Tuesday, November 20, 2012

Pengecut dan Kambing Hitam


1353470483190183948
Sumber photo: http://luahanderita.blogspot.com/2011/01/kambing-hitam.html

     Pengecut dan kambing hitam adalah pasangan paling serasi dan sepadan bak dua sejoli yang tak terpisahkan. Memang sudah ditakdirkan, di mana pengecut berada, di situ kambing hitam  bermunculan. Mungkin karena bau si kambing memang kecut, atau mungkin juga pengecut tak ubahnya seperti kambing, tak bisa mengontrol mulut mengembik-embik, lalu menyelinap di hitamnya kegelapan malam, bersembunyi berlepas diri dari perbuatan. Apa salah si kambing sampai harus jadi korban, seseorang berbuat kesalahan, tapi menjadi tumbal keadaan? Sudah nasib kambing, mau apa lagi?

     Pengecut sebenarnya tak punya keberanian. Nyali ciut, kejantanan mempertahankan harga diri tercabut, martabat hanyut. Percuma berkoar sesumbar, sebab begitu masalah datang, sontak mundur teratur hendak kabur. Atau diam-diam bersembunyi ke belakang meja, sambil melemparkan batu sembunyi tangan. Si kambing hitam dihadirkan untuk mengelabui khalayak, bahwa si pengecut bukan yang berbuat. Seseorang yang semula berlagak gaya gagah perkasa, tiba-tiba berubah drastis, muka kecut begitu bahaya datang mengancam keberadaan atau keselamatan dirinya.

       Para pengecut kadang sulit ditebak, tapi yang pasti kentara adalah ketika masalah datang ia bergegas menghindar dengan segala cara. Sementara sebagai manusia butuh harga diri dan citra yang tak bisa ditanggalkan begitu saja, maka cara-cara kotorpun ditempuh. Alih-alih mengenakan topeng menutupi kelemahan, keburukan, kesalahan dan kegagalan, korban pun dicari sebagai tumbal, muncullah lakon si kambing hitam.

      Sayangnya, stok kambing hitam juga berlimpah di negeri ini. Bisa ditemukan kapan saja, di mana saja dan berapa saja. Banyak manusia berpotensi, berbakat alami dan terobsesi pada profesi kambing hitam. Ditambah lagi, orang-orang kecil, kaum marjinal-proletar-wong cilik tak berdaya yang kebetulan terjebak dalam arena sengketa selalu menjadi korban empuk, sasaran lemparan batu para pengecut, spesies manusia yang berani berbuat tapi enggan bertanggung jawab.
    
     Kambing hitam bisa diciptakan dengan ragam strategi dan rekayasa. Untuk seekor kambing hitam, segala cara, seberapapun harga, siap diinvestasikan. Apalagi bila si pengecut adalah orang penting berkuasa dan berharta yang tengah dihantam godam problema yang mengancam eksistensinya. Jika si kambing gagal dihadirkan, nasib si pengecut bisa berakhir tragis, hilangnya martabat, harga diri atau boleh jadi berujung di penjara. 

     Konon katanya, jiwa pengecut adalah jiwa pengkhianat bermental jahat yang gemar merusak kerukunan umat, pecandu maksiat penggerus tatanan nilai masyarakat, penebar fitnah sesat, pencidera amanat, peracun harkat dan martabat manusia terhormat. Perpecahan, kecurigaan, permusuhan, benih-benih kehancuran tatanan kekeluargaan, kebersamaan dan persaudaraan adalah buah dari simbiosis pengecut dan kambing hitam.

     Konon katanya, para pengecut adalah komunitas kemunafikan. Apa yang disampaikan di depan, tak selaras dengan yang diungkapkan di belakang. Lain di bibir, lain di hati, lain pula di tangan. Mencari aman, menghindari resiko. Mengejar kesuksesan, lari dari kegagalan. Penghargaan semu publik yang jadi ukuran dan tujuan, lalu rasa malu pun hilang. Mekanisme baku hukum alam, enggan mengakui aib,  bersegera cuci tangan, lempar batu sembunyi tangan, mencari kambing hitam. 

    Namanya juga al-munafiqun, ibarat penyakit kronis-akut menahun. Urusan mereka tak teratur, tak tertata dan tak tersusun berirama. Simpang siur, tumpang tindih, berpola acak miskin estetika. Kepengecutan dan kemunafikan tak pernah memiliki kekuatan, tak lebih seperti kayu rapuh yang tersandar di dahan. Dan kambing hitam hanyalah korban figuran konflik-perseteruan, tumbal pengkhianatan yang selalu harus berjatuhan ketika para pengecut berkeliaran di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Kambing hitam di ranah politik kekinian, kini telah menjelma dalam spesies domba. Perebutan kekuasaan, kompetisi elit politisi, parade pahlawan kesiangan, para pengecut yang terobsesi pada pamor kepemimpinan, menjadi parodi akbar demokrasi nir-keadaban dan norma susila. Eksodus domba-domba rakyat jelata ke arena politik ekstravaganza. Domba-domba bertemu saling beradu bak pasir dadu. 

       Amboi, aduhai, blaiiii negeriku. Negeri pengecut dan kambing hitam. Negeri elit kurcaca dan domba-domba kurcaci. Negeri parodi dan parade kenthir. Aroma kecut, hitam gelap dan nuansa gila, menu perpolitikan over dosis perisa cita rasa, sampai kapan kembali pada fitrah kelahirannya? Mungkin masih butuh waktu cukup lama, setidaknya jika pengecut dan kambing hitam perlahan semakin menghilang dari panggung kehidupan negara-bangsa Indonesia.

Salam...El Jeffry         

2 comments: