Thursday, March 22, 2012

Alam Bersujud


“Bintang dan pepohonan, keduanya bersujud.“

     Matahari, bumi dan bulan bersujud.  Meteor dan gugusan galaksi bersujud. Awan-awan, burung-burung, gunung dan lautan bersujud. Virus, bakteri, binatang ternak dan melata, yang di darat laut dan udara, yang di dalam bumi, langit dan angkasa raya bersujud. Semua benda- benda, yang hidup dan yang mati, yang terkecil hingga yang terbesar, yang nampak dan yang tersembunyi, seluruhnya bersujud.

     Sujud adalah tunduk dan takluk. Sujud adalah ketaatan dan kepatuhan. Sujud adalah pembuktian kelemahan, kerendahan dan ketidak berdayaan. Sujud adalah keberserahan dalam kesadaran. Sujud adalah kecerdasan menangkap kebenaran.

    Alam bersujud. Tak ada yang tahu cara sujud mereka, sebagaimana tak ada yang tahu cara tasbih mereka dalam mensucikan dan memuji Tuhan, Pencipta, Tuan, Penghulu dan Pemelihara semesta. Mungkin memang tak harus tahu, sebab secuil akal yang ada di kepala tak akan mampu menjamah pengetahuan itu.

    Tapi yang pasti peristiwa terjadi, semesta bergerak, berputar, berjalan peristiwa- peristiwa dan kejadian dalam keteraturan dan tatanan.

 “Matahari dan bulan, terjadi dan bergerak di atas perhitungan.“  
Seluruh isi langit dan bumi tak berdaya melawan hukum alam, sujud kepada kebenaran, tunduk kepada perintah Tuhan, suka rela atau terpaksa, patuh pada kehendakNya.

     Tapi manusia begitu angkuh, kepala-kepala ditegakkan, dada dibusungkan, penuh kebanggan, kesombongan dan kepongahan. Alangkah bodohnya kepala, padahal beban itu sungguh berat bagi badan, namun begitu enggan untuk direndahkan. Isi kepala belum menyatu dengan isi hati. Akal tertidur atau mati suri. Keyakinan, iman tertinggal di ujung lidah, berhenti di lorong leher, macet lagi macet lagi.

Mereka yang beriman hanyalah mereka yang jika mendapat peringatan dengan bukti- bukti nyata segera tersungkur sujud merendahkan kepala di atas tanah dan mensucikan dengan memuji Tuhan dan mereka tidak menyombongkan diri.“

      Tapi manusia memang pandir. Wajah tersungkur, tapi isi kepala tetap berdiri, akal tertinggal, kesadaran terpental, sebab akal itu telah mati, isi kepala tak menyatu dengan isi hati. Tertinggal di ujung lidah, berhenti di lorong leher, macet lagi macet lagi. Keyakinan basa basi, hiasan bibir sekadar sensasi. Sujudnya alam tak cukup sebagai bukti, ketundukan alam tak cukup memberi inspirasi.

“Mereka yang beriman dalam kesadaran, dikenali pada wajah mereka bekas- bekas sujud...“

     Bukan hanya kepala yang tunduk dan tersungkur, namun isi kepala dan isi hati turut lebur, merendahkan diri tanpa takabur. Sujud menjadi energi  penggerak lidah dan anggota badan.

Sujud sejati adalah sebagaimana sujudnya alam semesta, tunduk dan menyerahnya isi kepala dan isi hati, taat dan patuhnya akal pikiran di atas kesadaran dan keyakinan, lalu ternyatakan dalam setiap gerak, ucapan, sikap dan perbuatan... ***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment