Saturday, March 17, 2012

Bendera Setengah Tiang: Negara Setengah Matang





     Tiang telah dipancangkan, tali telah diikatkan, bendera telah dikibarkan. Tapi tali itu berat bukan kepalang, terkunci di tengah-tengah perjalanan, akhirnya berhasil naik juga, tapi sayang, hanya setengah tiang. Semua terdiam, berduka, tinggal sayup-sayup suara hymne Gugur Bunga menggema di lapangan upacara, tanah nusantara, bumi persada.


    Bendera setengah tiang. Merah putih masih berkibar siang dan malam. Tak ada yang menaikkan, tak ada yang menurunkan. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Simbol negara itu terabaikan. Waktu berlalu memakan kecerahan warnanya. Buram. Muram. Merahnya tak lagi semerah dulu, putihnya tak lagi seputih dulu. Kobaran api semangat perjuangan melawan penjajahan tak lagi berkobar. Sentuhan suci yang mengilhami kemerdekaan juga menghilang. Lembaran kain pusaka lusuh tertutup debu, bertahun-tahun, berubah menjadi merah hitam- kelabu. Seperti itukah kini wajah bangsa ?


     Bendera setengah tiang. Negara setengah matang. Perjalanan belum usai, tapi kenapa tak diteruskan? Naikkan sampai keujung tiang, agar terlihat gagah berkibar tinggi menjulang! Tuntaskan perjuangan, jangan setengah-setengah, sebab hari masih panjang! Masuklah ke tengah, jangan setengah-setengah, rapatkan barisan dan luruskan, sebab pasukan musuh masih garang menghadang di depan. Kumpulkan sisa- sisa tenaga, belum waktunya berputus asa, masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!


    Bendera setengah tiang. Negara setengah matang. Bendera dan negara adalah satu kesatuan. Simbol dan pesan. Pralambang dan keberadaan. Kematangan negara harus terus ditempa, dilebur di kawah candradimuka, para empu, resi, begawan dan kaum bijak bestari harus berhimpun untuk menyempurnakan proses pematangan ini. 


    Pilar-pilar itu masih terpecah-pecah, terbelah-belah, harus segera disatukan kembali. Satukan wilayah, jangan setengah-setengah, jika tidak, satu persatu akan berlepasan. Satukan rakyat, jangan setengah-setengah, jika tidak, satu persatu akan bertumbangan. Satukan kedaulatan pemerintah, jangan setengah- setengah, jika tidak, akan terjadi saling tikam, satu persatu berubah menjadi tiran.


      Satukan bendera, negara dan semua yang ada, jangan setengah-setengah, jika tidak, bangsa ini akan musnah, kalah dan kembali terjajah. Para penjajah tak pernah menyerah, mereka tetap akan mencari celah dan sabar menunggu saat-saat lengah. Bahkan tanpa disadari anak- anak negeri, mereka telah menyusup membaur dengan seisi rumah, sebab penjajahan itu sudah tabiat manusia, ia bisa hinggap pada siapa saja, asal ada kesempatan, sepak terjangnya pasti dimainkan.


      Manusia adalah makhluk penjajah, tak peduli saudara, teman, sahabat, kerabat, bahkan dalam satu keluarga, saling jajah pasti terjadi. Suami menjajah istri, ayah menjajah anak, teman menjajah kawan, sahabat menjajah kerabat, pejabat menjajah rakyat, atasan menjajah bawahan, penguasa menjajah yang dikuasai. Memang sudah tabiat, naluri dasar manusia sampai hari kiamat. Yang kuat selalu punya tabiat menjajah yang lemah, tinggal apakah ia punya niat dan ada sempat, penjajahan antar manusia pasti terjadi.


    Siapa yang salah? Mungkin semua salah. Penjajah dan terjajah sama-sama salah! Yang menjajah sudah jelas paling salah, tapi yang terjajah juga ikut andil salah, kenapa rela dijajah, kenapa memberi ruang dan celah untuk dijajah ? Kenapa tidak berjuang memberikan perlawanan merebut kemerdekaan, sebagaimana generasi pendahulu contohkan?


   Orang-orang lemah mestinya tidak berpecah pelah, rapatkan barisan dan luruskan, satukan kekuatan teraturkan, sehingga penjajah tak akan pernah bisa berbuat apa-apa. Bukankah kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan kejahatan yang terorganisir?


     Maka bersatulah, jangan berpecah belah, himpun kekuatan dan daya pertahanan, sisihkan perbedaan, kumpulkan kesamaan, senasib sepenanggungan. Satukan arah pada musuh bersama. Kemiskinan, kebodohan, kezaliman, kejahatan, kemungkaran, penindasan, pengkhianatan, tabiat-tabiat buruk yang telah menjajah jiwa bangsa hingga kehormatan dan harga diri terpuruk dan ambruk.


      Bendera setengah tiang. Negara setengah matang. Tujuan setengah jalan. Ikatan setengah kencang. Berjuang setengah kekuatan. Proses belum selesai. Pekerjaan belum usai. Tugas belum tunai. Berkumpullah ke tengah, jangan setengah-setengah. Satukan pemikiran ke pusat masalah, jangan terpecah-pecah. Padukan kekuatan ke dalam kebersamaan, jangan terbelah-belah. 


      Cukuplah sudah berduka bermuram durja belasungkawa. Cukuplah sudah termangu meratapi bendera setengah tiang. Cukuplah sudah terpaku menyesali negara setengah matang. Waktu masih panjang. Jalan masih membentang. Bersatulah seluruh anak bangsa di lapangan nusantara, kerahkanlah seluruh upaya agar bendera berkibar di ujung tiang tinggi menjulang, tanah persada bumi nusantara, Indonesia...!!! ***

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment