Friday, March 16, 2012

DUDUK PERKARA DAN PAYUNG KEADILAN

       Duduk perkara. Duduk dalam menghadapi perkara. Mendudukkan perkara pada tempat yang yang benar dan dan menyikapi perkara dengan cara yang baik. Perkara, urusan, masalah, ragam problem kehidupan, adalah perihal yang tak pernah lepas dari setiap manusia, baik sendirian maupun bersama dalam sebuah kelompok atau kumpulan.

      Perkara, ia bisa menjadi besar atau kecil tergantung dari perlakuan dan penyikapan, ia bersifat relatif, ada ketergantungan banyak hal saling berkaitan di dalamnya. Perkara besar bisa menjadi kecil dan hilang tuntas manakala dihadapi dengan perlakuan bijak dan penyikapan yang benar. Sebaliknya, perkara kecil bisa menjadi besar dan perkara besar bahkan bisa menjadi buyar, tak terselesaikan dengan baik manakala dihadapi dengan perlakuan buruk dan penyikapan yang keliru.


     Perkara hampir menyerupai makhluk bernyawa, ia bisa dengan tiba- tiba berubah bentuk dan ukuran, bergerak-gerak ke sana ke mari, bahkan bisa berjalan dan berlari-lari sehingga lepas kendali, maka kadang perlu untuk ditangkap dan dijinakkan terlebih dahulu sebelum digelar. Perkara juga seperti api, semula hanya menyimpan potensi, tapi bisa dengan tiba-tiba menyala dan membesar dan bergolak membakar apa saja manakala ia disulut dan minyak disiramkan, dikipas-kipas dan dihembus-hembuskan ke udara. Polusi hasil pembakaran perkarapun bisa mencemari jernih dan sejuknya udara kenyamanan kebersamaan.


     Mengendalikan perkara tak ubahnya seperti mencocok hidung kerbau beringas, ia harus diikat kuat jika masih meronta, lalu didudukkan di atas meja, diletakkan tepat di tengah-tengah ruang terbuka agar semua mata bisa memandang lebih gamblang, melihat lebih cermat dan menelaah lebih terarah. Bila perlu, putar posisinya perlahan agar bisa dilihat dari seluruh sudut pandang, semakin banyak sisi yang terlihat maka akan semakin mudah di analisa dan diagnosa, mencari titik temu dari berbagai perselisihan karena pandangan yang berbeda. Penglihatan dari segala sisi dengan objek perkara tenang dan terkendali akan sangat membantu mempermudah menyusun data, bukti dan alasan akurat untuk mengambil keputusan akhir perkara.


     Ilustrasi perkara dalam gambar tiga dimensi, objek akan nampak jelas bagai lingkaran bola, kearifan memandang masalah tak hanya dari satu sisi, apalagi lebih sempit lagi, satu titik. Cara pandang satu titik inilah yang paling berpotensi menimbulkan intrik, polemik hingga konflik, sebab objek dalam ruang memiliki milyaran titik luar, dari situlah mata manusia memandang. Semakin besar jumlah mata yang memandang objek ini, semakin besar pula ukuran dan bobot suatu perkara.

      Jika tiap mata bersikukuh pada posisinya, tidak sesekali bergeser mencoba melihat dari titik lain, maka perbedaan yang terjadi berpotensi melahirkan perkara-perkara baru, terlepas perkara lama terselesaikan atau tidak. Bahkan tidak mustahil perkara yang baru muncul lebih besar dari perkara sebelumnya. Lalu perkara sesungguhnya akan lenyap tak terlihat sebab semua orang yang berperkara terjebak dalam intrik, polemik dan konflik berkepanjangan. Solusi buntu, keputusan gagal, inti perkara, objek sesungguhnya masih tetap tergeletak di atas meja. Dalam keputus asaan akhirnya perkara di kunci rapat dalam peti es, dimasukkan ke gudang penundaan, semakin berat beban hidup dengan perkara yang bertumpuk-tumpuk, deposit perkara dalam bank kehidupan kita.


