Friday, March 16, 2012

SANDAL JEPIT : SELALU TERGANJAL DAN TERHIMPIT

Siapa tak kenal sandal jepit. Sepasang alas kaki yang identik dengan rakyat kecil, kaum marjinal yang terjepit. Setali tiga uang dengan nasib sandal, pengguna sandal jepit adalah komunitas sosial yang nasibnya selalu terganjal dan terhimpit Belum lama berselang, sang sandal sempat fenomenal ketika mengorbitkan A’al menjadi berita nasional. Kasus pencurian sandal membawanya terjungkal dan terbelit, nasib sial menjadi penyakit, aparat arogan yang gatal menggaruk duit.

Sindroma A’al, potret sosial bagaimana orang kecil selalu kalah dan terpental ketika berhadapan dengan orang besar. Meski mencuri juga sudah menjadi tradisi, namun penegakan hukum dan keadilan akan selalu gagal ketika alat- alat hukum masih berjiwa kanibal, gemar mencuri kesempatan untuk menggit mangsa sesama saudara, rakyat jelata.

A’al yang sial dan aparat yang gatal memicu publik untuk ramai- ramai bereaksi karena sudah sama- sama gatal dan mual melihat tingkah polah polisi nakal. Semua gatal, semua mual, maka wajib digaruk dan dimuntahkan. Namun itulah budaya kita, tradisi latah dan mental panas- panas tahi ayam, ikut- ikutan bersikap tanpa tahu ujung pangkal dan hanya panas sesaat lalu hilang begitu angin menerpa. Dingin seketika. Berhenti setelah gatal hilang dan perut mual kembali lega. Aksi seribu sandal tak terdengar lagi.

Sindroma A’al dan sandal jepit tak menghasilkan apa- apa, lenyap ditelan berita yang lebih hot dan mak nyos untuk dinikmati, padahal pada dasarnya punya pakem yang sama, hanya pergelarannya yang berbeda. Isi yang sama, hanya kemasannya yang berubah desain, motif dan warna. Persis seperti opera Romeo Juliet atau pentas Mahabarata, cerita yang sama, tapi tetap saja membuat penonton terkesima dan pok ame- ame setelah pementasan paripurna. Lalu pulang ke rumah membawa kepuasan tanpa memperoleh ‘pencerahan’ sedikitpun, meski telah membayar mahal hanya untuk beberapa jam pertunjukan. 

Mental penonton, sifat komentator, tradisi penggembira, itulah refleksi wajah kita. Selalu gagal menangkap pesan di balik peristiwa. Gagal mengambil hikmah di balik musibah. Maka cerita yang sama akan selalu berulang, tanpa pernah menghargai dengan mahalnya sebuah pengalaman, lalu bagaimana akan bisa melakukan pembenahan, perbaikan dan penyempurnaan ? Bukankah pembetulan,revisi atau koreksi dimulai dengan jalan mengetahui kesalahan, lalu dengan bijak menemukan sebuah cara untuk memperbaiki kesalahan itu agar tak terulang ?

Sandal jepit adalah sebuah simbol. Ia adalah cermin. Kacabenggala. Sandal jepit adalah gambar rakyat yang selalu ada di bawah, menjadi aspal penyangga lalu lalang mobil- mobil elit. Sandal jepit adalah cermin untuk melihat keadaan mereka yang kumal dan selalu menjerit, mayoritas lokal namun lingkup geraknya dipersempit.  Sandal jepit adalah kacabenggala korban kapitalis brutal dan penguasa   yang  jiwanya sakit, terus- menerus jadi tumbal kaum feodal dan ekonominya terpuruk pailit, mulut- mulut yang disumpal dan tangan kaki diapit, dihimpit masalah bergumpal tanpa mampu berkelit, hidup gagal matipun sulit.

Sandal jepit, memang hanya  menjadi ganjal dan terjepit,sengaja atau tidak sengaja. Namun orang-orang yang berdiri berpijak beralas kaki padanya, yang menghindari tanah agar tak menginjaknya, yang terjaga dari kuman dan kerikil tajam sehingga sehat dan aman dari bahaya, mereka berhutang jasa kepada sang sandal, dan juga berpiutang dosa jika tak menghargai sandal jepit sebagai sepasang pahlawan yang menopang hidup sehari- hari. Jangan pernah menyangka sandal jepit yang remeh tanpa daya tak punya makna. Ia bisa saja tiba- tiba menampar wajah dalam hitungan yang tak terduga.

Sudah waktunya kita menempatkan sandal jepit pada martabat yang selayaknya. Mungkin spirit sandal jepit bisa membangunkan bangsa kita dari tidur panjang, karena kelamaan kaki- kaki anak negeri tidak pernah merasakan sentuhan sang sandal karena lebih akrab dengan sepatu kulit, sepatu roda dan sepatu kaca. Larut dalam gaya perlente, gemar hura- hura dan pesta dansa di dalam istana. Lupa pada beratnya kehidupan di luar sana, di pelosok- pelosok desa, tempat- tempat terkucil, lingkungan kumuh, pengemis dan gelandangan, pemulung dan pengamen jalanan, petani kecil dan buruh- buruh bangunan, nelayan pesisir dan penduduk pedalaman, mereka yang lebih sering bertelanjang kaki dan bergulat dengan lumpur, tanah dan debu. Merekalah yang menghargai sepasang sandal itu sebagai barang mewah lalu menempatkannya sebagai sahabat mulia.

Andai sehari saja dicanangkan Gerakan Sandal Jepit Nasional, mungkin akan banyak problem- problem besar bangsa ini yang terpecahkan dan teratasi, karena diskusi dan orasi, seminar dan guyuran rohani, sidang DPR dan rapat- rapat menteri, yang menjejali media setiap hari tetap saja tak mengubah situasi. Mungkin saja dengan sandal jepit di kaki, sehari saja, jika ratusan juta manusia Indonesia merasakan sentuhan sandal, itu akan menyentuh hati nurani. Sehingga tanpa banyak penjelasan dan teori, tiap jiwa akan dengan cerdas memahami, bahwa carut marut hukum dan keadilan dimulai dari lubuk hati. Hati  para aparat, polisi, hakim, jaksa dan pimpinan KPK, termasuk juga seluruh warga negara yang  terlibat di dalam lingkaran hukum bersama. Tidak hanya saling tuding dan saling teriak semata ketika terjadi pelanggaran dan ketidakadilan.

 Lingkaran hukum menjadi lingkaran setan. Ketika mata dan telinga mengalami malfungsi mungkin sentuhan kaki dapat membangunkan hati, membuka akal sehat, menghidupkan nalar, menggedor kesadaran. Ruh sandal jepit. Maka sandal jepit akan jadi sejarah, symbol kebangkitan, bukan lagi A’al yang terjungkal dan terbelit, atau marjinal yang terjepit, namun sebuah bangsa yang handal dan manunggal, unggul di arena internasional, sembuh dari sakit dan terbebas dari hukum dan keadilan yang berbelit- belit. Sandal jepit, mari jadikan dia sebagai spirit…!!! ***

El Jeffry

No comments:

Post a Comment