Monday, March 19, 2012

Api Kebencian



      Kebencian adalah setitik api kecil yang tersemat di dalam dada. Seperti api- api lain, api cinta, api amarah dan api kesombongan, maka api kebencian adalah juga salah satu dari ujian besar bagi manusia. Ia harus dijaga, dikendalikan dan diarahkan pada haknya. Naluri manusia memang membenci keburukan. Maka jika api yang ada dinyalakan dan diarahkan untuk membakar keburukan dalam makna segala sifat dan perilaku, maka jadilah api itu sebagai kebaikan bagi jiwa.

     Bakarlah api kebencian untuk menghancurkan kejahatan, kemungkaran, kemaksiatan, sebab jika tidak, justru mereka yang akan menguasai jiwa. Ketika tangan dan lisan sudah tak mampu mencegah kemungkaran, maka kebencian padanya akan menyelamatkan jiwa, benteng pertahanan terakhir hati untuk tetap menjaga iman akan Tuhan dan kebenaran. Andai api kebencian itu tak menyala, sedang kemungkaran terjadi di depan mata, maka hilanglah Tuhan dan kebenaran dari dalam dada, jiwa sudah terseret masuk ke dalam kelompok mereka.

      Api kecil kebencian juga bisa menyala menjadi iri, rasa tidak nyaman melihat kebaikan pada diri orang, syahwatlah yang menggoda untuk mendapatkan hal yang sama, kebaikan itu. Terbakarlah keimanan akan ketetapan Tuhan, sebab ada rasa tidak rela, setitik kebencian terhadap apa yang ditetapkan untuk dirinya, seakan menuntut terhadap apa yang di karuniakan kepada orang lain. Api ini hanya membawa kebaikan bila diarahkan untuk kebaikan pula. Tapi bila diarahkan hanya menuruti syahwat dan dorongan nafsu semata, maka keburukanlah yang menimpa, sebab syahwat tak bisa membedakan benar- salah.

      Api kebencian yang lebih berbahaya adalah dengki, membenci kebaikan, keutamaan dan karunia yang di dapat orang lain seraya berharap agar semua itu hilang darinya. Api dengki membakar cinta, kasih sayang dan persaudaraan di antara manusia. Api dengki juga membakar kebaikan dalam jiwa, menghanguskan keimanan, kejahatan tersembunyi, cikal bakal munculnya permusuhan antar manusia. Lalu jika ia dibiarkan terus menyala akan membesar menjadi dendam.

     Ketika jiwa sudah terbakar dendam, alamat bencana besar sudah menyerang. Hilanglah ketenangan, hawa panas menyiksa dada, balatentara setan segera berkuasa, kebencian menggumpal menggunung, butuh pelampiasan, kesumat tak tertahan akan meledak- ledak, musuh harus dihancurkan. Perilaku tak lagi berpijak pada kebenaran, api amarah ikut memperbesar nyala berkobar, tiba- tiba jiwa sudah terseret jauh dalam kehancuran. 

    Api kecil kebencian, ujian besar bagi jiwa manusia. Jika ia terjaga, terkendali dan terarah untuk kebaikan, jadilah ia kebaikan bagi jiwa. Tapi jika ia tak terjaga, tak terkendali berkobar menjadi dengki dan dendam, jadilah ia keburukan bagi jiwa, kehancuran dalam derita dan siksa neraka... ***

Salam...
El Jeffry



No comments:

Post a Comment