Loading...

Laman

Jumat, 16 Maret 2012

Juara-Juara Lancung


     Pepatah berkata, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.“ Betapa mahalnya sebuah kepercayaan sampai-sampai harus ditanggung seumur hidup sekali saja ternodai. Tapi kini pepatah tinggal pepatah, hanya sepotong kalimat patah-patah dan tak lagi bertuah, benar-benar telah dipatahkan oleh godam keburukan tradisi zaman. 

     Cara-cara lancung makin dinikmati oleh para peserta ujian kehidupan diseluruh negeri. Itulah repotnya bila sesuatu sudah menjadi tradisi, karena semua sudah terbiasa, kelancungan dianggap sah-sah saja. Kelancungan mengiringi kelangsungan sejarah dari hari ka hari. Generasi lancung sambung menyambung menjadi rantai hitam berkarat yang terjalin kuat saling terhubung. Generasi lancung, muncullah sebuah pertanyaan abadi, kenapa harus terjadi ?

     Entah kenapa dan mulai kapan tradisi lancung ini muncul sudah tak jelas lagi, yang pasti juara- juara lancung terus bermunculan tak terbendung, kian hari kian menggunung. Praktek kelancungan bahkan tak lagi dilakukan dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tapi telah berani terang- terangan dan tanpa basa- basi. Di negeri lancung, kelancungan adalah hal biasa, yang tidak lancung justru menjadi luar biasa, pesertanya hanya terhitung jari, yang normal makin tersisih dan terpental dari arena percaturan hidup yang semakin brutal. 

    Kelancungan, kecurangan, keculasan, kelicikan dengan berbagai bentuk dan istilahnya yang marak di negeri ini adalah cermin dari kegagalan umat anak bangsa menjaga nilai- nilai kejujuran dan keadilan warisan suci para leluhur yang sebelum ini dijunjung tinggi sebagai bangsa berbudi pekerti. Selama materi menjadi tolok ukur dari kesuksesan dan hasil akhir menjadi target kemenangan, maka praktek-praktek kelancungan akan terus terjadi. 

    Orientasi kebendaan-duniawi adalah unsur hara utama yang menjaga pohon-pohon jiwa lancung di belantara manusia. Tabiat jiwa memang menyukai yang dekat dan lalai yang jauh. Sifat tergesa-gesa, terburu-buru, kemalasan  dan kecemasan berlebihan akan monster kegagalan dan kekalahan melengkapi pembenaran untuk manusia memilih jalan-jalan lancung dalam menggapai cita-cita. Jiwa lancung, manusia lancung, masyarakat lancung, bangsa lancung, tradisi dan budaya lancung. Peradaban lancung akhirnya menjadi keniscayaan.  

    Para pelancung telah lupa atau memang tidak menyadari, bahwa sebuah kesuksesan hanya bisa diraih dengan mengikuti proses yang benar, kesabaran, kesungguhan dan kerja keras. Bukan dengan cara-cara instan ala sulapan, jalan pintas dan potong kompas dengan melanggar nilai- nilai, norma, etika dan ajaran agama.

    Lembaga pendidikan adalah salah satu mata rantai utama dari lingkaran setan kelancungan berikut kelangsungan tradisinya di negeri ini. Lulusan sekolah dan sarjana-sarjana lancung tercipta ketika pendidikan bukan dipahami sebagai proses menuntut ilmu mencari pengetahuan sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan berikut ragam permasalahan yang siap menghadang di depan. Namun tercipta paradigma mengejar gelar dan titel formal, selembar ijazah seolah medali emas yang wajib direbut dengan segala cara. Kelancungan akhirnya menjadi pilihan utama. 

     Tradisi mencontek, skandal bocoran jawaban ujian nasional dan jual beli skripsi adalah contoh nyata bagaimana lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi ‘kawah candradimuka’ menggodok calon-calon pemimpin masa depan bangsa telah tercemar oleh polusi tradisi lancung. Tak pelak lagi, intelek-intelek lancung wajah baru bermunculan setiap tahun, menambah panjang daftar manusia lancung sementara para pelancung lama yang masih bercokol kuat di segenap lini kehidupan masyarakat. 

    Mereka lalu bermutasi dan berevolusi dalam dunia berikutnya, dunia profesi. Muncullah pelancung-pelancung profesional, pegawai, pejabat, pengusaha, artis, pengamen, wartawan, atlet, politisi, pengacara, diplomat, teolog, aparat, birokrat, dan berbagai profesi lain termasuk wakil rakyat dan para pemimpin yang tersebar di seluruh jajaran lembaga, badan dan instansi, para pelancung mengisi silih berganti. Bisa dibayangkan, bagaimana kelancungan bisa diharapkan membawa pembenahan dan perbaikan bagi kesejahteraan bangsa ? Negeri ini benar- benar telah menjadi surga bagi para pelancung sejati. 

    Pertandingan dan permainan lancung, betapapun brilian strateginya dan seberapapun hebat hasilnya tak akan pernah membawa kemenangan sejati. Para juara lancung hanya juara gadungan, pemenang imitasi, kesuksesan ilusi. Mereka hanya terobsesi pada untaian bunga dan kalungan medali, tepuk meriah, sanjungan dan puja-puji saat naik ke podium tinggi. Tapi, pepatah juga mengatakan, “ Sepandai- pandai menyimpan bangkai, bau busuk akan tercium jua. “ Serapi- rapi menyembunyikan kelancungan, pada saatnya akan terbongkar juga. Pada saatnya sepotang kalimat patah-patah ini akan benar-benar mematahkan hidup para pelancung.

     Bila aib kelancungan sudah terbuka, prestasi juara akan dianulir. Gelar dicopot. Sanksi diberlakukan. Denda ditimpakan. Hukuman dijatuhkan. Keputusan awal batal demi hukum. Yang bathil akan musnah oleh kebenaran. Sanjungan dan puja-puji berganti menjadi caci maki. Tepuk meriah berubah menjadi sumpah serapah. Kehormatan menjadi kehinaan. Habislah harga diri. Tak tersisa sedikitpun. Hidupnya defisit, kerugian besar diluar perkiraan. 

    Mereka hendak menipu kebenaran, tapi sesungguhnya mereka tengah menipu diri sendiri. Para penipu adalah yang tertipu. Hutang kelancungan yang akan ditebus dengan harga mahal. Bahkan mungkin mereka akan menghabiskan sisa-sisa hidup di balik jeruji penjara atau bisa saja, tiang gantungan, kursi listrik atau ruang eksekusi. Kehancuran dan kebinasaan dalam kehinaan.

     Jika sampai saat ini para pelancung masih dibiarkan melenggang dengan tenang dalam ketertipuan kelancungannya, itu hanya penundaan dan pemberian kesempatan untuk menghentikan kelancungan hidupnya. Namun jika terlambat, kelancungan itu akan ditebus di pintu kubur, saat sunyi senyap gelap pekat tiada seorangpun penolong, jasad terbenam di dalam tanah, tapi jiwa-jiwa lancung meratap panjang dalam penyesalan saat malaikat meminta pertanggung jawaban atas segala kelancungan yang pernah diperbuat selama hidupnya di dunia.

“ Maka barangsiapa memperbuat kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat ( balasan ) nya. Dan barangsiapa memperbuat kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat ( balasan ) nya ( pula )…” ( QS Al Zalzalah : 7-8 )...*** 

Salam...
El Jeffry

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar