Friday, March 16, 2012

MANUSIA- RAYAP- SETAN



 ( Antara Konspirasi dan Tradisi )

Manusia, rayap dan setan berkonspirasi. Menebar wabah infeksi, tak perduli usia, strata dan kasta. Tak peduli motif, harta, wanita atau tahta. Tak peduli pangsa, miskin dlu’afa atau kaya. Penyakit menular, virus berbahaya, lebih ganas dari disentri dan kolera, lebih buas dari HIV-Aids, lebih merusak dari flu burung dan narkoba. “MANUSIA-RAYAP-SETAN“ adalah kombinasi sempurna antara rupa MANUSIA, pola makan RAYAP dan perilaku SETAN. Sungguh mengerikan.

Sebuah konspirasi dan juga tradisi, sebab wabah itu telah meluas, berkembang pesat dan menjamur selama bertahun- tahun, tumbuh subur, bercokol dan mengakar di seluruh sendi kehidupan tanpa bisa diatasi. Patah tumbuh hilang berganti. Gugur satu tumbuh seribu. “ Manusia-Rayap-Setan “ selalu hadir dan beranak pinak dari generasi ke generasi. Mereka telah 'sukses' membangun kroni dan tradisi. Warisan penyakit di sebuah negeri berbuah tragedi.

Mereka beroperasi diam- diam tanpa disadari. Mereka menyebar ke mana- mana, dari alam terbuka hingga instansi tertutup dan birokrasi. Menjarah hutan, pencurian kayu dan pembalakan liar hingga penggasakan brankas anggaran pambangunan, uang rakyat habis dilibas mulut- mulut buas yang ‘nggragas’ tak pernah puas, tak berbekas hingga kayu dan kertas terakhir tanpa ampas.

“ Manusia-Rayap-Setan “ terus bergerak menumpang kendaraan para pejabat dan politisi, aparat dan para priyayi, merayap-rayap dan mengendap-endap di bawah kursi, bersafari dan berdasi, bertameng lidah dalam berdiplomasi, tapi modus operandinya tak pernah berubah.

Ada aroma nikmat, santap dengan lahap hap hap hap...!
Berkumpul di gelap malam berpesta dan berdansa ca ca ca...!
Bersuka ria dan bernyanyi tri li li li...!
Berselebrasi dalam tawa ha ha ha ha... !
Mengusap taring sambil menyeringai hi hi hi hi...!

Sementara di luar sana, korban-korban lunglai tak berdaya meratapi rumah-rumah yang ambruk sebab tiang dan dindingnya telah lapuk. Bocah bocah kurus menangis menahan lapar sebab simpanan beras telah bablas. Anak-anak sekolah belajar di bermandi keringat terbakar matahari sebab dana renovasi gedung sekolah telah musnah.

Rayap-rayap kesetanan mendulang kenyang di atas penderitaan banyak orang. Merobek-robek kantong ‘raskin’ hingga jatah subsidi tak cukup lagi untuk si miskin, tercecer sana sini sepanjang perjalanan. Menggembosi dana BOS hingga ongkos pendidikan melambung tinggi. Memusnahkan berkas-berkas dan barang bukti pelaku korupsi hingga peradilan tak bergigi. Merusak kertas hukum dan konstitusi hingga gerbang kemerdekaan kembali terkunci .

Mereka melahap kertas-kertas lembaran keramat, petuah dan kitab-kitab suci hingga ajaran-ajaran dan norma-norma tak nampak lagi. Rayap-rayap tak jemu beraksi, tanpa basa basi, tanpa kompromi, tanpa rasa malu, rasa bersalah dan rasa berdosa, tanpa ‘sense of crysis’, 'tepo seliro', welas asih dan rasa kasih-sayang-cinta sesama. Memang itulah sifat mereka.

Bencana besar ! Bencana besar ! Bencana besar jika wabah itu tak segera dikendalikan.

Singsingkan lengan, kerahkan tenaga dan pikiran, satukan kekuatan, semua yang merasa belum terinfeksi virus " Manusia-Rayap-Setan " harus bersegera mengambil tindakan penyelamatan. Gemakan pembaharuan. Langkah nyata perubahan, perbaikan, pembenahan, pensucian, pencerahan 'ruh' penghuni 'rumah surga' nusantara.

Hancurkan koloni mereka sampai ke akar-akarnya, dalam tiap JIWA ANAK BANGSA, sampai rayap terakhir tak tersisa dalam dada manusia Indonesia. Jika tidak, mereka akan kembali hidup dan berkembang biak lagi seperti semula, tanpa disadari, tanpa disadari, tanpa disadari.

Dan jika itu yang terjadi, maka bersiaplah untuk menjadi korban berikutnya, menjadi mangsa, atau bergabung dalam kelompok spesies mereka !

“ Sesungguhnya Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu merubah nasibnya sendiri…” ***

El Jeffry

No comments:

Post a Comment