Tuesday, June 5, 2012

KUN FA YAKUN


Ketika Tuhan berfirman,”Kun!“-jadilah, “fa yakun.”-maka terjadilah, alam semesta tercipta, waktu berjalan, roda kehidupan berputar, peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian, perkara demi perkara, persoalan demi persoalan, serial panjang permasalahan. Hukum diberlakukan, ketetapan dan keputusan. Seluruh komponen semesta alam melakoni peran hingga batas yang telah ditentukan.

Ketika Fir’aun bertitah,”Bunu
h!“, bayi-bayi tak berdosa hidup-hidup dikuburkan, pesan disampaikan, perjuangan kemerdekaan melawan perbudakan, turunlah risalah kenabian. Pasukan prajurit berbaris-baris, perburuan besar, pengejaran Musa dan Bani Israil. Laut Merah terbelah, Sang raja besar tenggelam, hina dina dalam kebinasaan, terbebaslah manusia dari penindasan.

Ketika Muhammad bersabda,”Salam…”, kedamaian tersebar, kegelapan
memudar, cahaya memendar, perbudakan menghilang, keadilan ditegakkan, masyarakat madani terbentuk. Rangkaian proses panjang, perjalanan waktu berliku, estafet warisan peradaban, kasih sayang universal kemanusiaan, rahmat karunia bagi semesta alam.

Firman, titah, sabda
. Semua adalah kata. Alam semesta adalah firman, ayat-ayat Tuhan. Kata-kata menggerakkan peristiwa, mengukir ornamen sejarah bangsa-bangsa, memahat lembaran kisah, legenda, kabar, cerita dan berita. Meninggalkan jejak-jejak pengetahuan. Mengalir kontinyu di sungai waktu. Kesombongan pasti berakhir kebinasaan, kezaliman pasti akan tumbang, penindasan tiran pasti akan tersingkirkan. Kebenaran pasti akan tiba, kemenangan akan turun bersamanya.

Kata-kata adalah
potensi dan energi, kemampuan dan kekuatan. Jika ia berjalan di atas kebenaran dan kebaikan, pasti akan lahir kemenangan dan kedamaian. Namun jika ia berjalan di atas kesesatan dan keburukan, pasti akan berakhir kekalahan dan kerusakan.

Perkataan, suara, gambar dan tulisan, kekuatan penggerak peristiwa
dunia. Baik buruk hasilnya tergantung pada manusia. Kekuatannya adalah pada kebaikan dan kebenaran. Memang tak mudah menggabungkan keduanya. Kecuali bagi mereka yang telah menyelam ke lautan makna.


Kebenaran baru dikatakan benar, jika ia membawa kebaikan bagi manusia. Kebaikan baru dikatakan baik, jika ia berpijak di atas kebenaran. Jika kebenaran bertumbuh dari wilayah akal nalar di kepala, maka kebaikan bertumbuh dari akal budi di dalam hati. Keselarasan kepala dan hati, akan mengantarkan kata-kata pada kekuatan sejati. Kebaikan dalam kebenaran perkataan akan menyelamatkan manusia, untuk tidak mengulang sejarah hitam, zaman kegelapan, kehancuran bersama. 

Cukuplah perkataan, suara, tulisan, bahasa manusia untuk menyampaikan, mengubah sejarah dan peradaban. Menumbangkan penindasan dengan kearifan, menghindari gesekan dan benturan, meredam kerusakan dan kehancuran. Cukuplah dengan perkataan, selama masih ada pilihan, tak
tergesa dengan tangan dan kekuasaan, kekerasan dan pertarungan fisik-badan. Tak juga hanya diam, tanpa suara tanpa kata-kata. Kebisuan tak sanggup membawa perubahan dan mengubah keadaan. 

Penindasan, perampasan, pelanggaran hak-hak rakyat jelata, cukuplah sudah keadilan dipermainkan. Katakanlah, katakan saja sebisanya, sejujurnya, semampunya,
sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Jika salah arah, luruskan. Jika salah baca, ejakan. Jika salah niat, bersihkan. Jika salah bahasa, terjemahkan. Jika terlalu lemah, naikkan. Jika terlalu keras, rendahkan. Jika terlalu, jangan keterlaluan, sebaik-baik urusan adalah pertengahan.


Suarakan, suarakan saja, tak kurang
dan tak lebih. Pasti ada harapan akan terdengar. Jika tidak disuarakan, maka yang lupa akan tetap lupa, tak ada yang mengingatkan. Jika tidak disuarakan, lidah-lidah akan benar-benar menjadi kaku, bisu, dan tak bisa lagi berkata-kata, kebisuan yang sesungguhnya. Jika ada salah ungkap, kata-kata, suara-suara, gambar dan tulisan, terima kasih untuk memaafkan…***

Salam…
El Jeffry


No comments:

Post a Comment