Sunday, March 18, 2012

SIKLUS KEHIDUPAN

    Padi dimakan tikus. Tikus dimakan ular. Ular dimakan elang. Elang bertarung dengan burung liar di angkasa, terbunuh, bangkainya jatuh ke tanah. Lalu dimakan lalat dan mikroba, dirombak menjadi unsur hara, larut terbawa air mengali ke sawah, sumber makanan utama padi-padi muda.

     Itulah rantai makanan, rantai lingkaran kehidupan. Yang makan adalah yang dimakan. Yang mencari adalah yang dicari. Yang membunuh adalah yang dibunuh. Tiada awal tiada akhir, wajah menghadap ke titik tengah, bergerak berputar berkeliling tanpa bisa berpaling.

     Itulah hukum. Hukum alam, hukum rimba, hukum kehidupan dunia. Ketetapan berlaku sedari dulu dan sampai kapanpun tak pernah berubah. Dari tiada menjadi ada, lalu kembali tiada. Tapi keberadaan adalah kemestian. Keberadaan adalah kepastian. Keberadaan adalah bebas dari ketergantungan, diterima atau ditolak, tiada yang mampu mengubahnya. Keberadaan adalah ketetapan. Yang telah tetap tak tergoyahkan, tak bergeming atas perubahan, abadi dan azali.

     Semua butuh makan untuk hidup. Semua butuh hidup untuk mempertahankan siklus agar tak putus, ketetapan, keseimbangan alam, keadilan tatanan. Yang makan adalah yang termakan. Yang membunuh adalah yang terbunuh. Yang mencuri adalah yang tercuri. Kausalitas, sebab akibat, syarat dan jawab, jual beli, harga pasti, karma semesta. Budi berbalas budi. Darma berbalas darma. Bakti berbalas bakti.

     Siklus kehidupan, manusia terjebak di dalam alurnya. Jebakan yang telah ‘direkayasa’, plot cerita dari sebuah rencana besar, skenario Maha Benar.  ‘Uji kelayakan dan kepatutan’ , untuk sebuah peran dan jabatan, makhluk primata istimewa, khalifah bumi, manusia.

    Serial sakral teatrikal, seremonial monumental, pergelaran di atas panggung, karya adiluhung Kreator Agung. ‘Casting’ telah dilalui, tak ada yang bisa dilakukan kecuali  berbicara, menari dan bernyanyi, menangis tersedu dan tertawa terbahak, duduk, berlari dan berkelahi, jalani lakon ikuti komando instruktur Sutradara Sejati.

    “Bukan kamu yang melempar saat kamu melempar, tapi Dia yang melempar. “Tiada pilihan kecuali melempar dengan benar, beri lemparan terbaik yang bisa dilakukan.  Mengumpulkan debu-debu sejarah, rekam jejak sesuai arah, persembahan fitrah  untuk Yang Maha Suci, berharap kemurahan penilaian Sang Pemurah, Kausa Prima, Sebab Pertama perancang siklus kehidupan, penggelar panggung mayapada, sebaik- baik pencipta, Allah ‘azza wa jalla...***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment