Sunday, March 18, 2012

Kisah Sebilah Pedang



     Sebilah pedang pusaka tak bertuan tergeletak di tepi jalan. Seorang pejalan mengambilnya karena tertarik oleh keindahan bentuk dan hiasan ukirannya. Ia selipkan di pinggang sambil bergaya ala jagoan, sepanjang perjalanan mengundang decak kagum dan rasa segan siapapun yang memandang. Sampai suatu saat si pejalan dihinggapi rasa bosan dan mulai berpikir bahwa pedang itu tak berguna kecuali menambah beban perjalanan saja.

       Dilemparkanlah pedang itu ketengah hutan, jatuh tepat di dekat seorang penyamun yang sedang istirahat di bawah pohon rindang sambil menikmati makan siang. Pucuk dicinta ulam tiba, memang ia sedang membutuhkan senjata yang lebih besar dan lebih bertenaga dari yang selama ini digunakan, hanya sebilah golok usang. 

       Diambilnya pedang itu dengan gembira. Benar saja, pedang itu memang hebat. Bertahun-tahun ditangannya digunakan untuk mencari harta dengan merampas milik orang. Bahkan dengan kejam ia tak segan ia membunuh korban yang berusaha melawan. Nyawa dan korban berjatuhan sekian lamanya.

      Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang berkelana demi membela kebenaran dan menumpas kejahatan. Terjadilah pertarungan yang akhirnya dimenangi oleh pemuda. Penyamun terbunuh, pedang itupun berpindah tangan kepada kepada tuan yang baru. Memang pedang itu luar biasa. Di tangan pemuda itu ia berhasil menyelamatkan banyak orang, menumpas kejahatan dan penganiayaan sepanjang pengembaraan. Pedangpun kini menjadi penegak kebenaran, keadilan dan kemaslahatan.

     Sebilah pedang sesungguhnya tak bermakna sebelum ia jatuh ke tangan manusia. Ia tak lebih dari alat yang baru akan bekerja setelah manusia memerankan fungsinya. Di tangan manusia pedang yang sama membawa makna yang berbeda- beda. Pada pejalan ia tak memberi apa- apa kecuali beban semata, pada penyamun ia menjadi alat kejahatan, sedang pada pemuda ia menjadi alat kebajikan. 

      Demikianlah pula dengan ilmu pengetahuan. Ia tak lebih dari sebilah pedang, hanya alat belaka. Ilmu hanya akan menjadi kesia- siaan, beban membosankan dan memberatkan pemiliknya ketika ia hanya dimiliki tanpa digunakan sama sekali. Ilmu juga bisa membawa keburukan dan kebinasaan pemiliknya bila ia digunakan untuk kejahatan dan kerusakan. Dan ilmu juga akan membawa kebaikan pada pemiliknya ketika ia digunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, menghancurkan kejahatan dan penganiayaan antar manusia. ***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment