Sunday, March 18, 2012

KETIKA MATA BERKHIANAT


     Ketika mata berkhianat, pintu pertahanan jiwa mulai terbuka. Syahwat menggeliat meminta pelepasan, mengajak indera dan organ dalam persekongkolan rencana jahat, hilanglah akal sehat, pudarlah keyakinan, runtuhlah keimanan. Bagai macan buas terlepas dari kandang, ia siap memangsa apa saja, menebar pukat dan jerat, memperkuat sindikat, semakin banyak pihak yang terlibat, perselingkuhan terencana menjalar semakin cepat.

     Ketika pertahanan jiwa telah terbuka, petaka lanjutan mulai berdatangan. Siphilis, raja singa, HIV/ AIDS menyebar dengan ganas, percekcokan rumah tangga, hilangnya rasa cinta, kesetiaan dan kepercayaan. Perceraian dimudah-mudahkan, penikahan tak lagi dianggap sakral, anak-anak kehilangan bimbingan dari orang tua, kebingungan harus berpihak pada siapa, awal yang buruk bagi pendidikan. Keretakan dan kehancuran hubungan orang tua akan berpengaruh buruk bagi kejiwaan anak sampai usia dewasa.

      Ketika perzinahan membudaya, transaksi cinta bermotif materi di atas kesenangan sesaat, prostitusi, pelecehan, pencabulan dan pemerkosaan. Pornografi dan pornoaksi memperparah keadaan, kerusakan norma- norma susila dan keagamaan.

     Praktek aborsi sembunyi-sembunyi, bayi-bayi merah terbuang di tempat sampah, bocah-bocah lahir tanpa ayah, hidup serumah tanpa nikah, perselingkuhan mewabah, kejatuhan martabat manusia, musibah di atas musibah.

     Semua bermula dari mata yang khianat, tak teguh menjaga amanat pandangan. Mata adalah ujian besar bagi manusia, ia akan menjadi nikmat jika di kendalikan untuk kebaikan dan maslahat, namun ia juga akan menjadi laknat jika dilayangkan di sembarang tempat dan maksiat.

      Mata yang khianat, pandangan yang khianat, pintu pertama dari kamar syahwat, panah setan yang tak pernah meleset, tepat dan akurat. Hanya ada satu cara mencegah dampak besar lanjutan bencananya, menundukkan pandangan, tidak tergoda oleh pandangan pertama.

    Yusuf a.s. telah mengajarkan sebuah pengalaman berharga ketika nyaris saja tergoda oleh Zulaikha andai Tuhan tidak menyelamatkannya, “Sesungguhnya nafsu senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat oleh Tuhanku.“  ***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment