Saturday, March 31, 2012

Ketika Semua Merasa Benar


     Isu rencana kenaikan BBM benar-benar menguras energi tubuh bangsa besar republik ini. Cucuran keringat dan jerit teriak massa di jalanan beradu dengan perang pendapat dan diplomasi fraksi- fraksi wakil rakyat di dalam gedung DPR.

     Pemerintah menyuguhkan bola api di lapangan negeri. Rencana kenaikan BBM. Alasannya pasti, demi perputaran roda ekonomi, dan demi kelangsungan pembangunan, demi rakyat.

     Rakyat yang dimotori mahasiswa berteriak lantang. Tolak rencana, sebab rakyat pasti akan jadi korban pertama. Unjuk rasa di mana-mana, hilangnya kenyamanan dan ketenangan, bentrok fisik, ricuh massa dan beberapa kerusakan. Demi rakyat, apapun harus dikorbankan, demi kebenaran, anarki jadi pembenaran.

      Aparat negara bertindak menjaga keamanan. Patuh pada perintah atasan dan sumpah jabatan, tindakan represif kadang tak terelakkan. Itu juga demi rakyat dan kebenaran.

     Wakil rakyat bersitegang dalam mengambil keputusan. Pertentangan, perdebatan, saat semua jalan buntu untuk mencari titik temu, sebagian undur diri dari ruang sidang. Atas nama hukum dan pertanggung jawaban rakyat, wujud dari kepedulian dan pengakuan kegagalan mengusung aspirasi, keniscayaan demokrasi, keputusan apapun harus dihargai. Lagi-lagi demi rakyat dan kebenaran.

    Semua bicara, bersikap dan berbuat atas nama perjuangan, kebenaran dan atas nama rakyat. Semua merasa benar. Tak ada yang mau disalahkan. Kebenaran beradu. Polemik, intrik dan konflik, berkecamuk dari detik ke detik. Pertanyaan abadi selalu mengusik.

     Haruskan kebenaran ketika beradu selalu memakan korban? Entah siapa yang menjadi korban, yang jelas fakta sejarah membuktikan, setiap kali kebenaran beradu di negeri ini, selalu memakan korban anak negeri, penghuni resmi rumah besar bangsa ini.
Tiadakah cara lain memperjuangkan rakyat dan kebenaran tanpa menimbulkan korban? Atau setidaknya menekan sekecil mungkin korban yang ada saatnya memang tak terhindarkan?

     Mungkin kita perlu rehat sejenak dari hiruk-pikuk yang tiada habisnya, sementara hasil akhir juga tak pernah ada hasilnya. Mungkin kita perlu istirahat sesaat, tinggalkan carut marut permasalahan yang tiada titik temunya.

     Kita semua kelelahan, kebingungan, kebimbangan, mungkin ada baiknya letakkan sejenak  semua beban. Duduk bersila mengheningkan cipta, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan, tenangkan pikiran, redakan amarah, kendalikan emosi. Diam membisu. Campakkan semua teori, buang semua aturan-aturan tekstual, lemparkan berkas-berkas rutinitas dan segala macam formalitas. Semedi, meditasi, tafakkur, khalwat atau uzlah, mengasingkan diri sesaat dari dunia kebendaan-materi.

     Kelelahan, kebingungan, kebimbangan tak akan mampu membawa kearifan dan kebijakan  solusi. Masalah BBM adalah lingkaran setan. Jalan apapun akan selalu berujung kesalahan. Dilema dan simalakama. Sebab ini hanya riak kecil yang nampak di balik gunung gelombang persoalan. Ini tak lebih dari pucuk-pucuk daun di balik pohon rindang permasalahan. Ini hanya anak- anak sungai sempalan dari sungai besar problema bangsa.

     Mungkin kita butuh ketenangan dan kekhusyu’an, kebeningan hati dan kejernihan pikiran. Mungkin kita perlu lagi mengadakan renungan, introspeksi, muhasabah. Olah pikir, olah batin dan olah rasa.

     Adakalanya akal dan logika tak mampu memecahkan poblem-problem dalam hidup kita. Adakalanya intelektualitas dan legalitas gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan. Adakalanya otot tak sanggup menyelesaikan pekerjaan. Adakalanya teori-teori, dalil-dalil, argumen-argumen dan hujjah-hujjah tak kuasa membongkar misteri dari teka-teki peristiwa.

     Adakalanya kita harus berserah, tapi bukan menyerah. Adakalanya kita harus jeda, tapi bukan berputus asa. Adakalanya kita harus mengendur, tapi bukan berlari mundur. Sekali saja kita mencoba, beri kesempatan pada hati untuk berbicara, bukan hanya lidah dan otak di kepala.

      Hati nurani, sanubari, qalbu-lubb,segumpal daging yang tersembunyi di dalam dada. Di sana masih tersimpan ‘golden key’, kunci emas jawaban atas ragam pintu permasalahan dalam kehidupan. Di sana tersimpan kebenaran dengan 'versi' berbeda dengan kebenaran ‘indera’ yang selama ini  kita ‘dewa-dewa’kan dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan.

      Kita adalah manusia beragama dan bertuhan. Jika terlalu berat untuk sepanjang hidup menyerahkan segala urusan kepadaNya, cobalah lakukan satu hari saja, kali ini saja, untuk urusan ini saja, tentang isu kenaikan harga BBM. Mungkin kita akan mendapat jawaban sederhana, mudah dan praktis mengurai misteriusnya lingkaran setan permasalahan yang ada.

    Berimanlah untuk satu hari saja, saat-saat ini, detik-detik ini, semoga setan yang sedang ‘usil’ menyembunyikan kunci rahasia dari teka-teki besar ini akan menyingkir walau sesaat, yang penting kita temukan kunci itu untuk segera membuka pintu besi permasalahan negeri yang telah menguras habis energi anak bangsa berhari- hari.

     Sejenak kita singkirkan persepsi kebenaran pribadi dan golongan. Sebab telah terbukti ketika semua merasa benar, permasalahan negeri ini tak keunjung teratasi. Semakin kita memaksakan kebenaran itu, semakin jauh pula panggang dari api. Mungkin inilah saatnya kita belajar tentang pentingnya kearifan dan kebijaksanaan dalam bepikir, bersikap dan bereaksi dalam menghadapi perkara-perkara bersama.

     Mungkin satu-satunya kebenaran yang layak diperjuangkan adalah ketika ia tidak membawa kerusakan dan kerugian serta memberikan bukti nyata nilai-nilai kebaikan, kemaslahatan umum dan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi rakyat kebanyakan.

Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. “ ( UUD 45 pasal 33 ayat 3 ) 

Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment