Friday, March 16, 2012

Falsafah Tartil

      Tartil adalah perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa. Membaca dengan tartil adalah membaca dengan perlahan-lahan, mencermati setiap kata dari sebuah kalimat, menghadirkan hati, mengerahkan pikiran dan memusatkan perhatian pada setiap kata untuk mendapatkan pemahaman mendalam, meninggalkan ketergesa-gesaan dan tidak terobsesi pada akhir pekerjaan. 


“ …Dan bacalah Al Qur’an dengan perlahan- lahan…” ( QS Al Muzzammil : 4 )

     Tartil adalah cara cerdas meraih kesuksesan, tujuan akhir dari setiap pekerjaan, termasuk di dalamnya adalah membaca. Tujuan membaca adalah menangkap makna dari sebuah pesan. Dalam setiap surat dari Al Qur’an terkandung pesan yang memiliki karakteristik tertentu. Pemahaman sempurna dari sebuah pesan dalam satu surat hanya dapat diperoleh dari cara membaca perlahan-lahan, memahami makna kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga keseluruhan makna dalam satu surat. 


     Membaca tartil dalam arti lebih luas, untuk seluruh bacaan tidak sebatas Al Qur’an, adalah membaca dengan menjaga setiap hak dari bacaan, kejelasan kata, suara, panjang pendeknya, intonasinya, dan yang paling utama adalah hak makna yang terkandung di dalam. 


      Tartil adalah falsafah, prinsip dan kaidah. Bahwa hasil terbaik hanya bisa diperoleh dengan menjalani proses dengan sebaik-baiknya, dan sebuah hasil akhir terbentuk dari serangkai proses yang berlangsung bertahap, berurutan, berkaitan dan berkesinambungan saling mnyempurnakan. Tartil adalah kunci utama keberhasilan meraih tujuan dari seluruh aktivitas. Dan keberhasilan hanya diperoleh dari kecermatan, ketelitian dan kesungguhan menghadapi setiap detil dari proses panjang dari awal sampai akhir. 

      Tartil mengilhamkan manusia agar selalu waspada, konsentrasi dalam setiap situasi, tidak mengabaikan hal-hal kecil. Tartil mendidik pengendalian nafsu yang cenderung terburu-buru dan terobsesi pada akhir tujuan. Tartil mengajarkan bahwa kesabaran dan kesungguhan akan mengantarkan setiap pekerjaan pada kesempurnaan. 

       Tartil adalah jalan yang ditempuh oleh orang yang memiliki keluhuran misi, keluasan visi dan standar tinggi dalam suatu aksi. Mereka itulah kaum perfeksionis, pekerja sejati, tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun dari setiap detil, sebab kehilangan satu detil saja akan berakibat hilangnya kesempurnaan hasil akhir secara keseluruhan. Tartil adalah kunci utama pembuka pintu-pintu kemenangan, kesuksesan dan keberhasilan.


     Membaca adalah sebuah simbol aktivitas, pekerjaan, perbuatan dan perilaku. perilaku tartil akan mengantarkan seseorang kepada keberhasilan sempurna. Semakin tartil semakin sempurna. Dalam setiap tujuan ada proses yang harus dilalui sebagai sebuah keniscayaan, kaidah tetap dan prinsip baku yang berlaku dalam segenap aspek kehidupan. Perilaku tartil adalah pemahaman akan hal ini, bahwa hasil sempurna menuntut proses yang benar dari seluruh tahapan, rangkaian keterkaitan tak terpisahkan. 


      Layaknya sebuah kalimat, pekerjaan juga butuh perlakuan tartil. Setahap demi setahap, dengan kesungguhan, konsentrasi dan kesabaran, tak terjebak ketergesa-gesaan dan tidak terobsesi agar proses cepat selesai. Tabiat manusia memang tergesa- gesa, suka bercepat-cepat dan terburu-buru oleh dorongan nafsu. Itu adalah ujian, siapa yang mau bersabar akan meraih keberhasilan dan siapa yang tidak akan memperoleh kekecewaan. 


Godaan setan menyusup lewat nafsu dan ambisi, kecenderungan menyukai yang cepat, dekat dan singkat. padahal bila proses dijalani dengan serampangan, banyak hal-hal kecil terlewatkan, pasti akan berakhir kekecewaan, kesia- siaan dan kerugian. Setan memang selalu menjerumuskan manusia kedalam kegagalan dan kehancuran. Setan hanya bisa dicegah dengan kesabaran, kesadaran dan pemahaman bahwa hasil yang sempurna ditentukan oleh proses yang benar, dan proses yang benar harus dilakukan dengan perlahan- lahan, tartil.


      Sebuah pekerjaan ibarat proses mendirikan bangunan. Fondasi dibuat sebaik- baiknya. Satu persatu bata ditata, pasir dan semen dipadu merata, perlahan-lahan. Tiang ditegakkan, tembok didirikan, atap disiapkan. Kayu-kayu sebagai jendela dan pintu dipasangkan. Pasak dan paku ditancapkan untuk mengikat setiap rangkaian. Demikianlah seterusnya sampai pada waktu tertentu tercipta sebuah rumah sesuai dengan rencana. Itulah rangkaian tartil dalam penataan, perencanaan, manajemen, pengaturan dari sebuah pekerjaan besar.

     Istana tak bisa dibangun dalam semalam. Semua ada prosesnya, semua ada syarat-syarat yang tak bisa dilanggar jika ingin mendapatkan hasil optimal. Membangun rumah dengan tartil, perlahan-lahan, tahap demi tahap, akan memberi kepuasan pada akhirnya, tepat sesuai tujuan awal. 


   Hidup dengan tartil akan mengantarkan seseorang menjadi yang terbaik dan hasil terbaik. Itulah impian, harapan, keinginan, obsesi, tujuan dan cita-cita setiap manusia. 
Tartil pikiran, ucapan dan perilaku, dan tinggal menyambut waktu keberhasilan, kesuksesan, keberuntungan, kemenangan, kesempurnaan... *** 

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment