Friday, March 16, 2012

AMNESIA DAN PHOBIA

    Amnesia dan phobia adalah dua penyakit kejiwaan yang ditakuti banyak manusia. Keduanya secara ekstrem berada di dua kutub yang berseberangan, menyerang ingatan, merusak stabilitas memori otak dan mengganggu pikiran. Bedanya jika amnesia  merusak daya ingat tapi menjaga daya lupa, sedang phobia  justru merusak daya lupa tapi menjaga daya ingat.Penderita amnesia terganggu dengan lupa pada masa lalu dari hidupnya, sedang penderita phobia justru terganggu ingatan memori negatif, kejadian buruk di masa lalu sehingga kerap dihantui ketakutan jika berhadapan dengan hal serupa sepanjang hidupnya.


   Dengan kecerdasan jiwa, keburukan yang ada pada kedua penyakit ini bisa diubah menjadi kebaikan, hanya dengan pertukaran posisi dan pengendalian arah, mana yang harus ‘diamnesiakan’ dan mana yang harus ‘diphobiakan’. Mustahilkah ?


    Bayangkan, jika amnesia bisa dikendalikan dan diarahkan hanya untuk hal- hal negatif berkenaan dengan luputnya dan keinginan di masa lalu, maka segala kesalahan, kekalahan dan kegagalan tentu tak akan berimbas kekecewaan dan kesedihan berlarut- larut. Lupakan masa lalu, hidup riang tanpa beban, tak ada gangguan pikiran sehingga hari- hari penuh ketenangan. 

    Perbuatan baik jika ‘diamnesiakan’ akan mencegah tumbuhnya benih- benih kebanggaan, kesombongan, sikap sok pahlawan. Jiwa justru terpacu untuk berbuat lebih baik lagi karena dirinya merasa belum seberapa dalam hal kebaikan, bahkan mungkin merasa belum berbuat apa- apa. Munculnya jiwa sok- sok dan berlagak adalah ketika seseorang merasa telah berbuat baik dan paling berjasa dan hanya itu yang selalu teringat di kepala, padahal bisa jadi itu belum seberapa, hanya prasangka berlebihan terhadap diri sendiri saja. 




    Amnesia juga bisa diarahkan untuk menghapus memori keburukan orang, perlakuan menyakitkan, perbuatan menyinggung atau menjengkelkan, maka betapa indahnya hubungan persahabatan dan persaudaraan. Sebesar apapun kesalahan orang tak berbekas sedikitpun dalam memori, tak perlu menunggu orang menghiba meminta maaf untuk sebuah kesalahan. Tak ada lagi benci dan dendam, atau ucapan, “ Tiada maaf bagimu ! “, sebesar apapun kesalahan orang. Kecerdasan ‘mengamnesiakan’  keburukan orang membuat jiwa berlapang dada, pemaaf dan toleran terhadap sesama.
 

    Sedang phobia yang diarahkan terhadap akibat buruk dari kesalahan sikap dan keburukan perbuatan di masa lalu, akan menjadi benteng kokoh mencegah dari kesalahan serupa, sebab selalu teringat akibat buruk bakal menimpa. Rasa takut yang ditempatkan pada posisi yang tepat akan membawa kebaikan. 


    Phobia terhadap dampak buruk dari pelanggaran, penyelewengan, penyimpangan, pengkhianatan dan segala bentuk kejahatan sangat membantu sesorang untuk tetap berada di rel yang benar, di jalan kebaikan, anti kejahatan. Hanya jiwa- jiwa cerdas yang pintar ‘mem-phobia kan’ dampak buruk dari kejahatan perilaku dengan segala bentuknya. Rasa takut dosa dan bayangan neraka begitu jelas di depan mata seorang hamba yang cerdas ketika terbersit pikiran dari bisikan setan untuk melanggar larangan Tuhannya. Budak cerdas selalu was- was akan murka tuannya.


    Demikianlah, amnesia dan phobia, di balik sisi negatif sebagai penyakit dan momok menakutkan kebanyakan orang ternyata tersimpan khazanah bernilai tinggi, inspirasi dan sumber energi yang tiada tara bagi mereka yang cerdas memanajemen pikiran, sikap dan perilaku. Jiwa cerdas mampu mengolah limbah menjadi berkah, membalik penyakit menjadi spirit, menganalisis krisis menjadi eksis, mentransformasi keburukan menjadi kebaikan. 


    Amnesia dan phobia ternyata hanya sebagian dari tabiat yang ada dalam setiap jiwa manusia, jika salah menempatkannya, keduanya membawa siksa, derita dan petaka, tapi jika cerdas mengendalikannya, keduanya membawa nikmat, bahagia dan karunia…***

Salam...
El Jeffry 

No comments:

Post a Comment