Wednesday, March 14, 2012

KETIKA MATA GAGAL MEMBACA




( Muhasabah untuk Ketajaman Hati )

Ketika mata gagal membaca
maka sebuah kata tak berarti apa-apa
tak lebih dari rangkaian simbol-simbol, tanda-tanda
kode-kode, huruf-huruf dan aksara-aksara hampa tanpa makna.

Ketika kata tak bermakna
Maka sebuah kalimat tak berarti apa-apa
Tak lebih dari rangkaian kata-kata panjang dengan titik
dan koma
titik dua, tanda seru atau tanda tanya
seperti kereta mati tanpa gerak tanpa suara.

Ketika kalimat tak bermakna
maka sebuah paragraf dalam tema tak berarti apa-apa
tak lebih dari rangkaian kalimat panjang bersaf tertata
sebagai hiasan halaman kertas
belaka
seperti bangunan tua tak berpenghuni
kosong dan sepi.

Dan ketika lembar halaman tak bermakna
maka kitab-kitab tebal dan mahal tak berarti apa-apa
tak lebih dari tumpukan kertas terjilid rapi
dengan sampul indah berwarna
-warni sebagai pengisi almari
pengisi
rak-rak buku, penambah beban tas sekolah dan meja guru
penghias masjid, gereja, kuil dan perpustakaan kampus
penanda tite
l, gelar, jabatan dan status sosial kaum intelektual
tapi hanya itu,
hanya sebatas itu.

Mata yang gagal membaca akan puas dengan kefasehan mengubah tulisan menjadi suara-suara,
namun gagal menyampaikan makna tersimpan di
balik huruf, kata, kalimat, paragraf dan kitab- kitab, rumah khazanah pengetahuan.

Sang mata hanya terpaku pada
lafazh pembungkus makna
kulit pembungkus isi, teks pembungkus konsep, simbol pembungkus hakiki
kode pembungkus arti
.

Ketika mata gagal membaca
maka sang jiwa hanya bisa melihat efek, namun tak pernah mencapai esensi.
Sampul selamanya tetap menutupi, sebelum jari membuka isi.
Jika asap yang terlihat, maka api kan terabaikan.
Jika teks yang terlihat, maka konsep tak kan datang.

Sepasang mata memandang tulisan, hanya alat penerima pesan
penerima makna
ada di baliknya, mata hati yang tersimpan dalam dada.
Mata hati
adalah budi pekerti, akal dan logika, penalaran dan pembandingan
fikiran dan kesadaran, ada dalam setiap jiwa manusia.

Transformasi pesan terjadi seperti dua titik yang terhubung oleh sebuah garis

satu titik
sang pengirim, dan titik lain si penerima
satu titik sang
penulis, titik lain si pembaca.
Dari pesan menuju tulisan, lalu ditangkap mata kepala
mata hati membuka diri, akal menerima dan mengolahnya.

Hakikat makna tak terbatas pada huruf-huruf dan kode-kode bahasa
ia ada dalam seluruh peristiwa
kombinasi ruang waktu, gerak roda kehidupan,
gerak diam alam semesta
mikrokosmos sampai makrokosmos, semua memuat makna.

Matahari,bumi,bulan, bintang, galaksi dan jagat raya
adalah simbol
-simbol, kode-kode dan tanda-tanda
sama dengan tulisan yang tertera di atas kertas baca.
Mereka adalah ayat-ayat, dalam bentuk gambar yang tertangkap mata kepala.

Daun-daun pepohonan, gunung, lautan
langit biru
, merah dan hitam, burung dan awan beterbangan
angin, debu dan asap tebal, panorama dan pemandangan
semua adalah lembar tulisan alam.

Perbincangan, nyanyian, gemericik
air di hulu
gemerincing
pedang beradu, desing peluru dan asap mesiu
perebutan harta dan kekuasaan
perseteruan antar manusia
, dinamika roda peradaban
prasasti sejarah jutaan makna, gambar hidup yang terbukukan.

Di balik gambar ada milyaran makna
kadar yang diterima satu jiwa tergantung dari ketajaman mata hati

kecerdasan akal, kejernihan nalar, kebeningan logika
kejeniusan fikiran dan kekuatan kesadaran
jiwa.

Jiwa manusia adalah gudang pengetahuan tak terhalang batasan.
Layaknya langit berlapis, derajat
jiwa bertingkat berlapis-lapis
dari manusia pertama sampai yang terakhir tercipta.

Buka mata kepala, baca, baca, baca,
eja demi eja
Buka mata hati, sadari, fikirkan, fahami
maka makna-makna akan dimengerti
.

Dari kemasan menuju isi

dari asap menuju api
dari lafazh menuju makna
dari simbolik menuju hakiki

dari efek menuju esensi
dari teks menuju konsep

dari kode menuju arti


Maka mata kepala
baru akan berguna
tak hanya menjadi pelengkap wajah semat
a


El Jeffry

No comments:

Post a Comment