Saturday, June 2, 2012

RAYAP- RAYAP SETAN

Rayap-rayap semakin banyak dijumpai di sini, di rumah ini. Berkembang dan beranak pinak dari generasi ke generasi tak terkendali. Gigi- giginya tajam, buasnya nafsu makan, beroperasi siang dan malam. 


Menggerogoti pilar- pilar, tiang dan jendela, pintu dan dinding, perabot dan peralatan, dari lantai sampai atap, dari teras sampai beranda, dari ruang makan, ruang tamu, ruang tidur sampai ruang rapat keluarga. Tanpa disadari para penghuni, rumah besar bangsa sedang terancam.

Rayap- rayap terus beraksi diam- diam, sembunyi- sembunyi dalam sunyi, tanpa kegaduhan dan keributan, cerdik dan terkoordinasi rapi. Tanpa disadari keroposlah seluruh sendi, kunci- kunci pengikat antar bangunan, tinggal soal waktu semua akan terperangah, robohnya sebuah rumah besar, rumah bangsa.

Rayap- rayap setan, rayap berperilaku setan, setan berwujud rayap, memang mereka buta tak punya mata. Yang mereka punya hanya indera di kepala, mencium kayu, sedapnya aroma, makan sepuasnya. Memang rayap tercipta untuk merusak, memang setan tercipta untuk menghancurkan. Salah manusia kenapa ia dibiarkan tumbuh dan berkembang, lalai mengantisipasi ketika masih dini dan lengah mencegah meluasnya kerusakan.

Bangunan didirikan dengan tatanan dan aturan, jerih payah dan perjuagan panjang, tapi rayap- rayap membuat semuanya menjadi sia- sia. Manusia menjadi rayap. Rayap menjadi manusia. Manusia dan rayap sama saja. Jika sudah buta mata, rasa lapar menggelora, aroma kayu menggugah selera, ganas memakan apa saja, di mana saja, kapan saja, berapapun besarnya, sampai seisi rumah habis tak tersisa. Kerusakan, kerapuhan, kehancuran, kerugian bersama.

Rayap- rayap yang telah ber'evolusi' dan tersentuh  teknologi kini tumbuh semakin cerdas.  Mereka cerdas karena terbiasa makan bangku sekolah dan bangku kuliah. Mereka terlatih menjadi predator paling mematikan,  bergerak diam- diam, menggerogoti dari dalam, aksi tersembunyi dan simultan, muslihat rapi dan brilian.

Rayap- rayap berinteligensi tinggi, pintar dan jitu dalam strategi, mahir berkolaborasi dan berdiplomasi. Wajar, bangku sekolah adalah menu bernutrisi tinggi mencetak ketajaman otak. Semakin banyak mengkonsumsi bangku sekolah maka semakin tumbuh menjadi rayap varietas unggul, spesies pilihan, bukan lagi sembarang rayap. Rayap- rayap setan berpendidikan adalah monster paling menakutkan.

Mengapa rumah besar bangsa sampai tak terjaga dari serangan rayap- rayap setan ? Mengapa seisi rumah tak jeli mendeteksi ‘penggerogotan massal tersembunyi‘ tatanan aturan bangunan yang sudah memakan biaya tak terhingga, keringat, darah dan air mata para pendiri dan peletak fondasi ?  Mengapa tak juga tergerak untuk membasmi ‘musuh besar’ bersama menyelamatkan warisan sejarah dan peradaban berharga ?

Mungkinkah rayap- rayap setan telah berselingkuh dengan manusia, sehingga makin sulit dibedakan mana rayap, mana setan dan mana manusia? Mungkin inilah blunder rumah tangga, kesalahan bersama yang mestinya tidak terjadi. Tapi kesalahan bukan untuk disesali dan diratapi. Tapi mesti ditebus dan dibayar meski dengan  mahar besar. Memang tak ada pilihan untuk menyelamatkan rumah bangsa sebelum terlanjur ambruk dan berserakan menjadi puing- puing purbakala.


Rayap, setan dan manusia berasal dari tanah dan rumah yang sama, dari bumi yang sama.  Pilah dan pilih dengan seksama di antara rayap, setan dan manusia. Perlakukan dengan seadil- adilnya, tangani dengan kesungguhan dan kearifan, atasi dengan konsistensi dan ketegasan.  Jika sudah ditemukan, rayap- rayap itu harus dibasmi tanpa pilih kasih dan pandang bulu,  setan- setan harus diusir tanpa menunda- nunda waktu, lalu urusan rumah serahkan kepada manusia tanpa ragu- ragu.

Hanya manusialah  satu- satunya makhluk yang berhak dan mampu menanganinya, sebab hanya manusia yang bisa meletakkan fondasi, mendirikan, menjaga,  merawat dan merenovasi bangunan, membersihkannya dari kotoran, hama, penyakit dan seluruh gangguan keamanan dan kenyamanan.

Sekali lagi, hanya manusia, bukan rayap, bukan setan, bukan pula rayap- rayap setan...!!!

***

El Jeffry

No comments:

Post a Comment