Monday, March 19, 2012

ELIT DAN ALIT

ELIT dan alit adalah saudara, lahir dari rahim yang sama. Kaum  ’elit’ adalah anak istimewa, khusus bil khusus, khawwas al khawwas, VVIP, eksklusif, bukan ‘kaum’ sembarangan. Sedang ‘ alit’ adalah anak kebanyakan, umum, kelas ekonomi, rakyat kecil, ‘budak leutik’, ‘wong cilik’, kelas rendahan, orang pinggiran, komunitas marjinal, kaum sembarangan yang terbuang dan terabaikan dari kancah kehidupan.

ELIT dan alit adalah saudara, tapi perbedaan nasib membuat keduanya terpisah saling berjauhan, tak lagi serumah, tak lagi saling berkunjung, tak lagi saling mengenal, bahkan tak jarang saling bermusuhan. Padahal SANG IBU yang melahirkan sudah jauh-jauh hari berpesan agar keduanya tetap bersatu sebagai keluarga. Sejauh apapun jarak memisahkan, tapi tali persaudaraan jangan sampai terputuskan.

SILATURAHIM, tali kasih sayang, tali pusar dari rahim SANG IBU, berapapun tali yang tumbuh dari asal yang satu tetaplah satu, tak boleh terputus oleh ruang dan waktu. Tak boleh termakan oleh zaman. Tak boleh rusak oleh perbedaan.

Tapi kenyataan berkata lain. ELIT dan alit tak lagi bersaudara. Status, kasta dan strata menjadi sumber pelanggaran petuah SANG IBU. ELIT merasa malu bertemu dengan alit, bahkan lupa diri, pesona materi dan kemilau duniawi mengubah wajah dan perilaku. ELIT kehilangan spirit  ‘rahim’ ibu.

Tingkah polah ELIT makin genit, ucapannya ‘nyelekit’, bikin panas kuping anak- anak alit. Alit makin pailit, perut lapar melilit, biaya hidup melangit, aneka problem membelit dan menggigit. Kepada siapa lagi minta pertolongan kalau bukan kepada saudara se’rahim’, ELIT ?

Tapi ELIT juga tengah terjangkit ‘penyakit krodit’, lihat saja sinyalnya sudah ‘tulalit’, bukan mengulurkan tangan, malah membawa hujan orasi dan retorika, diplomasi berbelit- belit, guyuran janji yang tidak kongkrit, segudang alibi dan argumentasi, lalu pura- pura buta dan pura- pura tuli, menghindari kerumunan alit, lari menjauh terbirit.

Malangnya nasib alit, orang kecil . Tak bisa berlepas diri dari hidup yang sulit, semua serba rumit, ruang gerak makin sempit. Sebab diam- diam di belakang sekelompok ELIT ‘saling berbisik’, berselingkuh untuk memperalat nasib alit, ternyata memang ELIT-lah dalang kesulitan hidup alit, mendulang kenyang di atas derita, seperti lalat-lalat jahat menari gembira di atas luka.

Dengan cerdik ELIT menjala sekarung ikan di rumah alit di tengah malam, lalu menyedekahkan  sepiring kecil rendang ikan matang esok harinya kepada alit, dengan senyum palsu dan keikhlasan semu. Menutupi jejak kecurangan permainan, bertingkah bak pahlawan penyelamat, curian berkedok subsidi, membangun ‘citra’ menebar pesona. Dengan polos alit bersuka cita atas ‘kemurahan hati’ ELIT, saudara lama. Sudah nasib orang bodoh menjadi korban orang pintar, dan memang pintar perancang skenario makar.

Alit, kecil, lemah, rendah, tetap tak berdaya terjebak dalam intrik keluarga, kemelut yang direkayasa elit. ELIT kian lupa dan ‘sakit’, SANG IBU akhirnya benar- benar sakit,  tersiksa oleh kegagalan mengasuh dan meng’harmonis’kan hubungan anak- anak dalam rumah tangga. SANG IBU hanya bisa berkata lirih,” Anak- anakku, sudahilah derita ibu, kembalilah menyatu dalam rahim tempat kalian semua terlahir dahulu...” ***

El Jeffry

No comments:

Post a Comment