     Duduk perkara. Jika perkara telah didudukkan dengan tenang, tinggal orang-orang yang mendudukkan juga harus duduk dengan tenang. Bukan berdiri atau berlari, sebab perkara akan semakin sulit di atasi, akan terjadi kejar mengejar antara perkara dengan orang–orang yang berperkara dan antara masing- masing orang yang berperkara satu sama lain, bahkan tak jarang justru perkaralah yang akhirnya mengejar orang yang berperkara. Perkara mengejar orang, orang di kejar- kejar perkara.

     Kadang menggelikan, tapi sering terjadi dalam kenyataan. Urusan jadi buyar, berputar-putar melingkar-lingkar. Kusut, semrawut, saling sikut, saling sulut, saling tuntut, akhirnya kalut, terjadilah kemelut, mana kepala mana buntut, seperti benang yang salah rajut, perkara tetap berlanjut, tanpa kesudahan, tanpa penyelesaian. Amarah dan emosi ambil kendali, objektivitas hilang, akal sehat tak berfungsi lagi, sumber utama timbulnya kekerasan dan kehancuran, karena gagal menempuh cara yang benar dalam menghadapi perkara.

     Piring terbang dalam rumah tangga, banting pintu di ruang kerja, lempar batu dalam tawuran antar warga, tembakan peluru di kerumunan pengunjuk rasa, ricuh antar pemain di lapangan sepak bola, hingga dentum meriam dalam perang dunia, ilustrasi nyata bahwa ketika manusia enggan menyelesaikan perkara sambil duduk akan selalu berakhir tragis dan buruk. Kehancuran majemuk.


    Dengan duduk hati menjadi tenang, kepala menjadi dingin, urat saraf rileks, otot- otot mengendur, amarah relatif teredam, emosi terkendali, akal sehat bekerja lebih optimal, modal utama menemukan jalan keluar yang lebih baik bagi kepentingan, kebutuhan dan keinginan bersama. Dengan duduk pikiran menjadi tajam, fokus dalam memandang, konsentrasi dalam menelaah suatu hal, energi memuncak, cerdas menemukan inti sari perkara, seberapa pun rumit dan besar ukuran maupun jumlahnya. Lalu akan lebih tepat mengambil kesimpulan, lebih bijak mengambil keputusan. Tarik ulur pihak- pihak yang berperkara akan mudah dikendalikan.

    Duduk perkara memang tak bisa lepas dari tarik ulur. Saling menarik, saling mengulur. Satu tangan menarik, lain tangan mengulur, yang satu menegang, yang lain mengendur, ibarat tali- temali yang berkait pada tiap tangan lalu tersimpul di tengah-tengah lingkaran, pusat perkara dan di meja perkara, semua berkeliling membentuk formasi lingkaran, tiap tangan duduk digaris luar.Tarik-ulur kepentingan, kebutuhan dan keinginan, ibarat payung, perkara adalah jari-jari, dan ujungnya adalah perkara semua orang yang terlibat, sebanyak itu pula perkara yang ada.
    
    Payung keadilan harus segera ditegakkan. Tarik ulur kepentingan, kebutuhan dan keinginan yang beragam antara pemimpin dan rakyat, antara rakyat dengan rakyat dan antara pemimpin dengan pemimpin tak kunjung terselesaikan dengan indah sebagaimana indahnya payung mengembang tegak sempurna. Tegaknya payung keadilan adalah ketika posisi payung berdiri tegak lurus sempurna, tidak miring ke kiri atau ke kanan, tidak condong ke depan atau ke belakang, formasi ideal, rapi, indah, rata, terpusat pada gagang payung, poros utama, tepat di pusat lingkaran.

      Gagang adalah simbol kepemimpinan. Ia mesti berdiri tegak di tengah, lentur dan luwes memainkan tarik ulur antar kekuatan anak bangsa. Tegaknya payung keadilan juga tergantung dari kontribusi tiap komponen kerangka payung, semua bekerja bersama, saling terkait dan saling menopang. Eloknya gerakan mengembang dan melipatnya payung adalah perpaduan gerakan bersama yang rampak dan berirama, di bawah komando dirigen, pemegang gagang payung.

     Jika salah satu jari payung rusak, maka berkuranglah kesempurnaan payung dan gerakannya secara keseluruhan. Satu dalam kebersamaan, bersama dalam kesatuan. Namun bagaimanapun gagang pegangan payung tetaplah menjadi poros utama yang sangat menentukan nasib sang payung, adakah ia tegak sempurna atau miring posisinya, adakah ia mengembang tinggi menjulang atau melipat tak berdaya.


    Siapa pemegang gagang yang berdiri di tengah adalah kesepakatan bersama, yang jelas dia harus yang terkuat dan terbaik diantara jari-jari payung yang ada, sebab gagang itu juga berasal dari jari- jari dan jari-jari adalah cikal bakal pengganti jika gagang itu telah lelah atau habis masa tugasnya, lalu gagangpun kembali manjadi jari. Rotasi, regenerasi dan mutasi.

      Payung bangsa adalah rangkaian dari jari-jari payung dua ratus juta lebih jiwa manusia Indonesia, semua punya kepentingan, kebutuhan dan keinginan, sekaligus potensi dan kewajiban untuk bergantian mengemban tugas sebagai gagang maupun jari-jari.
Gagang payung harus siap jika suatu saat kembali menjadi jari-jari, manakala gagal menjalankan fungsi sebagai poros, atau memang telah habis masa pakai.

      Dan kesiapan tiap jari untuk suatu saat mendapat amanat berdiri di tengah-tengah sebagai gagang juga harus ditempa jauh-jauh hari semenjak dini. Jari-jari mesti banyak belajar dari pengalaman bersama, tentu agar jika saatnya tiba mendapat amanat menempati poros benar-benar telah siap dan layak memegang payung bangsa, arif dan bijaksana merangkum perkara-perkara besar bersama, menyelesaikan masalah bangsa dengan lebih baik dan lebih benar, lentur dan luwes memainkan tarik ulur kekuatan.

     Mungkin payung keadilan kita sedang mengalami ujian, robek sana sini, tambal sulam, kadang mengembang kadang melipat, namun semua itu adalah pembelajaran sebuah bangsa menuju perbaikan ke arah kesempurnaan. Tak semestinya anak bangsa putus asa, selama payung itu masih ada, selama waktu masih tersedia, selalu ada harapan.

     Duduk perkara, mendudukkan perkara pada tempat semestinya, menyelesaikan perkara dengan duduk bersama, menyikapi tarik ulur antar kekuatan tangan-tangan tangan yang terlibat dalam perkara, di bawah payung keadilan, kesadaran rakyat dan kearifan pimpinan, maka pergelaran perkara akan selalu berkesudahan baik untuk semua pihak, semakin mematangkan kedewasaan dan mendewasakan kematangan bangsa.

    Duduk perkara di bawah payung keadilan. Kelak jika saatnya telah tiba, payung indah pasti mengembang dengan sempurna, mau dihias dengan motif dan desain apa sata tetap indah. Payung keadilan yang kuat akan menangkal gangguan alam luar, serangan iklim dan buruknya cuaca dunia global, tempat anak-anak bangsa bernaung di bawah perlindungannya dari terik matahari ancaman dan curah hujan serangan, apapun yang datang dari kekuatan asing dan dunia luar.

      Tegakkan payung keadilan, cita-cita bersama anak bangsa, menuju Indonesia Baru yang lebih baik…***Top of Form
Bottom of Form

Salam...
El Jeffry
Top of Form
Bottom of Form

No comments:

Post a Comment