Sunday, March 18, 2012

SEBUTIR PASIR DAN PASIR WAKTU

Sebutir pasir terlihat besar di mata mikroba,
tapi terlihat kecil di mata gajah.

Tak ada yang berubah dari sebutir pasir,
tapi si empunya matalah yang membuatnya berbeda.

Pasir kehidupan, pasir masalah, pasir problema, pasir perkara, pasir peristiwa, pasir sejarah,
seluruh pasir kejadian di alam semesta, ia tak pernah berubah,
dulu, sekarang, esok selalu sama.

Siempunya mata yang menjadikannya besar atau kecil ukurannya,
berat atau ringan bobot bebannya,
sederhana atau rumit penyelesainnya.

Mata kepala memang penuh keterbatasan, tapi mata hati adalah cahaya merdeka, nur'aini, itulah nurani, cahaya mata yang bebas menjelajah alam semesta, dari mikrokosmos hingga makrokosmos,
menembus ruang, membelah waktu,
daya jelajah tak terkira.

Sebutir pasir, segugus galaksi, sebuah atom, sesel bakteri,seekor gajah,
enam masa penciptaan semesta, malaikat, jin dan manusia, surga dan neraka,
semua terhimpun dalam satu mata merdeka,
mata hati yang telah terasah, terbuka dan tersucikan dari batasan.
Nur'aini, cahaya mata, hati nurani, sanubari...

' Pasir waktu ' telah diletakkan, butir demi butir jatuh mengalir,
menghitung, mencatat, menulis, merekam,
mengabadikan seluruh peristiwa semesta alam,
gerak maupun diam,
terang- terangan maupun diam- diam,
nampak maupun disembunyikan,
kebaikan maupun keburukan,
tak sebutir ‘pasir’ zarrahpun terlewatkan’.

Cahaya mata hati yang terang akan seksama menghitung,
tiap butir yang jatuh satu persatu.
Namun cahaya mata hati yang buram akan melewatkan,
bahkan sampai jatuhnya butir terakhir,
waktu penghabisan.

Demi waktu,
manusia tercipta dalam merugi,
kecuali berjalan di atas sinergi ; keyakinan, perilaku kebaikan,
saling berpesan dalam dan dengan kebenaran,
serta saling berpesan dalam dan dengan kesabaran...***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment