Monday, October 15, 2012

Menggali Filosofi "Pohon Kesabaran sejati"


1350319793369752982
sumber photo: http://clubcurhatmuslimdanmuslimah.wordpress.com


    Sabar adalah satu kata yang paling populer di antara ribuan kosa kata nasehat yang pernah ada di seluruh dunia, sepanjang masa, yang pasti semenjak manusia mengenal bahasa sebagai media komunikasi antar sesama. Sebuah kata yang efektif untuk meredam masalah, resah dan gelisah, kesedihan dan keputusasaan ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah.

    Sabar adalah satu kata yang wajib disampaikan dan diucapkan di kala seseorang butuh dukungan, hiburan, kepedulian, empati maupun simpati antar manusia, terlebih di kala diri telah kehilangan kendali meredam amarah bergolak dan kekuatan menanggung beban hidup di pundak.

    Sabar adalah pusaka bertuah peredam keputusasaan dan perseteruan antar manusia. Benar. Sabar sebagai kata-kata memang benar, namun kebenaran sabar mulai diragukan ketika ia krontang di realita. Ia hanya renyah di lidah, mudah diucapkan, merdu didendangkan, sejuk didengarkan, indah dibayangkan, dan damai dipikirkan. Ringan di kata-kata, berat diperbuat. Mudah dalam niatan, sulit diejawantahkan.
        
     Seumpama pohon, maka karakter kesabaran akan menghasilkan buah yang manfaat ketika sang pohon tumbuh sempurna dan sehat. Ilmu pengetahuan adalah nutrisi hara yang dibutuhkan untuk hidupnya sang pohon, proses metabolismenya adalah pembelajaran, penyerapan melalui media air, lewat akar, pokok pohon, berlanjut ke dahan, lalu ke cabang, menyebar ke seluruh ranting dan berakhir di daun. 

     Daun menyerap pengetahuan tambahan dari sinar matahari untuk menyempurnakan proses fotosintesis, sehingga sempurnalah semua menghasilkan bunga dan melalui proses lanjutan penyerbukan akan berubah menjadi buah. Buah kesabaran yang bisa dirasakan kelezatannya oleh lidah. Ia terbentuk dari rangkaian proses panjang yang saling saling terkait dan berkesinambungan.

     Kesabaran tidak bisa diperoleh dengan proses instan, petik buah orang lalu makan. Itu adalah sabar imitasi, sabar akan hilang lagi begitu buah habis dimakan, sebab tidak memiliki pohon sendiri. Kesabaran dibuka dengan kesadaran dan pemahaman. Bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini berjalan diatas kaidah-kaidah tetap hukum alam yang bersifat kekal, sebagai sunatullah dhamma-karma yang abadi. Tak ada yang berubah dalam hukum-hukum, peristiwa dan pergerakan alam semesta. 

     Semua berjalan dalam ketetapan yang berlaku sampai akhir zaman sebagai takdir. Siapa yang melawan takdir hukum-hukum ini akan tersiksa, dan bahkan binasa. Yang haq tidak bisa dilawan yang bathil. Kebenaran tak bisa dikalahkan kebathilan.

     Hukum gravitasi menetapkan apapun yang ada di atas mutlak jatuh ke bawah. Jika hukum ini dilawan, maka jadilah ia memanggul beban. Sekarung beras yang di panggul. Tiang yang roboh. Durian yang menimpa kepala adalah contoh kecil bagaimana melawan hukum alam akan menjadi beban, bahkan  bisa berakhir kebinasaan jika beban itu lebih besar dari daya tahan. Kesaabaran adalah kecerdasan mengikuti aliran gerak proses alam.

     Sekarung beras dibawa  setimba demi setimba, akhirnya sekarung akan berpindah juga. Bertahap. Sabar adalah menyelesaikan segala hal secara bertahap. Sedikit sedikit lama-lama menjadi bukit. Sabar adalah pengendalian untuk tidak tergesa-gesa, ceroboh, terburu-buru, ingin cepat selesai tanpa melalui proses yang benar. Itu adalah tabiat nafsu, dan setan menyusup lewat celah ini, terburu-buru. Hanya kesabaran yang bisa menaklukkan siasat dan tipu muslihat setan.
    
      Telur ayam menetas dua puluh satu hari, tak kurang, tak lebih. Api bersifat membakar, air memadamkan. Kapasitas perut adalah sepiring nasi, dan mulut hanya bisa menelan sesuap. Bahkan untuk makan pun manusia butuh kesabaran. Bisakah sepiring nasi dimasukkan dalam sekali telan? Sabar terbuka dari pintu logika. Maka ia akan cepat tertangkap hati, membentuk keyakinan, tertuangkan dalam perbuatan, bukan hanya ucapan. Sabar diperoleh dengan perjuangan keras dan panjang, tak pernah berhenti pada satu titik.

     Begitu sulitnya proses pembelajaran kesabaran ini, sampai ada sepenggal kisah legendaris yang diabadikan dalam kitab suci Alqur’an. Seorang nabi besar Musa a.s. pun harus belajar dari seorang Khidr, manusia biasa yang menjadi ‘delegasi’ Tuhannya untuk  ‘menyadarkan’ sisi lemah dari hamba, termasuk pula nabi, ketika kesabaran hamba itu perlu penyempurnaan. Dan Musa as. pun gagal hadapi ujian itu, ketika tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya sepanjang perjalanan mengikuti Khidr, sesuai kesepakatan mereka berdua.

     Bagi umat Islam, Nabi Muhammad s.a.w. adalah barometer sempurna dari karakter sabar sempurna. Terlepas dari beliau sebagai seorang nabi yang terjaga dari salah dan dosa, tapi sebagai manusia tetap tak lepas dari hukum-hukum tetap, bahwa kesabaran adalah proses. Dua puluh tiga tahun ditempa dengan ujian berat, dan secara manusiawi kesabarannya juga sempat mengalami kegoyahan, diantaranya saat ditinggal oleh istri tercinta, Khadijah, dan paman yang selalu melindungi, Abi Thalib.

    Maka betapa banyak teguran, bimbingan dan arahan dari Allah Tuhannya untuk membentuk kesabaran dalam perjuangan beliau. Itulah simbol dan filosofi “pohon kesabaran sejati” yang tumbuh dari waktu ke waktu, peristiwa demi peristiwa, ujian demi ujian. Maka kokohlah pohon itu, tinggi menjulang, rindang dahannya rimbun daunnya dengan buah kebaikan yang melimpah ruah sepanjang masa.

     Kesuksesan sempurna dari pohon sempurna. Setidaknya kita bisa menjadi pohon-pohon kecil yang tertanam bernaung di bawahnya. Tidak harus sempurna, tapi cukup hanya berusaha mencontoh proses pertumbuhannya, sehingga kita juga bisa menghasilkan buah kesabaran yang bisa dinikmati sesama. Atau paling tidak untuk diri sendiri kita, menciptakan keteduhan di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin gersang dengan ragam sengketa dan kekerasan antar anak bangsa yang sampai hari ini tak kunjung reda. Semoga…***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment