Sunday, March 25, 2012

KAPITALISME, KONSUMERISME DAN INKONSISTENSI


"Dan di antara manusia ada yang berkata-kata tapi tidak sesuai dengan perilakunya."

“Kapitalisme adalah biang keladi dari lingkaran setan problem negeri ini...!!!“ Dengan lantang penuh keyakinan berorasi di tengah jalan, mengepal tangan kiri, toa di tangan kanan. “Wahai saudara-saudara, tegakkan kemerdekaan ! Kokohkan kemandirian ! Perangi  ketergantungan! Stop budaya konsumerisme, hancurkan kapitalisme, nyalakan patriotisme...!!!“

     Sementara atribut dan kesehariannya sudah menyatu dengan kapitalisme dan pola hidup konsumerisme. Baju yang dipakai buatan Paris, produk kapitalis. Celana jeans Amerika, produk kapitalis. Jam tangan Swiss, produk kapitalis. Sepatu buatan Italy, ikat pinggang merk Inggris, HP Finlandia, pena Jerman, dan toa Korea, semua produk kapitalis.

     Lalu pulang ke rumah naik kendaraan, motor atau mobil buatan Jepang, sampai di rumah bertumpuk perabotan dan perkakas rumah tangga, TV, komputer, mesin cuci, lemari es, lampu, seterika, senter, sabun mandi hingga sabun cuci, semuanya produk kapitalis. Barang- barang mewah dan pola hidup mewah. Kebiasaan. Tradisi. Pergaulan. Gaya. Sudah tak ada bedanya dengan mereka yang dituding sebagai musuh yang harus diperangi, kapitalisme.

    Apa hendak dikata? Memang begitulah adanya. Jiwa-jiwa memberontak, tapi tiada keselarasan antara hati, ucapan dan perbuatan. Inkonsistensi. Tidak istiqomah. Tetap saja tak mengubah apa-apa. Apa hendak dikata?

    Jika memang benar hendak menghancurkan kapitalisme, perangi itu dari diri sendiri dulu, buktikan bahwa musuh harus disingkirkan. Tanam kapas, tenun benang, sulam dengan tangan, lepaskan arloji, buang HP, pakai sandal bakyak, ikat sarung dengan pelepah pisang, lalu berteriak ke tengah jalan dengan suara lantang:

“Hancurkan kapitalisme, stop pola konsumerisme, lihatlah, telah ada teladan di depan Anda, sayalah orang pertama yang membuktikannya...!!!“

   Kapitalisme dan konsumerisme adalah pasangan sejoli sehidup-semati. Jika ingin menghancurkannya, bunuh salah satunya. Bunuh jiwa konsumerisme, kapitalisme musnah dengan sendirinya. Suburkan konsumerisme, kapitalisme tumbuh menjadi raksasa.

    Kapitalisme dan konsumerisme adalah tabiat jiwa. Semua manusia punya potensi menjadi kapitalis, dan juga sekaligus konsumeris. Tinggal bisa atau tidakkah jiwa  mengendalikannya agar tidak melampaui batas- batas kemanusiaan dan pelanggaran hak-hak sesama.

      Senjata jitu dan sederhana, cukup kesekerhanaan itu sendiri. Pola hidup sederhana lebih menyelamatkan nilai- nilai peradaban dan martabat kemanusiaan. Dan konsistensi jiwa jauh lebih membawa seseorang mencapai derajat kemuliaan yang  sesungguhnya sebagai manusia. 

Sesungguhnya bermegah-megahan telah melalaikan kamu wahai manusia, dan ia baru akan terhenti dan berakhir di liang kubur...“


Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment