Saturday, January 12, 2013

Hukum Tanpa Ruh: Wayang Tanpa Dalang



      Hukum dalam kehidupan dunia tak lebih dari sekumpulan tulisan yang tersusun sistematis dan terjilid rapi menjadi kitab tebal. Hukum tak lebih dari rangkaian bab-bab, pasal-pasal dan ayat-ayat yang menjelaskan dan menguraikan tata aturan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hukum tak lebih dari teks, tulisan, firman, sabda yang berisi perintah, larangan, batasan-batasan berikut konsekuensinya jika terjadi pelanggaran. 

      Hukum tak berarti apa-apa sebelum manusia membaca, menafsirkan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Hukum hanyalah sekadar simbol, alat dan media. Hukum adalah wayang, ia tak dapat bergerak, berbicara dan bertindak sebelum tangan dalang menyentuh dan memainkannya. 

      Hukum tanpa ruh tak berguna apa-apa, tiada daya ubah dan daya paksa. Manusialah sesungguhnya dalang di balik wayang hukum. Ruh wayang hukum berasal dari ruh dalang manusia. Ruh manusia mengalir lewat tangan, menghidupkan wayang hukum, memainkan peranan di alam nyata. Akankah dia menegakkan keadilan, membiarkan ketidakadilan atau justru menjadi sumber ketidakadilan, ruh dalang adalah aktorutama, hulu dari aliran arus sungai dan bermuara pada laku wayang hukum di muara kehidupan. 

      Wayang hukum bersifat netral, bebas dari keberpihakan antar kepentingan. Kitab hukum pidana atau  perdata, nota kesepakatan atau nota kesepahaman, konstitusi, deklarasi, resolusi, memorandum, undang-undang, peraturan-peraturan dan semua kitab hukum tertulis resmi hanyalah wayang. 

     Pada prinsipnya wayang-wayang diciptakan untuk kebaikan, manifestasi cinta dan kasih sayang sejati Sang Dalang. Asas wayang hukum adalah asas keadilan. Keadilan adalah keseimbangan, kesetaraan, keselarasan, kesejajaran dan penempatan segala urusan pada haknya. Keadilan adalah perimbangan kekuatan, penyetaraan hak dan kewajiban, penyelarasan pikiran, ucapan dan perbuatan, penyejajaran harkat dan martabat seluruh manusia di alam dunia. 

      Alat ukur sederhana keadilan hukum di dunia adalah tercegahnya pelanggaran dalam hubungan antara manusia dengan alam, antar manusia dengan sesama, dan antara manusia dengan jiwanya sendiri. Hukum adalah hukum, hakim, hikmah. Kesempurnaan hukum adalah kehakiman, hikmah kearif-bijaksanaan, dinding pembatas bagi perilaku menyimpang dan melampaui koridor batas-batas.   

      Manakala manusia sebagai dalang penentu sepak terjang wayang hukum gagal menjaga kesucian ruhnya, maka jiwanya membuka pintu setan untuk merasukinya. Sebab ruhul-quddus, ruh suci dalam diri manusiaadalah penjaga kehidupan yang juga butuh penjagaan. Maka ketika penjagaan itu hilang,  kosonglah dada sang dalang. Bisikan, lintasan dan was-was menyusup lewat ventilasi nafsu, mengaduk-aduk isi dada, mencemari kesucian ruh itu.

    Jika invasi setan telah berhasil menguasai jiwa, maka sang dalang kehilangan otoritasnya sebagai penguasa.Hukum kehilangan ruh. Dalang kehilangan ruh. Setan berubah posisi menjadi dalang, manusia menjadi anak wayang, dan hukum menjadi cucu wayang. Kejahatan mengalir dari tangan setan ke dalam dada manusia, lalu api kejahatan dalam dada merambat ke tangan manusia menggerakkan wayang hukum. Ruh suci hukum terganti oleh 'ruh' setan. Api membakar ruh suci, menghanguskan rumah keadilan dalam diri, lalu berkobar menjalar ke luar ketika ia memerankan wayang hukum dalam panggung kehidupan yang lebih luas dan lebih besar.

   Jadilah hukum sebagai tangan kanan setan, penyebar kejahatan, perusak tatanan, penindasan kaum lemah, pengkhianatan, penganiayaan, permusuhan, perampasan hak-hak, harkat dan martabat kemanusiaan. Kejahatan berlindung di balik payung hukum dan bersembunyi di balik wayang hukum. Payung hukum menjadi payung setan. Wayang hukum menjadi wayang setan. Keadilan hukum dibalik menjadi ketidakadilan. Kehakiman, kearifan dan kebijakan menjadi kezaliman, kebiadaban dan kebejadan.

     Hukum adalah wayang, dan manusia diplot berakting dalam dualisme peran, sebagai dalang bagi wayang hukum, sekaligus sebagai wayang dari Dalang Sang Hakim. Sebagai dalang, manusia punya mandat untuk mengambil keputusan dan pilihan sebagai delegasi resmi Sang Dalang Suci untuk memimpin bumi. Manusia mesti mewaspadai permainan politik setan, melindungi ruh suci dengan menutup rapat gerbang jiwa dalam penjagaan siang dan malam untuk selamat dari penyusupan balatentaranya. Sebab manusia bertanggung jawab penuh pada baik buruk perilaku wayang hukum di alam nyata.

       Tegak runtuhnya keadilan hukum tergantung dari keteguhan manusia, sang dalang. Dan tegak runtuhnya keadilan sang dalang tergantung dari keteguhan menjaga hati, sumber penggerak utama, tempat ruh  keadilan, amanat Yang Maha Kuasa. Dalang harus teguh berpegang pada pakem cerita baku ketetapan Pencipta skenario, Sang Dalang Sejati. Kebenaran harus dimenangkan. Kebaikan harus didaulatkan. Keadilan harus ditegakkan. Para niyaga menjadi saksi jika sang dalang salah tayang hanya menggelar tontonan namun menyimpang dari tuntunan. Para penonton dipinggir panggung menjadi bukti jika ‘aturan main’ pergelaran wayang terlanggar karena  kecerobohan sang dalang memainkan peran.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment