi dan begawan. ‘Ruwatan massal’, tradisi ritual pagelaran wayang kulit semalam suntuk untuk mengusir ‘roh-roh jahat’ sang sambikala, pencerahan dan pembaharuan spiritual seluruh komponen umat-bangsa. Dan agar nama baru ini memiliki ‘tuah’, bergigi, bertenaga, bernyali dan ber’laku’ layaknya Dewa Keadilan,  ‘wajib’ hukumnya memohon ‘pangestu’-restu dan munajat-do’a dari seluruh kaum miskin-lemah-‘dlu’afa’ yang selama ini teraniaya, bukankah kita masih percaya bahwa do’a orang teraniaya tak akan tertolak oleh Tuhannya...??? **

Salam...

El Jeffry

Sunday, April 22, 2012

Pesan untuk Sahabat


      Ketika aku berpesan tentang suatu ilmu-pengetahuan, jangan engkau menyangka bahwa aku bermaksud memberi pengajaran, aku hanya tengah mengajari diriku sendiri dan tengah berupaya melakukannya (mempraktekkan-mengamalkan), hanya saja aku bemaksud berbagi kepadamu, lagi pula engkau tak pernah tahu keseharianku sebelum kita menyempatkan diri untuk bertemu. 

      Bisa jadi aku gagal dalam pemahaman dan pengamalan, dan engkau yang berhasil memperoleh keduanya lebih baik dariku, sebab kemampuan orang tidaklah sama. Aku hanya berharap engkau lebih baik dariku, dan setidaknya aku telah memperoleh kebaikan hasil dari  berbagi. Bisa jadi aku hanya mendapatkan satu, sedang engkau mendapatkan seratus atau seribu, akupun mendapat kebaikan pula dengan berbagi.

      Atau bisa jadi pula aku telah sadar apa yang kusampaikan memang di luar kemampuanku untuk mencapainya, sedang aku tahu sebagian dari engkau pasti ada kemampuan itu, akupun mendapat kebaikan dari pencapaianmu. Sebab jika kupendam hanya karena kehati-hatian berlebihan, maka selamanya tidak ada yang mendapat pencapaian, tidak aku atau engkau, dan itu adalah kesia-siaan, pastinya aku tak mendapatkan satupun kebaikan.

      Namun bila yang aku sampaikan dan tengah berusaha kulakukan semampuku hanya engkau anggap angin lalu, sebab engkau tak pernah mengenalku, maka itu sudah di luar tanggung jawabku, aku tetap mendapat kebaikan dari niat dan itikad baik, tak lebih dari itu. Jika kuanggap pesanku adalah niaga (bisnis), maka yang kulakukan adalah ‘laba utama’, sedang engkau kuharap sebagai ‘bonus’nya. Mungkinkah aku hanya mengejar ‘bonus’ dengan mengabaikan ‘laba utama’?

      Alangkah baiknya jika yang engkau lihat apa yang disampaikan (ma qaala), bukan siapa yang menyampaikan (man qaala). Shakespeare berkata: “Apa arti sebuah nama?” Memang itu berarti, hanya bila engkau mengenal orangnya. Orang arif berkata  “Jika engkau hendak mengenal orang, kenalilah tulisannya. Dan jika engkau hendak mengenal tulisan, kenalilah orangnya.”

     Tulisan adalah cermin dari pengetahuan dan isi seseorang, ia akan jujur mengungkapkan kepribadian. Jika engkau lihat inkonsistensi (tidak istiqomah) dari tulisannya, maka begitulah dengan orangnya. Demikian pula sebaliknya. Satu hari dia bercerita tentang ketegaran, di hari lain berkeluh kesah tentang kerapuhan. Di satu saat dia berwasiat dengan kekhusyu’an, di saat lain dia mengumbar kata-kata maksiat dan kemungkaran. Hampir pasti bisa dikatakan itulah inkonsistensi. Kata-kata dan pesan hanya kreasi (karya cipta-rekayasa), bukan ekspresi (ungkap rasa-apa adanya).

     Seorang ahli ilmu juga pernah berkata: “Jika untuk berpesan (taushiah-nasehat) menunggu segalanya sempurna, maka tidak akan pernah ada sekolah, pengajaran dan penyebaran ilmu-pengetahuan. Jika yang engkau dapati suatu kebaikan, anggapalah itu pengajaran untuk berbuat baik. Dan jika yang engkau dapati suatu keburukan, maka anggaplah itu sebagai pengajaran pula untuk engkau hindarkan.”

      Sebagaimana bila akhirnya aku berpesan : “Maukah engkau kuberi tahu 1001 cara untuk ‘mencapai’ kegagalan?” Bila memungkinkan dan engkau berkenan akan kuuraikan satu persatu, dan engaku akan paham maksud pesan itu, apakah aku hendak mengajarimu untuk untuk ‘berhasil’ mencapai kegagalan, atau justru untuk berhasil meraih keberhasilan.


Salam...
El Jeffry

Asal Beda (Beda Asal-Asalan)



Suatu ketika disampaikan sebuah perkara sederhana, seseorang bertanya: “Apa maknanya?”

Lalu disampaikan sebuah makna, kembali ia bertanya: “Bagaimana penjabarannya?”
Lalu dijabarkan sebisanya, kembali ia bertanya: “Mana dalilnya?”
Lalu disampaikan sebuah ayat, kembali ia bertanya: “Mana haditsnya?”
Lalu disampaikan sebuah hadits, kembali ia bertanya: “Bagaimana keshahihannya?”
Lalu setelah disampaikan selengkap-lengkapnya, masih saja ia bertanya : “Itu kan menurut madzhabmu saudara, kalau saya mengikuti madzhab yang berbeda.”

Lalu berbalik ia ditanya: “Apa agamamu?”ia jawab: “Islam, agama sempurna”
Pertanyaan lagi: “Siapa Tuhanmu?”, ia jawab: “Allah azza wa jalla
Pertanyaan lagi: “Siapa nabi dan rasulmu?, ia jawab: “Muhammad, nabi dan rasulku”
Pertanyaan lagi: “Apa kitab sucimu?”, ia jawab: “Al-Qur’anul karim
Pertanyaan terakhir: “Ke mana kiblatmu?”, ia jawab: “Mekkah al-mukarramah

Pernyataan terakhir: “Akupun punya jawaban yang sama, tapi engkau menganggap seakan-akan aku orang Yahudi, Nasrani atau Majusi. Kenapa tidak saja sekalian engkau bacakan lakum dinukum waliyadin? Bagimu agamamu, bagiku agamaku? Jangan engkau sapa lagi diriku dengan panggilan saudara.”

Sambil istighfar menahan kesal orang itupun meninggalkannya sambil bergumam: “Percuma aku berurusan dengan orang yang asal beda. Lebih nyaman bagiku berbicara dengan anak sapi betina...”

Salam...
El Jeffry

Koruptor dan Agama KTP

      Sungguh repot kalau agama hanya ada pada selembar tanda pengenal, KTP. Mau dituduh atheis, secara ‘de jure’ ber-Tuhan. Mau dituduh ber-Tuhan, secara ‘de facto’ seakan-akan tak percaya pada-Nya. Entah itu Islam, Kristen, Protestan, Hindu atau Budha, agama KTP tak lebih dari formalitas belaka. Masjid, gereja, pura dan wihara hanya sebagai acara ritual dan upacara. Tertib dan hikmat layaknya orang saleh, tapi di luar, selalu salah, kesalehan lupa terbawa, kesalahan berulang tiada akhirnya.

     Ibadah rajin, ilmu agama seakan hapal di luar kepala, tapi isi kepala seakan keluar dari ilmu agama. Hukum yang jelas dan terang, dilabrak begitu saja, persis seperti orang lupa. Tapi kalau ditanya, ingat dengan akurat, paham jelas maksud dan artinya.

      Agama KTP, jama’ah koruptor adalah contoh yang nyata. Nama-nama indah dan baik, bahkan sebagian ‘meminjam’ nama suci nabi tak banyak menolong agama dirinya. Padahal nama adalah bagian dari do’a, tapi nyatanya hanya label palsu belaka. Tanah suci yang pernah dikunjunginya pun masih gagal mensucikan kelakuannya. Mencuri uang negara, menggelapkan harta rakyat jelata, menggasak peraturan dan Undang-Undang, bahkan sumpah jabatan, itu lumrah dan biasa.

      Bukan mabuk atau gila, tapi sadar sesadar-sadarnya. Itulah agama KTP, agama formal hanya sebagai tanda pengenal, mencoreng nilai kesucian agama, membuat orang awam menjadi tak percaya agama. Agama KTP, penistaan terhadap kebenaran, bentuk nyata dari pengecut dan pendusta.


      Di Indonesia ini, kalau memang pemberani, jadi koruptor boleh-boleh saja, tapi lepaskan dulu label agama dari KTP, alias atheis, tidak meminjam nama agama untuk kejahatan. Kalau jadi atheis, berarti melanggar sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jika melanggar Pancasila, keluar saja dari Indonesia, silahkan minta suaka ke Jepang, Cina atau Rusia, berkumpul dengan atheis dan komunis, kan sudah habitatnya. Tapi repotnya, di sana koruptor juga musuh negara, akhirnya hanya sia-sia.

      Agama KTP, agamanya orang ‘mencla-mencle’, ‘esuk dhele sore tempe’, sekedar ‘manis-manis lambe’, penghias bibir. Tobat sambel tomat, baru saja berucap kalimat syahadat, selang beberapa saat sudah menebar syahwat dan khianat. Minggu pagi ke kebaktian gereja, Senin sore sudah ketagihan menggasak anggaran negara. Rajin berdo’a di wihara, tapi nafsu jahat masih dipelihara. Khusuk dan khidmat di dalam pura, tapi hidupnya penuh pura-pura. Itulah perilaku manusia yang hanya punya agama KTP. Kelihatannya beragama, tapi sebenarnya tidak beragama. Rapi di tampilan kemasan luar, tapi kusut masam isi hati dan bathinnya.

      Koruptor didominasi oleh aktor beragama KTP. Mestinya dibuat peraturan baru, uji layak data KTP, khususnya ketika hendak mencantumkan agama. Dan jika terbukti ada  pelanggaran agama bagi pemiliknya, identitas perlu dikaji ulang, atau jangan diberi KTP, alias dianggap penduduk ilegal, samapi bisa membuktikan bahwa dirinya telah taat aturan agama, mungkin koruptor tak lagi berkeliaran dan bermunculan sepanjang masa. Selama mudahnya mengurus KTP, menjual nama agama sebagai kamuflase, selama itu pula koruptor bebas melancarkan aksi kejahatan melanggar hak-hak sesama, dan merusak kehidupan bernegara.

Salam...

El Jeffry

Friday, April 20, 2012

KATAKAN TIDAK !

Katakan tidak pada korupsi !
Katakan tidak pada kolusi !
Katakan tidak pada nepotisme !
Katakan tidak pada suap !
Katakan tidak pada sogokan !
Katakan tidak pada "wani piro?" !
Katakan tidak pada pelicin !
Katakan tidak pada pembajakan !
Katakan tidak pada pembalakan liar !
Katakan tidak pada pencontekan !
Katakan tidak pada pencurian !
Katakan tidak pada penipuan !
Katakan tidak pada "black market' !
Katakan tidak pada "salam tempel" tilang !
Katakan tidak pada "mark up" !
Katakan tidak pada miras dan narkoba !
Katakan tidak pada zina dengan segala bentuknya !
Katakan tidak pada judi dan sejenisnya !
Katakan tidak pada bicara dusta !
Katakan tidak pada ingkar janji !
Katakan tidak pada khianat !
Katakan tidak pada putus asa !
Katakan tidak pada lemah semangat !
Katakan tidak pada penipuan !
Katakan tidak pada keserakahan !
Katakan tidak pada ketakutan !
Katakan tidak pada kebingungan !
Katakan tidak pada kecerobohan !
Katakan tidak pada perbudakan !
Katakan tidak pada penjajahan !
Katakan tidak pada penindasan !

Katakan tidak pada pelanggaran hak-hak orang !
Katakan tidak pada pelanggaran hak-hak alam !
Katakan tidak pada pelanggaran hak-hak Tuhan !

Hanya katakan "Tidak !", apa susahnya?

Jangan pernah kita meremehkan kata-kata.
Perubahan, perbaikan dan penyempurnaan selalu diawali dengan kata-kata.
Kata-kata selalu diawali dengan niat kuat dan itikad.
Kata-kata adalah "akad" jiwa, pengikat hati dan lisan untuk melahirakn perbuatan.
Kata-kata adalah energi, power, kekuatan dalam jiwa.
Bila ia terucap terus-menerus pasti akan membangkitkan raga.

Katakan saja, tak perlu pikirkan berhasil atau tidak.
Jika kita telah meyakini semua itu adalah kebaikan, jangan pernah ragu untuk selalu mengucapkan.

Kesabaran, kesungguhan, keyakinan.
Seperti tetesan air melubangi sebongkah batu.
Hati yang keras bila saatnya tiba pasti akan melunak.
Hari ini gagal, mungkin esok berhasil.
Esok gagal mungkin lusa berhasil.

Lusa gagal mungkin pekan depan, tahun depan, dua puluh tahun lagi,
atau mungkin saat kematian menjelang baru berhasil.
Bila saat kematian masih gagal, setidaknya kita sudah berniat dan berbuat.
Sesungguhnya itulah yang dinilai keberhasilan sesungguhnya.
Keberhasilan memperjuangkan perubahan dan perbaikan hidup kita.
Setidaknya "spirit perjuangan" akan kita tinggalkan sebagai sebuah warisan berharga.
Untuk kebaikan generasi anak cucu kita, dunia kebaikan dunia berikutnya.

 
El Jeffry