Sunday, March 18, 2012

Api Kesombongan

    Semula ia hanya setitik api kecil yang disematkan di dalam dada sebuah jiwa, api keheranan. Sang mata yang tak terjaga, memandang kepada diri sendiri di hadapan cermin kaca, lalu tiba-tiba angin pesona datang berhembus, membesarlah nyala api itu menjadi kekaguman. "Duhai siapa di depanku, inikah diriku?“ 



    ‘Sang mata’ terheran, terkesima, berdecak penuh ketakjuban, antara percaya dan tidak, ‘ujub. Keindahan, kebesaran, keunggulan, keutamaan, kekayaan, kekuasaan, angin pesona terus bertiup, bisikan syahwat menghembuskan pembenaran, “Memang inilah diriku...!!!“ Kebanggaan datang. Kepercayaan diri melampaui batas. Api berkobar, jiwa hangus terbakar keangkuhan dan kepongahan, wajah mendongak, tangan mengepal menepuk dada. 



    “Adakah Tuhan yang layak disembah selain ‘aku’?“ Puncak kesombongan seorang Fir'aun atas hak Tuhannya. Kekuasaan membuatnya menjadi buta.



    "Adakah 'aku' harus bersujud kepada Adam, sedangkan 'aku' tercipta dari api dan dia tercipta dari tanah?" Puncak kesombongan Iblis atas perintah Tuhannya. Kebanggaan diri membuatnya menjadi pembangkang nyata.



     Api kesombongan membakar akal sehat, menghanguskan kesadaran, bahwa sebuah jiwa semula tiada arti, hanya setetes ‘air hina’, lalu tiba-tiba berubah menjadi makhluk sempurna. Api kesombongan membakar ingatan, lupa sejarah penciptaan, lupa anugerah pemberian, lupa bahwa semua yang ada hanyalah titipan dan ujian.



   Api kesombongan membakar nilai-nilai kebaikan, menghapus pahala kebajikan, meng’anulir’ kemenangan perjuangan, membatalkan keuntungan 'perniagaan' hamba dengan Tuhan. Seperti api membakar kayu, seberapapun harta yang pernah tersimpan, semua hancur jadi debu, hilang tersapu angin, habis tak tersisa. Api kesombongan membakar tiket surga, membuang jerih payah kerja, kerugian sebesar-besarnya. 



    Api kesombongan menghancurkan ‘sang mata’, butalah ia, gelap gulita, tiada cahaya pembeda, benar salah sama saja. Api akan berkumpul bersama api, neraka, azab siksa panas dan derita.



     Api kesombongan yang berkobar semula berasal dari api kecil keheranan dan pesona, jika ia dikendalikan dengan benar, maka mestinya yang hangus musnah adalah 'keakuannya', membawa kepada ketundukan akan kebesaran, kebaikan, keindahan dan kekuasaan Tuhan. Tapi jika ia dikendalikan dengan keliru, yang muncul justru 'keakuan', kebanggaan diri, bahkan Tuhanpun akan hangus musnah dari pandangan.



    Di balik api kecil ada anugerah dan ujian besar, bila ia terjaga dan di arahkan untuk membakar keakuan dan selainNya, maka yang tersisa hanya Yang Satu, Sang Pemberi dan Pencipta api, sumber pesona cahaya sejati. 



     Tapi jika ia tak terjaga dan membakar segalanya, maka 'sang mata' jiwa hanya akan melihat ‘keakuan’, ego, diri. Membawa kebutaan abadi, pelap pekat tanpa cahaya, tersesat sejauh-jauhnya. Tersiksa dalam lembah neraka, tempat berkumpul api dari segala api ujian yang gagal terjaga...***



Salam...

El Jeffry

No comments:

Post a Comment