Friday, March 16, 2012

MENGGENGGAM BARA CAHAYA

     Ada suatu masa di mana nilai-nilai kebenaran seakan seonggok bara. Panas dan menyala. Siapa yang masih berpegang, maka rasa panas membakar telapak tangan. Pedih, perih tak terkira. Itu adalah ujian besar, akankah dilepaskan genggaman itu, hilangkan sara tersiksa dari telapak tangan, ataukah tetap bertahan, sabar dalam derita dan luka- luka. Roda zaman berputar. Siang dan malam saling mengisi. Cahaya dan kegelapan silih berganti. Kebenaran dan kebatilan menjadi siklus abadi, pasangan serasi namun berlainan sisi.

    Grafik peradaban kadang bagai busur panah. Bermula dari bawah, lalu meninggi, lalu menurun lagi kembali seperti semula. Gelap, terang, lalu gelap kembali. Kebenaran datang sebagai ‘orang asing’, dan suatu saat akan kembali ‘asing’. Awal kehadiran para Nabi dan ‘delegasi’ Tuhan selalu dituduh sebagai orang gila, aneh, anomali tradisi dan peradaban.

    Namun setelah masa- masa keemasan ajaran- ajarannya menyinari dunia, ada saatnya ajaran- ajaran itu kembali dicampakkan karena dianggap usang dan ketinggalan zaman. Orang- orang yang masih berpegang teguh padanya akan dikucilkan, terhimpit, tersisih dan arena kehidupan. Dari aneh kembali aneh. Dari asing kembali asing. Dari anomali kembali anomali.

    Ronggowarsito telah 'memprediksi' indikasi ini jauh-jauh hari, akan datang zaman edan, yang tidak ikut ‘mengedan’ tidak kebagian. Tapi jangan lupa, sehebat- hebatnya mereka yang ‘mengedan’, tetap lebih hebat orang yang waspada. Waspada adalah terjaga, menjaga dan selalu siaga dalam penjagaan. Orang yang terjaga akan selamat dari bencana di saat mereka yang lelap terlena tertidur dalam kenikmatan tergagap panik saat petaka datang tiba-tiba.

    Berpegang teguh pada nilai- nilai kebenaran di zaman edan memang seakan menggenggam bara. Tapi di balik panas pedih perih dalam derita, ada kenikmatan dan keindahan yang tak sanggup dirasakan oleh mereka yang enggan menggenggam bara. Sebab mereka sudah tak memiliki indera peraba dan telah mati rasa. Bagaimana bisa membedakan antara nikmat dan siksa?

    Yang tertidur tak punya kesadaran seperti orang yang terjaga. Mereka tak pernah membuka mata, bahwa dalam bara itu tersimpan cahaya. Bara cahaya kebenaran. Dia hanya berkenan hinggap di tangan- tangan yang teguh menggenggam.

    Eksotika dan cita rasa, upah nikmat yang hanya diberikan bagi mereka bersabar menghayati rasa panas, pedih dan perih dalam hidupnya. Genggamlah bara kebenaran itu betapapun sakitnya, sebab di dalamnya ada cahaya, dia yang akan mengeluarkan jiwa dari kegelapan dan menyelamatkan dari kebinasaan.

      Genggamlah, bertahanlah, bersabarlah, jangan pernah terlepas dari tangan.

" Sesungguhnya Allah bersama orang- orang yang sabar… " ***


El Jeffry

No comments:

Post a Comment